Gerakan Pangan Murah di Kupang, Dinas Pertanian NTT dan Bulog Pastikan Stok Aman Jelang Idul Fitri

Kupang, Mutiara-Timur.com — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT berkolaborasi dengan Perum Bulog menggelar Gerakan Pangan Murah di Kota Kupang, Rabu (11/3/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas harga serta memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joas Bily Oemboe Wanda, SP, mengatakan gerakan ini merupakan bagian dari program pemerintah untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau sekaligus memastikan stok pangan di wilayah NTT dalam kondisi aman.

“Gerakan pangan murah ini merupakan salah satu program pemerintah untuk hadir di tengah masyarakat. Selain membantu masyarakat mendapatkan harga yang lebih terjangkau, kegiatan ini juga untuk memastikan bahwa stok pangan di NTT aman,” ujar Joas Bily Oemboe Wanda kepada media di Kota Kupang.

Menurutnya, kegiatan tersebut dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia dan di Kota Kupang sendiri digelar di empat titik lokasi. Program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Bulog, Badan Pangan Nasional, serta TVRI NTT.

Dalam kegiatan tersebut tersedia berbagai kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan masyarakat, seperti beras, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, cabai, tomat, serta sejumlah komoditas pangan lainnya.

Joas menjelaskan, stok yang disediakan cukup besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk beras premium misalnya disiapkan hampir satu ton, sementara minyak goreng mencapai sekitar dua ribu liter. Selain itu tersedia pula beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sekitar enam ton yang bahkan langsung habis terjual oleh masyarakat.

“Selisih harga dengan harga pasar cukup besar sehingga masyarakat bisa membeli dengan harga lebih murah. Contohnya beras SPHP kemasan lima kilogram dijual sekitar Rp58.000. Jika dihitung per kilogram sekitar Rp12.000 sampai Rp13.000, sementara di pasaran bisa mencapai Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar berbelanja secara bijak sehingga semua warga yang datang dapat memperoleh kebutuhan pangan dengan adil.

“Kami berharap masyarakat arif dan bijaksana dalam membeli, supaya jangan semuanya diambil. Berikan kesempatan juga kepada masyarakat lain karena kegiatan ini dilakukan di beberapa titik,” tambahnya.

Lebih lanjut, Joas menegaskan bahwa sebagian besar produk yang dijual dalam gerakan pangan murah tersebut merupakan produk lokal NTT, termasuk beras yang berasal dari petani lokal yang diserap oleh Bulog dan kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat melalui program SPHP.

Program ini tidak hanya bertujuan menekan harga pangan, tetapi juga membantu para petani lokal agar hasil produksi mereka dapat terserap dengan baik di pasar.

“Kegiatan ini juga membantu para petani kita, karena beras yang dijual merupakan beras lokal yang diserap Bulog dari petani NTT. Jadi petani terbantu dan masyarakat juga mendapatkan harga yang lebih terjangkau,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, khususnya Menteri Pertanian, Kepala Badan Pangan Nasional, serta Gubernur NTT, yang terus mendukung program stabilisasi pangan di daerah.

Ia menegaskan, kegiatan serupa akan terus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, Bulog, Badan Pangan Nasional, dan dinas terkait lainnya guna menjaga stabilitas harga serta memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses pangan yang terjangkau.

“Kami akan terus melakukan kegiatan seperti ini melalui kolaborasi dengan berbagai pihak sebagai bukti bahwa pemerintah hadir di tengah masyarakat,” pungkasnya. **go



Iklan

Iklan