KUPANG, MUTIARA TIMUR — Warga Kampung Dobo, Dusun Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih menghadapi persoalan air bersih setelah gempa bumi pada 15 Agustus 2026. Sejumlah bak penampung air warga retak, sementara akses menuju kampung menyulitkan distribusi air menggunakan mobil tangki.
Kondisi tersebut mendorong Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka memberikan pelayanan kemanusiaan di Kampung Dobo pada Senin, 28 September 2026 sore. Selain memasok air bersih, PMI menyalurkan bantuan kebutuhan dasar dan memberikan edukasi kesehatan kepada warga.
Koordinator Tanggap Darurat Bencana (TDB) Gempa Bumi PMI Kabupaten Sikka, Octavianus Aryo Adityo, mengatakan pelayanan tersebut dilakukan setelah PMI menerima informasi mengenai kondisi warga dari media.
Ia terlebih dahulu menyampaikan terima kasih kepada media yang telah memberikan informasi mengenai kondisi masyarakat di Kampung Dobo. Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi PMI untuk menindaklanjuti kebutuhan warga di lokasi.
Pertama saya mau berterima kasih dulu untuk teman-teman media, karena kami sampai hari ini di tempat ini karena juga ada informasi yang kami dapatkan dari teman-teman media,” kata Octavianus.
Setelah memperoleh informasi tersebut, PMI berkoordinasi dengan pihak terkait hingga akhirnya memutuskan turun langsung ke Dusun Dobo, khususnya RT 01.
“Jadi hari ini, berdasarkan informasi dari teman-teman di media, kami coba untuk berkoordinasi dan akhirnya bisa mengontak Bapak Sergius Moa, dan kita putuskan untuk melakukan pelayanan di Dusun Dobo ini, khususnya RT 01,” ujarnya.
Air Bersih Jadi Kebutuhan Mendesak
Menurut Octavianus, kebutuhan paling mendesak yang ditemukan PMI adalah air bersih. Medan menuju Kampung Dobo yang sulit membuat PMI bersama warga memilih menempatkan dua tandon air di lokasi.
Satu tandon merupakan bantuan warga, sedangkan satu lainnya bantuan melalui PMI dari Ciputra Group dengan kapasitas 2.300 liter. Dengan demikian, total kapasitas kedua tandon mencapai 4.600 liter.
PMI juga mengerahkan tangki air untuk mengisi tandon tersebut hingga penuh.
“Karena memang jarak yang cukup jauh, lalu juga dengan kondisi medan yang cukup sulit, nah, lalu ketiadaan sumber air, ini yang membuat PMI akhirnya kita coba untuk membantu dengan tandon dan tadi, memobilisasi tangki air ke sini,” ujar Octavianus.
Selain distribusi air, PMI memberikan edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat kepada warga, termasuk anak-anak.
“Jadi seperti yang dilihat, adik-adik di sini diajarkan bagaimana pola hidup bersih dan sehat, kemudian juga termasuk orang-orang tuanya,” katanya.
Bantuan Disesuaikan Data Warga
Pelayanan PMI tidak hanya menyasar kebutuhan air. Di RT 01 Kampung Dobo tercatat 34 kepala keluarga dengan total 92 jiwa. PMI menyalurkan family kit kepada 34 kepala keluarga. Sementara pakaian dan sarung diberikan kepada seluruh 92 jiwa.
Sebanyak 24 lansia juga tercatat sebagai penerima bantuan dignity kit. Untuk ibu hamil serta bayi dan balita, PMI menyalurkan empat baby kit. Selain itu, 21 anak mendapat makanan ringan berupa susu Ultramilk dan Tango.
“Digniti kit ini kelengkapan-kelengkapan untuk khusus untuk perempuan,” jelas Octavianus.
Untuk bantuan bayi dan balita, PMI menyalurkan empat paket baby kit berdasarkan data warga yang diterima dari pihak desa.
“Baby kit-nya ada empat, itu sesuai data. Jadi memang yang kita sampaikan hari ini kepada masyarakat khususnya di Dusun Dobo ini berdasarkan data yang diberikan dari Bapak Sergius Moa,” ujarnya.
