KUPANG, MUTIARA-TIMUR.COM — Sebanyak 22 siswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dinyatakan lolos program beasiswa kuliah di Nantong College of Science and Technology (NTCST), China, dan akan diberangkatkan untuk menempuh pendidikan tinggi di Negeri Tirai Bambu tersebut. Pelepasan calon mahasiswa penerima beasiswa angkatan ketiga tahun 2026 dilaksanakan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTT di Shoto-Kai Resto & Cafe, Sikumana, Kota Kupang, Rabu (23/9/2026) secara hybrid.
Jumlah penerima beasiswa tahun ini meningkat hampir 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Konsultan Pendidikan Beasiswa Penuh NTCST, Yovandra, mengatakan tahun lalu hanya 12 siswa NTT yang diberangkatkan, sedangkan tahun ini meningkat menjadi 22 orang. “Tahun lalu itu 12 orang, tahun ini 22 orang. Meningkat hampir 100 persen,” kata Yovandra dalam jumpa pers usai acara pelepasan.
Menurut Yovandra, pada awal proses seleksi terdapat 48 calon yang diproyeksikan mengikuti program tersebut. Pada tahap akhir terdapat 26 calon yang lolos, tetapi empat orang dinyatakan tidak lolos oleh kampus NTCST sehingga jumlah yang diberangkatkan menjadi 22 siswa. Ia juga mengapresiasi kerja sama dengan INTI NTT yang dinilai sangat membantu proses pengiriman anak-anak NTT ke China.
Persyaratan mengikuti program tersebut antara lain memiliki paspor, nilai rapor yang bagus, hasil pemeriksaan kesehatan dll. Calon penerima juga mengikuti wawancara dalam bahasa Inggris. “Testnya hanya wawancara. Tidak harus punya TOEFL atau sertifikat bahasa Inggris lainnya,” jelas Yovandra.
Ia menegaskan angka 22 bukan merupakan batas kuota tetap. Jika dalam seleksi berikutnya terdapat lebih banyak calon yang memenuhi persyaratan dan dinyatakan lolos oleh pihak kampus, jumlah penerima dapat bertambah. Secara nasional, tahun ini terdapat sekitar 108 peserta yang diberangkatkan melalui program tersebut, antara lain dari Makassar sekitar 14 orang dan Sumatera Barat sekitar 40-an orang.
Para penerima beasiswa asal NTT terlebih dahulu menuju Jakarta untuk mengurus visa sebelum dijadwalkan berangkat ke China pada 8 Oktober 2026. Program pendidikan berlangsung selama tiga tahun, dengan tahun pertama diisi pembelajaran bahasa Mandarin sebagai bekal sebelum memasuki tahapan pendidikan berikutnya.
Ketua Umum INTI NTT, Ir. Theo Widodo yg juga adalah ayah dari Walikota Kupang dr.Christian Widodo menjelaskan, beasiswa tersebut tidak hanya membebaskan biaya kuliah, tetapi juga menyediakan akomodasi gratis dan uang saku. “Ini beasiswa yang istimewa. Pertama, bebas uang kuliah. Tetapi bukan hanya itu. Ini ditambah dengan akomodasi gratis dan uang saku,” ujarnya.
Menurut Theo, calon mahasiswa tidak harus menguasai bahasa Mandarin sebelum berangkat karena bahasa tersebut akan dipelajari selama berada di China. Selama tiga tahun, mahasiswa akan mengikuti tahapan kemampuan bahasa Mandarin dari HSK 1, HSK 2, HSK 3 dan seterusnya hingga tahun ketiga HSK 5. Program lanjutan membutuhkan kemampuan HSK 5.
Theo yg juga ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) NTT berharap program tersebut semakin banyak menjangkau anak-anak NTT yang memiliki keterbatasan biaya tetapi mempunyai kemauan dan kemampuan akademis yg tinggi. Ia juga meminta media massa membantu menyebarluaskan informasi mengenai beasiswa tersebut agar semakin banyak anak NTT mengetahui kesempatan pendidikan ke China. “Peran pers untuk menyebarluaskan program ini sangat penting,” katanya.
Program beasiswa Universitas Nantong juga diarahkan pada bidang yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Beberapa bidang yang ditawarkan tahun ini antara lain mekatronika, teknologi perangkat lunak, food processing intelligence technology dan horticulture technology. Theo mengatakan bidang-bidang tersebut terus menyesuaikan dg perkembangan teknologi dan banyak mengarah pada kecerdasan buatan atau AI serta Internet of Things (IoT).
Menurut Theo, perkembangan teknologi China menjadi salah satu pertimbangan dalam menyediakan fasilitas pendidikan tinggi bagi anak-anak NTT. Ia juga menyebut sejumlah penerima beasiswa angkatan pertama telah menunjukkan prestasi. Dua mahasiswa bernama Kezia dan Putri berhasil meraih juara dua kompetisi bahasa Mandarin dari seluruh mahasiswa internasional seangkatan dikampusnya, sementara Putri kini disebut telah menjadi asisten dosen di kampus tersebut.
