SIKKA, MUTIARA TIMUR – Dua puluh tiga hari setelah gempa mengguncang Kabupaten Sikka pada 15 Agustus 2026, Sergius Moa bersama istri dan anaknya masih bertahan di tempat tinggal darurat yang dibangun dari lembaran tripleks di area pemakaman Dusun Dobo, Desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.
Keluarga ini terpaksa tidur di atas kuburan karena rumah mereka mengalami keretakan pada hampir seluruh bagian tembok akibat gempa. Kondisi rumah yang retak membuat Sergius bersama istri dan anaknya takut kembali masuk dan menempati rumah tersebut.
Sejak gempa hingga Senin, 7 September 2026, mereka menjalani hari-hari dalam tempat tinggal sederhana di area pemakaman, dengan segala keterbatasan. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini justru membuat keluarga tersebut dihantui rasa takut.
“Dari Pemkab Sikka kami belum dapat bantuan sama sekali. Baru dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Caritas. Hari ini baru dapat bantuan dari BPN NTT, Kantor Pertanahan Kabupaten Sikka, berupa beras, minyak, telur ayam, mi, sabun, Rinso dan susu,” kata Sergius saat diwawancarai, Senin (7/9/2026).
Meski keluarga Sergius menjadi perhatian karena harus bertahan di area pemakaman, persoalan pascagempa yang dihadapi warga Dusun Dobo tidak berhenti pada kerusakan rumah.
Di dusun tersebut terdapat sekitar 33 kepala keluarga yang ikut terdampak dan masih membutuhkan perhatian, terutama terkait kebutuhan air bersih. Puluhan bak penampungan air milik warga mengalami keretakan. Akibatnya, air yang ditampung tidak dapat bertahan lama karena merembes keluar melalui bagian bak yang rusak.
Persoalan semakin berat karena Dusun Dobo tidak memiliki sumber mata air. Warga selama ini mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi seperti itu, warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera memberikan bantuan air bersih.
Warga juga mengusulkan penyediaan profil tank. Sedikitnya satu atau dua unit dinilai sudah sangat berarti bagi masyarakat. Profil tank tersebut dapat ditempatkan di lokasi yang memungkinkan, kemudian diisi air secara berkala untuk membantu memenuhi kebutuhan warga.
Selain air bersih, warga mengeluhkan akses jalan menuju Dusun Dobo yang kini sulit dilalui. Jalan yang sebelumnya masih dapat dilalui kendaraan roda empat kini terputus akibat hujan. Kondisi tersebut membuat kendaraan tidak lagi bisa masuk hingga ke dusun dan berpotensi menyulitkan distribusi bantuan.
Warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga segera menghadirkan bantuan nyata sesuai kebutuhan di lapangan.
Kebutuhan air bersih, perbaikan bak penampungan, akses jalan, serta tempat tinggal yang aman menjadi persoalan yang mendesak bagi masyarakat.
Di tengah persoalan tersebut, kisah Sergius Moa bersama istri dan anaknya menjadi gambaran getir kehidupan warga yang masih berjuang setelah gempa.
Sudah 23 hari berlalu, tetapi keluarga Sergius belum dapat kembali ke rumah. Mereka masih bertahan di tempat sederhana yang dibangun dari tripleks di area pemakaman karena takut memasuki rumah yang temboknya retak.
Bagi Sergius dan keluarganya, harapannya sederhana: memiliki tempat tinggal yang aman untuk kembali pulang.
Sementara bagi puluhan keluarga di Dusun Dobo, kebutuhan yang mendesak adalah air bersih dan akses jalan agar bantuan dapat menjangkau mereka.
Gempa telah berhenti mengguncang, tetapi bagi keluarga Sergius dan warga Dusun Dobo, perjuangan untuk kembali hidup normal masih jauh dari selesai. **ah

