SIKKA, MUTIARA TIMUR — Palue belum benar-benar pulih setelah gempa mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sejumlah titik, rumah warga roboh menjadi puing. Jalan penghubung antarkampung rusak dan tertutup longsoran serta batu-batu besar.
Kondisi paling berat terlihat di jalur dari Dusun Koa menuju Cawalo, terutama di sekitar Jembatan Ubi Besar dan Ubi Kecil. Kendaraan belum dapat melintas. Warga hanya bisa berjalan kaki melewati jalur yang rusak dengan risiko keselamatan cukup tinggi.
Di permukiman warga, sejumlah rumah mengalami kerusakan berat. Dinding runtuh, atap ambruk dan barang-barang rumah tangga berserakan di antara puing. Sebagian warga memilih tetap berada di luar rumah karena trauma dan khawatir gempa susulan kembali merobohkan bangunan yang telah rusak.
Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Sikka, Yoseph Karmianto Eri atau Manto Eri, yang berada di Palue, mengatakan kepanikan warga terjadi sejak guncangan pertama.
“Saya sudah berada di lokasi sebelum gempa. Saat awal gempa saya kaget dan langsung lompat keluar dari rumah,” kata Manto melalui sambungan telepon.
Menurut dia, kondisi Palue masih dalam penanganan. Listrik padam dan warga sementara mengandalkan genset untuk penerangan. Pendataan korban dan kerusakan juga masih dilakukan karena sejumlah wilayah sulit dijangkau.
Sekitar 200 paket logistik telah didrop ke Palue. Namun, distribusinya menghadapi kendala karena sejumlah akses jalan tertimbun material longsor dan batu berukuran besar.
“Jalannya hancur. Banyak material longsor dan batu besar. Kondisinya cukup ekstrem,” ujar Manto.
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago telah tiba di Palue untuk melihat langsung kondisi masyarakat dan penanganan pascagempa. Pemerintah daerah bersama unsur terkait masih melakukan pendataan serta penanganan terhadap warga terdampak.
Data sementara hingga 16 Agustus mencatat sedikitnya 141 rumah mengalami rusak berat di lima desa. Satu warga dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan, sementara sejumlah warga lainnya mengalami luka berat. Data tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan belum sepenuhnya rampung.
Di tengah rumah yang runtuh dan jalan yang terputus, warga Palue masih memilih bertahan di tempat pengungsian. Bukan karena mereka tak ingin pulang, tetapi karena rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini justru menyimpan rasa takut.
Gempa telah meninggalkan luka yang tidak terlihat. Di Palue, warga kini menunggu jalan terbuka, bantuan menjangkau seluruh wilayah, dan keberanian untuk kembali menatap rumah mereka. ** ah

