SIKKA, MUTIARA TIMUR – Pemerintah Kabupaten Sikka memilih menghentikan seluruh rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat kabupaten. Keputusan itu diambil di tengah situasi darurat pascagempa yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan dan memaksa lebih dari seribu warga meninggalkan rumah.
Keputusan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi di Posko BPBD Kabupaten Sikka, Sabtu (15/8/2026) malam. Rapat dipimpin Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago bersama Wakil Bupati Simon Subandi Keytimu dan diikuti Plt. Sekda, Kalaksa BPBD, para asisten, staf ahli, pimpinan perangkat daerah, camat hingga lurah.
Pemerintah menilai kondisi masyarakat pascagempa membutuhkan konsentrasi penuh. Anggaran, tenaga dan perhatian pemerintah daerah diarahkan untuk penanganan warga terdampak, bukan untuk kegiatan seremonial peringatan kemerdekaan.
Gempa utama yang disebut berkekuatan magnitudo 7,7 dengan kedalaman 10 kilometer tersebut juga diikuti ratusan gempa susulan. Dalam satu hari, catatan pemerintah mencapai 512 kali gempa susulan.
Dampaknya terasa hingga berbagai wilayah Sikka. Korban jiwa dilaporkan jatuh, sementara rumah warga dan fasilitas publik mengalami kerusakan.
Salah satu lokasi yang kini menjadi pusat penanganan adalah Gelora Samador Maumere. Pemerintah mendirikan posko pengungsian utama di stadion tersebut untuk menampung warga yang mengungsi secara mandiri.
Data sementara mencatat 1.264 warga dari 306 kepala keluarga berada di lokasi pengungsian. Jumlah tersebut masih bergerak karena pendataan terhadap warga yang mengungsi secara mandiri di desa-desa dan wilayah perbukitan terus dilakukan.
Bupati Sikka mengatakan pemerintah tidak hanya memusatkan perhatian pada warga yang telah berada di posko utama. Pemantauan juga diarahkan ke wilayah daratan dan kepulauan untuk mengetahui kondisi masyarakat secara lebih menyeluruh.
“Data ini terus bergulir karena kami masih berusaha berkomunikasi dengan semua wilayah, baik daratan maupun beberapa wilayah kepulauan,” ujar Juventus.
Hingga saat ini, pemerintah daerah mencatat empat warga Sikka meninggal dunia akibat gempa. Jumlah tersebut masih menjadi bagian dari proses pendataan bersama di lapangan.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas publik. Ruang tunggu Pelabuhan L. Say Maumere menjadi salah satu bangunan yang terdampak gempa.
Di posko pengungsian, pemerintah bersama berbagai pihak terus memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi. Distribusi makanan, air bersih serta kebutuhan sanitasi dilakukan untuk menjaga kondisi pengungsi selama berada jauh dari rumah.
“Kita pastikan distribusi makanan tetap berjalan. Sanitasi, air dan kebutuhan lainnya juga harus kita jaga,” kata Juventus.
Namun, tantangan pemerintah belum selesai. Sejumlah wilayah masih sulit dijangkau untuk memperoleh informasi terbaru, termasuk Kecamatan Palue dan Waiblama. Pemerintah terus membangun komunikasi dengan wilayah tersebut guna memastikan keselamatan warga sekaligus memetakan kebutuhan bantuan.
Di tengah situasi itu, perayaan HUT ke-81 RI di Sikka tahun ini harus mengambil jeda. Bendera dan seremoni bukan lagi menjadi prioritas utama.
Bagi pemerintah daerah, merawat warga yang sedang menghadapi bencana adalah bentuk lain dari memaknai kemerdekaan. Saat masyarakat kehilangan rasa aman, pekerjaan pemerintah bukan berpesta, melainkan memastikan tidak ada warga yang merasa sendirian menghadapi bencana. **ah


