Selayang Pandang Mengenang Coffee Morning Gubernur NTT dan Jurnalis

Kupang,mutiaratimur.net- Hari itu Jumat, 28/08/2020 di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, tepat pukul 08:00 waktu setempat. Gubernur Viktor B Laiskodat didampingi Jelamu A Marius, Karo Biro Humas Setda Prov NTT menggelar coffee morning bersama para awak media.

Momentum yang boleh dibilang langkah terjadi menjadi kesempatan sang Gubernur NTT menerima masukan, atau buah pikiran para jurnalis dari berbagai media dan setelah itu sembari beliau pun mengungkapkan sasaran, arah visi-misi programnya bersama Wakil Gubernur Josef A Nae Soi,

Dari para awak media, tatkala diberi waktu untuk salurkan ide atau gagasan, kesempatan itu benar-benar dimaksimalkan. Ada rupa-rupa masukan pendapat, seperti pengembangan program sorgumnisasi ke petani penggarap lahan kering dengan teknologi tinggi memakai hand traktor dan eksavator karena katanya NTT batu yang bertanah, tetap terus kembangkan kelor dan tanam jagung panen sapi, dan terus mengembangkan sopihia sebagai minuman khas NTT.

Di samping semua telah terungkap, maka tak kalah penting buah pikiran dan komentar tentang dunia pariwisata dimana perlu ada keseimbangan anggaran dalam menata NTT menjadi  provinsi punya daya pikat super high untuk eco-tourism.

Suara masukan jurnalis tak hanya sampai disitu saja, masih ada yang mengangkat persoalan sosial seperti perlakuan perusahan besar terhadap tenaga kerja di NTT yang di-PHK, tapi tidak terima pesangon dan ada masalah trafficking yang sedang ditangani persoalannya. Akhir dari   semua itu adalah bermuara pada SDM dan manajemen pembangunan (penyuluhan dan pengawasan) yang perlu menjadi perhatian bila NTT mau berkembang dan maju. Atau mau supaya NTT, khususnya petani keluar dari kemiskinan. Petani dengan mindset, Petani Pengusaha. Mungkinkah ini terjadi?

VBL, Gubernur yang punya tekad dan mimpi besar agar petani harus Petani Pengusaha sebagaimana dalam rilis Siaran Pers Biro Humas dan Protokol NTT(28/08/2020) terlihat menekan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, petani  dari  hanya buruh tani menuju ke Petani Pengusaha.  Gubernur menegaskan, “Konsep kita dalam pengembangan petani adalah mengarahkan mereka dari buruh tani  menjadi pengusaha petani. Kalau ini dikerjakannya dengan baik, kita dapat bersaing dengan negara lain khusus di pertanian. Kita bukan lagi menyodorkan buruh tani tapi pengusaha tani yang mindsetnya bisnis. Hasil pertaniannya sudah sampai level untuk dijual bukan lagi untuk mengisi kebutuhan rumah tangga."

Kedua, teknologi manual/tradisional ke teknologi modern. Gubernur, VBL selanjutnya berpendapat, sebagian masyarakat NTT memang hidup dari pertanian, namun masih sebatas buruh tani. Pemerintah Provinsi terus berupaya menyiapkan alat-alat pertanian termasuk alat berat seperti eksavator. Infrastruktur pertanian harus disiapkan dengan baik.

Ketiga, masalah air dan cara antisipasinya dari kondisi curah hujan rendah, air sedikit dan menjadi melimpah serta penyiapan bibit atau benih tanaman. Kesuksesan pertanian juga faktor penentu adalah air. Air ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani NTT. Karena itu VBL mengtakan pula, kebutuhan air  untuk pertanian juga akan siapkan.  Itulah alasannya pemerintah provinsi melakukan pinjaman daerah. Pemerintah tidak bisa menjawab kebutuhan masyarakat dan persoalan infrastruktur hanya mengandalkan APBD. Tahun depan Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp.900 M untuk membangun infrastruktur termasuk embung untuk pertanian. Sehingga bisa ada kepastian air tetap tersedia di sungai saat musim kering. Selain bibit atau benih juga  disiapkan pemerintah.

