Kupang – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademis (TKA) bagi siswa kelas XII di SMKN 2 Kupang pada November 2025 berjalan lancar dan menghasilkan capaian yang cukup membanggakan. Dari ratusan peserta yang mengikuti ujian nasional berbasis kompetensi tersebut, rata-rata siswa berhasil meraih kategori memuaskan, bahkan satu siswa mencatatkan prestasi kategori istimewa pada mata pelajaran pilihan Bahasa Jerman.
Hal tersebut disampaikan Plt. Kepala Sekolah SMKN 2 Kupang, Yohanis Kalvin Lomi, S.Pd, saat memberikan keterangan Jumat, (6/3/2026) mengenai hasil pelaksanaan TKA di sekolah tersebut.
Menurut Yohanis, dari total 609 siswa kelas XII yang tercatat dalam Dapodik, sebanyak 553 siswa mengikuti TKA. Meskipun persiapan yang dimiliki siswa sangat singkat, hasil yang dicapai tetap menunjukkan kualitas yang cukup baik.
“Secara umum pelaksanaan TKA berjalan dengan baik. Anak-anak mengikuti dengan semangat walaupun waktu persiapan hanya sekitar satu minggu karena sebelumnya mereka masih menjalani praktik kerja lapangan,” jelasnya.
Yohanis menjelaskan, para siswa baru ditarik kembali dari lokasi PKL pada 21 Oktober 2025 untuk mempersiapkan diri menghadapi TKA di awal November. Dengan waktu yang terbatas tersebut, pihak sekolah tidak sempat memberikan bimbingan intensif secara khusus.
Namun, para siswa mampu belajar secara mandiri dan tetap menunjukkan capaian yang baik. Bahkan salah satu siswa berhasil meraih nilai sangat tinggi pada mata pelajaran Bahasa Jerman hingga masuk kategori istimewa.
“Ini menunjukkan anak-anak mampu mempersiapkan diri secara mandiri. Walaupun tidak ada bimbingan khusus karena waktu yang terbatas, mereka tetap mendapatkan hasil yang membanggakan,” ujarnya.
Hasil TKA juga menjadi salah satu dasar seleksi bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Berdasarkan kuota sekolah, SMKN 2 Kupang mendapatkan jatah 40 persen siswa eligible dari total peserta didik.
Dari 609 siswa, sekolah memperoleh kuota 268 siswa eligible. Dari jumlah tersebut, 180 siswa memanfaatkan kesempatan untuk mendaftar dan memilih jurusan di perguruan tinggi.
“Artinya sekitar 73 persen siswa memilih melanjutkan studi ke perguruan tinggi,” kata Yohanis.
Meski hasil TKA tergolong memuaskan, Yohanis tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih dihadapi, terutama terkait kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Ia mengakui secara umum masih terdapat siswa yang kemampuan literasi dan numerasinya berada di bawah standar. Namun dalam pelaksanaan TKA, capaian yang ditunjukkan siswa cukup menggembirakan.
“Memang secara real di kelas ada anak-anak yang literasi dan numerasinya masih di bawah batas normal, tetapi dalam TKA mereka tetap menunjukkan hasil yang baik,” jelasnya.
Belajar dari pengalaman TKA perdana ini, pihak sekolah telah menyiapkan skema baru untuk meningkatkan kesiapan siswa menghadapi TKA tahun berikutnya.
Salah satu strategi yang disiapkan adalah mempercepat jadwal Praktik Kerja Lapangan (PKL) agar siswa memiliki waktu lebih panjang untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti TKA.
“Ke depan kami ingin anak-anak sudah kembali ke sekolah pada minggu pertama Oktober sehingga punya waktu cukup untuk persiapan TKA,” ungkap Yohanis.
Selain itu, sekolah juga mempertimbangkan opsi lain, yakni memusatkan penguatan akademik pada semester lima, sementara PKL dilaksanakan pada semester enam.
Yohanis berharap program TKA dapat terus dilaksanakan secara konsisten oleh pemerintah karena dinilai dapat menjadi indikator penting kemampuan akademik siswa sekaligus referensi bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan maupun mengikuti seleksi kerja, termasuk tes kepolisian dan militer.
“Program ini baik dan menjadi peringatan bagi sekolah agar mempersiapkan siswa lebih matang. Bukan hanya mengejar hasil akhir, tetapi juga membangun kesiapan akademik siswa secara menyeluruh,” tegasnya. **go
.
