SIKKA, MUTIARA TIMUR – Di tengah kepadatan pengungsian di Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka, kebutuhan warga ternyata tidak berhenti pada makanan dan tempat berlindung. Di balik setiap tenda, ada keluarga dengan kondisi berbeda yang membutuhkan perhatian khusus setelah gempa mengguncang Flores.
Getrudis Uding, warga Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, misalnya, harus bertahan di pengungsian sambil merawat keluarganya. Suaminya, Ahmad Hartawan, masih dalam kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian setelah beberapa kali menjalani operasi, termasuk operasi usus buntu.
Getrudis sendiri baru menjalani operasi setelah melahirkan. Ia kini harus merawat dua anak. Anak pertamanya yang telah berusia lima tahun memiliki kebutuhan khusus dan masih membutuhkan popok, sementara anak keduanya masih bayi.
“Suami juga masih sakit, jadi saya tidak bisa berbuat banyak. Anak pertama masih membutuhkan popok dan anak kedua masih bayi,” ujar Getrudis.
Dalam kondisi tersebut, kebutuhan popok dan air bersih menjadi perhatian penting bagi keluarganya. Di lokasi pengungsian memang telah tersedia WC darurat, tetapi ketersediaan air bersih masih dirasakan perlu diperkuat.
Keluhan serupa disampaikan Ibu Siti. Ia berharap kebutuhan ibu menyusui, popok bayi dan air untuk keperluan MCK mendapat perhatian selama warga masih berada di pengungsian.
“Kami berharap air bersih bisa ditambah dan disebarkan ke beberapa titik tenda pengungsi supaya warga lebih mudah mendapatkannya,” ujar Siti.
Ia juga mengingatkan agar warga yang memilih mengungsi secara mandiri tetap masuk dalam perhatian penanganan. Sebagian masyarakat masih bertahan di luar rumah karena trauma dan khawatir terhadap gempa susulan.
“Mereka juga bekerja dalam ketakutan. Jadi kami berharap warga yang mengungsi mandiri juga diperhatikan,” katanya.
Keluhan kebutuhan dasar juga datang dari Wuring Laut, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat.
Sukmawati, salah seorang warga, menyebut sejumlah kebutuhan masih diperlukan pengungsi, terutama keluarga yang memiliki bayi dan warga yang sedang menjalani pemulihan. Di antaranya popok bayi, susu formula untuk usia 0–6 bulan, air minum, selimut dan masker.
Sementara itu, Mulyati, warga Wuring Laut, masih menjalani perawatan medis setelah menjalani operasi sekitar sepekan terakhir.
Beragam cerita tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pengungsi tidak seragam. Ada ibu yang harus menyusui, bayi yang membutuhkan popok dan susu, warga yang sedang sakit, serta keluarga yang masih dibayangi trauma akibat gempa.
Karena itu, warga berharap penanganan di Gelora Samador dapat terus diperkuat secara bertahap. Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, TNI-Polri, PMI, relawan dan berbagai pihak yang telah turun membantu.
Harapan warga bukan untuk mengabaikan bantuan yang sudah diberikan, melainkan agar dukungan tersebut dapat terus menjangkau kebutuhan yang lebih spesifik di tengah kondisi darurat.
Bagi para pengungsi, bantuan yang terlihat sederhana sekalipun memiliki arti besar. Sebotol air bersih, sebungkus popok, susu untuk bayi, selimut atau masker dapat menjadi penopang bagi keluarga yang sedang melewati masa sulit.
Di balik tenda-tenda Gelora Samador, ada banyak cerita yang mungkin tidak terlihat dari luar. Ada bayi yang membutuhkan susu, ibu yang harus tetap menyusui, orang sakit yang membutuhkan perawatan dan keluarga yang hanya ingin memastikan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi.
Di tengah bencana, mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya berharap, selama belum dapat kembali ke rumah, ada tangan-tangan yang terus membantu dan memastikan mereka tidak berjalan sendirian melewati masa sulit ini. **ah
