Advetorial
![]() |
| Lurah Fransisko S. Dugis |
Kelurahan Penfui ubah sampah jadi berkah melalui program 3R, kerja sama Bank Sampah Mutiara, wujudkan Kupang bersih, hijau, dan berdaya ekonomi.
Di bawah kepemimpinan Lurah Fransisko S. Dugis, Penfui mengubah cara pandang warganya terhadap sampah — bukan lagi beban, melainkan berkah yang membawa manfaat ekonomi dan lingkungan.
“Sampah adalah tanggung jawab kita bersama. Kalau dikelola dengan benar, bisa jadi sumber penghasilan,” ujar Fransisko saat ditemui di kantor kelurahan, Jumat (7/11/2025).
Langkah pertama dimulai dengan penerapan sistem pemilahan sampah rumah tangga sesuai roadmap kebijakan Wali Kota Kupang. Warga diminta memilah antara sampah plastik, kertas, dan barang tidak terpakai sebelum dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
“Kami bekerja sama dengan Mutiara Bank Sampah dan Pertamina Patra Niaga. Warga yang sudah memilah sampah akan menimbang hasilnya sebulan sekali bersama tim bank sampah. Hasilnya langsung dikonversi ke rupiah dan masuk ke rekening masing-masing,” jelas Fransisko.
Program ini kini berjalan aktif di dua RW utama, yakni RW 3 dan RW 4, meliputi RT 5 hingga RT 12.
Setiap wilayah memiliki unit pengelolaan sampah sendiri, dengan anggota yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan pensiunan yang bersemangat menjaga lingkungan.
“Banyak mama-mama dan pensiunan guru yang ikut aktif menimbang dan memilah sampah. Mereka bukan hanya menjaga kebersihan, tapi juga menambah penghasilan,” tambahnya.
Upaya Penfui tidak berhenti di situ. Pemerintah kelurahan menjalin kerja sama dengan Angkasa Pura untuk membangun TPS baru di depan Pasar Penfui, selain TPS yang telah ada di depan area Angkatan Udara.
Kehadiran dua TPS ini menjadi titik penting untuk mendukung sistem pengumpulan sampah terpilah, sehingga jalur distribusi dari warga hingga ke Dinas Kebersihan menjadi lebih efisien dan tertib.
Selain mengelola sampah, Kelurahan Penfui juga menggerakkan warganya untuk memanfaatkan lahan kosong dengan menanam tanaman produktif.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program lanjutan menuju Kupang Hijau, dengan mengajak RT setempat menanam sayuran dan tanaman hias di pekarangan rumah.
“Kalau lingkungan bersih dan hijau, hati pun jadi tenang. Kami ingin warga Penfui jadi contoh bagi kelurahan lain,” ujar Fransisko.
Respon masyarakat Penfui sangat antusias. Banyak warga merasa bangga bisa ikut bagian dalam gerakan ini, terutama karena hasilnya bisa dirasakan langsung.
Melalui sistem digitalisasi dari Bank Sampah Mutiara, setiap hasil penimbangan dicatat melalui invoice online, dan nilai tukar sampah langsung dikirim ke rekening peserta.
“Puji Tuhan, ada yang sudah banyak hasilnya. Uangnya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” tutur Fransisko.
Menutup wawancara, Fransisko mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan di musim penghujan ini.
Ia berpesan agar warga memangkas ranting pohon yang menjulur ke rumah tetangga, menjaga saluran air tetap bersih, dan ikut bergabung dalam unit bank sampah kelurahan.
“Mari manfaatkan kesempatan yang ada. Pilah sampah dari rumah, karena kebersihan kota dimulai dari kita sendiri,” tegasnya.
Apa yang dilakukan Lurah Penfui dan warganya menjadi bukti nyata bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil — dari rumah, dari sampah.
Kelurahan Penfui kini bukan hanya bersih, tapi juga menjadi contoh inovasi “Sampah Jadi Berkah”, sejalan dengan cita-cita besar Pemerintah Kota Kupang menjadikan kota ini Green and Clean City. **(go)


