KUPANG, MUTIARA-TIMUR.COM – Keragaman budaya kembali menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat Kota Kupang. Hal itu terlihat dalam Festival Budaya Kelurahan Nefonaek, Kecamatan Kota Lama, yang berlangsung di Lapangan Kelurahan Nefonaek, Kamis (6/8/2026).
Mengusung semangat “Merajut Kebhinekaan, Melestarikan Budaya dan Menguatkan Persatuan”, festival tersebut diawali dengan parade budaya yang melibatkan unsur pemerintah kelurahan, masyarakat, organisasi, sanggar seni budaya, pelajar serta berbagai elemen lainnya.
Beragam atraksi seni turut mewarnai pembukaan festival. Mulai dari Tarian Penyambutan Maumere, Tari Sekar Jagat dari Bali, tarian tradisional Rote Ndao, persembahan lagu dari San Jose Choir hingga lagu daerah yang dibawakan anak-anak TK Perumnas.
Tarian Penyambutan Maumere dipersembahkan siswa SMP Negeri 16 Kupang melalui Sanggar Ansisi. Para penari tampil mengenakan busana tradisional Maumere dengan dominasi warna merah dan cokelat.
Sementara itu, keberagaman budaya juga terlihat dari penampilan Sanggar Tari Pasraman Upanisadha Kupang yang membawakan Tari Sekar Jagat dari Bali serta siswa SDI Perumnas yang menampilkan tarian tradisional Rote Ndao.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang, Yosephina Getha, ST., MM., bersama Camat Kota Lama dan Plt. Lurah Nefonaek membuka rangkaian Festival Budaya Kelurahan Nefonaek.
Festival ini menjadi kelurahan ke-17 di Kota Kupang yang menyelenggarakan kegiatan festival budaya.
Dalam sambutan Wali Kota Kupang yang disampaikan pada kegiatan tersebut, ditegaskan bahwa festival budaya tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial masyarakat.
“Festival menjadi ruang merawat kekerabatan dan mempererat persatuan dan menggerakkan ekonomi kerakyatan dan semangat gotong royong. Inilah modal sosial dan berharga untuk bertumbuh dan jadi kuat. Membangun kota tidak harus secara fisik tapi membangun kekerabatan lewat budaya untuk bersatu, bersih dan kuat,” demikian pesan Wali Kota Kupang.
Menurutnya, budaya yang terus hidup dan dirawat akan melahirkan masyarakat yang kuat. Masyarakat yang kuat pada akhirnya akan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun Kota Kupang.
Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita menjadikan Kota Kupang sebagai kota kasih yang mandiri, sejahtera dan berkelanjutan.
Plt. Lurah Nefonaek, Irwanto Tulimau, menjelaskan bahwa pelaksanaan festival dilatarbelakangi keinginan untuk melestarikan budaya dan seni yang hidup di tengah masyarakat sekaligus mempererat kekeluargaan dalam keberagaman.
“Festival budaya ini akan diisi dengan kegiatan pentas budaya dari unsur sekolah dan semua unsur masyarakat, dari PAUD, SD, SMP sampai elemen masyarakat, lembaga agama dan sanggar seni budaya dengan total 11 mata lomba,” jelas Irwanto.
Festival tersebut dijadwalkan berlangsung selama 10 hari, mulai 6 hingga 18 Agustus 2026.
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, anggaran yang bersumber dari DPA Kecamatan Kota Lama sebesar Rp20 juta, ditambah dukungan dari para donatur dan masyarakat.
Irwanto menambahkan, salah satu hal istimewa dalam pelaksanaan Festival Budaya Nefonaek tahun ini adalah keterlibatan hampir seluruh unsur masyarakat.
Mulai dari pemerintah kelurahan, RT/RW, TP PKK, Kelurahan Siaga, Karang Taruna, Dasa Wisma hingga masyarakat ikut mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi kekuatan utama festival sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang bersama bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Festival Budaya Kelurahan Nefonaek pun tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan seni dan tradisi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, gotong royong dan semangat kebhinekaan di tengah masyarakat Kota Kupang. ***usgo

