KUPANG, MUTIARA-TIMUR.COM — Festival Budaya Kelurahan Naikolan 2026 tidak ingin berakhir sebatas kemeriahan panggung, tarian dan pakaian adat. Warga mulai mendorong agar momentum budaya tersebut meninggalkan manfaat yang lebih panjang: membuka ruang usaha dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Harapan itu mengemuka dalam Festival Budaya Kelurahan Naikolan yang digelar di Jalan Bougenville, RT 003/RW 001, Kelurahan Naikolan, Kota Kupang, Senin (28/9/2026).
Mengusung tema “Satu Budaya, Seribu Kreasi, Satu Kebersamaan”, festival tersebut menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus panggung untuk memperkenalkan kekayaan budaya yang hidup di tengah warga Naikolan.
Namun, di balik pertunjukan budaya tersebut, ada pesan yang jauh lebih konkret dari masyarakat: Jalan Bougenville diharapkan tidak hanya ramai ketika festival berlangsung, tetapi dapat berkembang menjadi sentra kuliner dan ruang usaha masyarakat.
Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Naikolan, Yeni Missa, S.Sos., mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan pengetahuan harus berjalan bersama dengan upaya mempertahankan identitas budaya. Generasi muda perlu mengenal budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat agar tidak kehilangan akar di tengah perubahan zaman.
“Budaya juga tidak boleh ditinggalkan,” ujar Yeni.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pariwisata yang telah memberikan ruang kepada kelurahan untuk menyelenggarakan kegiatan budaya.
Bagi masyarakat Naikolan, ruang budaya tersebut kemudian diharapkan dapat berkembang lebih jauh menjadi ruang produktif bagi warga.
Karena itu, festival tidak cukup hanya menghadirkan keramaian. Harus ada jejak ekonomi yang tertinggal setelah panggung dibongkar.
Yeni menyampaikan harapan agar kawasan Jalan Bougenville dapat dikembangkan menjadi pusat kuliner. Dengan adanya ruang usaha yang lebih permanen, masyarakat dapat memiliki tempat untuk menjual makanan, minuman maupun produk UMKM secara berkelanjutan.
“Harapan kami, masyarakat Naikolan bisa memiliki tempat usaha di sini,” kata Yeni.
Harapan tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Kota Kupang Roy Riwu Kaho. Ia mendorong agar kawasan festival dapat dikembangkan menjadi ruang aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurut Roy, pengembangan festival budaya membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk dukungan anggaran. Dengan demikian, kegiatan tidak semata-mata bergantung pada kontribusi masyarakat di tingkat RT, RW maupun kelurahan.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega, yang hadir mewakili Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa event budaya kelurahan harus memiliki makna yang lebih luas.
Festival budaya, kata dia, bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi harus menjadi bagian dari gerakan bersama untuk merawat budaya, memperkuat persaudaraan, membuka peluang ekonomi dan menyiapkan generasi muda yang tetap berakar pada nilai budaya.
Ia juga mengajak masyarakat agar menjadikan kegiatan budaya sebagai ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus membuka peluang bagi kreativitas masyarakat.
Pesan tersebut menjadi penting karena budaya dan ekonomi masyarakat sebenarnya dapat berjalan beriringan.
Ketika sebuah festival menghadirkan UMKM, pelaku usaha tidak hanya mendapatkan kesempatan menjual produk. Mereka juga memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat yang datang dari luar kelurahan.
Di sisi lain, ketika ruang usaha tersedia secara berkelanjutan, aktivitas ekonomi tidak harus menunggu datangnya festival. Inilah tantangan berikutnya bagi Naikolan: bagaimana mengubah keramaian festival menjadi aktivitas ekonomi yang terus hidup.
Festival budaya dapat menjadi pemantik. Tetapi keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah penonton atau meriahnya pertunjukan. Ukuran lainnya adalah apakah masyarakat mendapatkan ruang untuk berkreasi, apakah UMKM mendapatkan pasar, dan apakah anak-anak muda melihat budaya sebagai sesuatu yang bernilai serta memiliki masa depan.
Naikolan memiliki modal sosial itu. Ada masyarakat, ada budaya, ada kreativitas, ada UMKM dan ada ruang publik yang dapat dikembangkan. Tinggal bagaimana semua potensi tersebut disatukan dalam sebuah konsep yang berkelanjutan.
Jika harapan masyarakat terhadap sentra kuliner di Jalan Bougenville dapat diwujudkan, maka kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat festival digelar setahun sekali.
Jalan Bougenville bisa tumbuh menjadi ruang budaya sekaligus ruang ekonomi masyarakat Naikolan. Dengan begitu, festival tidak berhenti ketika musik dimatikan dan panggung dibongkar. Budayanya tetap hidup. Kreativitasnya terus bergerak. Dan ekonomi warga ikut tumbuh. **usgo