Pelayanan kesehatan turut diperkuat tiga personel PMI Jawa Timur yang bergabung dalam kegiatan tersebut. Mereka secara khusus memberikan promosi kesehatan, termasuk edukasi mengenai bahaya rabies dan persoalan kesehatan yang berpotensi dihadapi masyarakat.
Sebanyak 15 personel PMI Sikka diterjunkan dalam pelayanan tersebut. Mereka dibagi menjadi dua tim karena pelayanan kebencanaan akan dilanjutkan ke desa lain pada hari berikutnya.
Bak Retak, Air Hujan Jadi Andalan
Ketua BPD Desa Iantena, Vensilia Aurelia Nona Onci, mengatakan warga RT 01 selama ini mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air minum.
Gempa pada 15 Agustus lalu membuat tiga hingga empat bak penampung air warga mengalami kerusakan. Beberapa di antaranya bahkan mengalami retakan besar sehingga tidak lagi mampu menampung air.
“Ada sekitar 3 sampai 4 bak. Bahkan ada beberapa bak yang keretakannya cukup besar sehingga air di bak itu kering langsung,” kata Onci.
Warga kemudian menggunakan bak penampung milik warga di RT 02. Jika membeli air tangki dan menurunkannya di RT 02, warga harus membayar sekitar Rp175.000 per tangki. Namun, jika air diantar hingga Kampung Dobo, biayanya dapat mencapai Rp350.000.
Jarak sekitar 500 hingga 600 meter dari RT 02 ke Kampung Dobo membuat warga harus membawa air menggunakan jeriken, dipikul, atau diangkut dengan sepeda motor. Warga yang tidak memiliki bak penampung juga kerap meminta air kepada tetangga atau patungan untuk membeli air tangki.
Menurut onci, kondisi tersebut semakin berat ketika musim kemarau tiba. Sumber mata air yang ada di sekitar wilayah tersebut juga tidak dapat diandalkan karena debitnya menurun bahkan mengering ketika curah hujan berkurang.
“Ada memang mata air, tapi mata air itu kayak mata air curah hujan. Jadi ketika musim panas begini, mata airnya kering,” ujarnya.
Mobil Tangki Tak Lagi Bisa Masuk
Kepala Dusun Dobo, Hendrikus Hengki Yuvaldi, mengatakan Dusun Dobo terdiri atas empat RT dengan sekitar 135 kepala keluarga.
Kekurangan air bersih, kata dia, bukan persoalan baru bagi warga ketika musim kemarau. Namun, gempa membuat kondisi menjadi lebih sulit karena sejumlah bak penampung di RT 01 rusak.
“Sebelum-sebelumnya kalau sudah musim-musim begini pasti ya mengalami kekurangan air bersih. Tapi setelah kemarin adanya peristiwa gempa ini, kami khususnya untuk RT 01 Dobo ini, itu ada sekitar 3 atau 4 bak yang retak akibat gempa kemarin,” katanya.
Menurut Hengky, satu tangki berisi sekitar 5.000 liter air yang diantar hingga Kampung Dobo dapat mencapai Rp400.000. Masalahnya, harga tersebut tidak serta-merta menjamin air bisa sampai ke permukiman warga.
Kondisi jalan menuju Kampung Dobo membuat mobil tangki kini tidak lagi bisa masuk. Jalan yang sebelumnya dapat dilalui kendaraan rusak setelah diguyur hujan dan mengalami kerusakan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau kemarin yang pas jalan tani pertama dibuka, itu memang mobil bisa masuk, mobil tangki bisa masuk. Tapi karena cuaca, curah hujan, habis jalan juga sudah rusak begini, untuk 2 tahun belakangan ini mobil tangki tidak bisa masuk lagi,” ujar Hengky.
Air tangki akhirnya diturunkan di RT 02, kemudian dibawa warga menuju rumah masing-masing menggunakan jeriken, dengan cara dipikul atau diangkut menggunakan sepeda motor.
Di tengah kondisi tersebut, PMI berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lanjutan kepada warga Kampung Dobo. PMI mengatakan perannya dalam penanganan bencana adalah mendukung pemerintah, terutama dalam merespons kebutuhan mendesak masyarakat terdampak. **ah