Keempat, pelibatan komponen penting untuk peningkatan produksi dan pemasaran.
Menurut beliau dalam hal peningkatan hasil pertanian  dan prospek pasar, Pemerintah Provinsi akan memfasilitasinya, seperti  ada pengusaha yang mau menginvestasikan dana serta menampung hasil pertanian. Pemerintah provinsi terus mendorong agar kolaborasi yang disebutnya  triple helix (pemerintah, petani dan pengusaha) dapat berjalan dengan baik.

Untuk memperluas pasaran produk-produk potensial NTT, Gubernur VBL mejelaskan telah meminta manajemen Lion Air agar tahun depan ada penerbangan langsung dari luar ke NTT. Permintaan tersebut telah disetujui oleh manajemen maskapai tersebut.

Tahun 2021 kata Gubernur, dia sudah minta kepada Lion Group dan disetujui untuk disiapkan dua pesawat terbang langsung dari Kupang ke China, Taiwan, Jepang, Korea. Olehny  Gubernur menekankan untuk itu,  harus disiapkan semua potensi yang kita miliki,  ikan, rumput laut dan hasil pertanian yang berkualitas ekspor. Pesawat ketika pulang dari negera- negara itu katanya tentu akan membawa wisatawan asing ke NTT.
Kelima, Arah kebijakan pertanian dan angka kemiskinan. VBL, menjelasakan arah kebijakan pertanian harus bisa menurunkan angka kemiskinan. Kemiskinan terbesar ada di Pulau Sumba dan Timor. Berdasarkan data statistik 2019, urutan pertama presentasi penduduk miskin terbanyak adalah Sumba Tengah 34,62 persen, terus diikuti Sabu Raijua 30,52 persen, Sumba Timur 30,02 persen,lalu dikuti Sumba Barat 28,29 persen, Sumba Barat Daya 28,06 persen,  Rote Ndao 27,95 persen,TTS 27,87 persen.

 Karena itu  VBL menegaskan, "saya minta kepada Bappeda (Bappelitbangda) agar 60 persen anggaran ke depan di bidang pertanian, peternakan dan pendidikan diarahkan ke dua pulau ini. Menuju ke kabupaten-kabupaten di dua pulau ini. Karena kalau kita terapi kedua pulau ini secara benar, otomatis angka kemiskinan kita akan menurun jauh. Sambil daerah lainnya tetap kita perhatikan dengan baik, agar angka kemiskinan tidak naik. Bulan depan saya akan ke Sumba Tengah untuk program Tanam Jagun Panen Sapi di lahan yang besar supaya ekonomi masyarakat di sana meningkat."

Soal data  pertanian, menurut VBL, data-data  pertanian seperti lahan, potensi air serta berbagai data terkait pertanian lainnya sedang dikerjakan. Karena sampai sekarang data seperti ini belum lengkap. Kalau sebelumnya sudah ada, pertanian NTT saat ini pasti akan mengalami percepatan luar biasa.

Keenam, pertanian payung program bidang pariwisata.
Gubernur VBL, dalam pembicaraannya terlihat begitu menekankan pertanian karena pertanian merupakan program payung untuk menggerakan sektor lain, seperti pariwisata.

Ditegasnya pula,“tujuan pertanian adalah menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata, supply chain dari pariwisata. Saat Pariwisata Labuan Bajo menjadi daya tarik utama dan prime mover pariwisata NTT, kita harus pastikan supply chainnya dari NTT. Seperti telur ayam, daging ayam,ikan, sayur, bawang cabe dan kebutuhan harus dari kita, dari Flores, Timor dan Sumba. Ini tentu akan menguntungkan bagi para petani."
Pada peristiwa coffee morning tersebut Gubernur VBL juga menantang para awak media jika hendak ambil bagian dalam upaya memajukan masyarakat tani dipersilakan ada yang berani usulkan proposal, mempresentasikan dihadapannya.  Apabila bisa diandalkan beliau bersedia memfasilitasi pengusaha berkerjasama dengan wartawan.

" Saya menantang kalian semua, jika ada wartawan yang ingin bergabung mengembangkan program demi kemajuan petani silakan mempresentasikan usulan anda di depan saya, saya siap memfasilitasi para pengusaha berkerjasama, tapi ingat kalian bekerja sesuai irama saya," tegas VBL kepada semua jurnalis.***(mm)





Iklan

Iklan