“Anak-anak kita itu pintar-pintar. Jangan bilang anak NTT tidak mampu secara akademis. Mereka hanya perlu kesempatan dan ketekunan belajar,” ujar Theo. Ia mengatakan mahasiswa dari angkatan sebelumnya kini sedang mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan S1 dan telah mencapai kemampuan bahasa Mandarin hingga HSK 5.
Sementara itu, Ketua Bidang Pendidikan INTI NTT, Ir. Mariana Nenobais, M.Si., menyoroti masih terbatasnya pembelajaran bahasa Mandarin di NTT. Menurutnya, sejumlah sekolah telah memiliki kegiatan ekstrakurikuler bahasa Mandarin, tetapi menghadapi kendala keterbatasan tenaga pengajar. “Masalahnya di pengajar. Bukan karena anak-anak tidak mau belajar, tetapi tenaga pengajarnya tidak ada,” ujarnya.
Mariana mengatakan INTI NTT sebelumnya telah melakukan sosialisasi pembelajaran bahasa Mandarin di sejumlah sekolah. Namun, keberlanjutan pembelajaran masih terkendala tenaga pengajar yang memenuhi kualifikasi. Karena itu, program Universitas Nantong dinilai memberikan peluang bagi siswa NTT untuk mendapatkan pengalaman belajar bahasa dan teknologi secara langsung di China.
Salah satu penerima beasiswa angkatan ketiga, Seanaz Aurolia Malesi, mengaku tertarik mengikuti program tersebut setelah mendapatkan sosialisasi INTI NTT di sekolahnya. Lulusan SMA Kristen Citra Bangsa itu memilih jurusan Mekatronika Teknologi karena telah mengenal bidang tersebut melalui peminatan di sekolah.
“Yang tahun lalu, satu tingkat di atas saya sudah lulus. Akhirnya saya tertarik dan ikut tes,” kata Seanaz. Ia mengikuti dua kali wawancara dan mengaku sempat gugup, tetapi pertanyaan yang diberikan masih tergolong yg umum dan mudah. Menurutnya, proses tersebut justru memotivasinya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, khususnya listening dan speaking.
Dukungan terhadap keberangkatan 22 siswa tersebut juga disampaikan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melalui sambutan secara daring. Melki mengapresiasi INTI NTT yang telah membuka kesempatan pendidikan internasional bagi anak-anak NTT dan meminta para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar sebanyak mungkin.
Melki berharap 22 siswa tersebut dapat menjadi bagian dari sumber daya manusia unggul NTT. Menurutnya, para peserta tidak hanya perlu mengejar pendidikan akademik, tetapi juga menyerap pengalaman, pengetahuan, teknologi dan budaya termasuk bahasa serta etos kerja selama berada di China untuk kemudian dibawa pulang dan diterapkan di NTT.
“Saya melihat 22 adik-adik yang akan berangkat ini akan menjadi salah satu klaster SDM unggul NTT yang perlu kita atur pola komunikasi dan hubungan yang baik,” ujar Melki. Ia juga berpesan agar para peserta membangun hubungan baik dengan mahasiswa dan masyarakat di China sehingga jaringan yang terbentuk tetap terpelihara setelah mereka kembali.
“Jangan lupa membangun pertemanan dengan sahabat-sahabat di China. Agar nantinya para alumni, senior, junior dan sebagainya, hubungan tetap terjaga baik,” pesannya. Melki berharap para peserta membawa pulang hal-hal positif yang dapat diterapkan untuk pembangunan NTT.
“Banyak hal baik yang bisa dibawa pulang, dipraktikkan, digunakan membangun potensi yang ada di NTT,” katanya. Ia kemudian memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar serius menjalani pendidikan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
“Selamat untuk 22 adik-adik. Belajarlah dengan baik, ambil semua manfaat dari kesempatan ini dan jadilah bagian dari generasi yang membawa manfaat bagi Indonesia dan NTT,” pungkas Melki.
Dengan keberangkatan 22 penerima beasiswa tahun ini, program pendidikan INTI NTT bersama NTCST memasuki angkatan ketiga. Para peserta kini bersiap menuju Jakarta untuk proses visa sebelum berangkat ke China pada 8 Oktober 2026.
Program tersebut menjadi salah satu ruang bagi generasi muda NTT untuk mendapatkan pengalaman pendidikan internasional, khususnya dalam bidang bahasa, teknologi, kecerdasan buatan, mekatronika, pengolahan pangan hingga teknologi pertanian modern. Bagi 22 siswa tersebut, kesempatan ini sekaligus menjadi langkah awal untuk meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan jejaring yang diharapkan dapat dibawa kembali untuk berkontribusi bagi NTT. **usgo




