KOTA KUPANG – Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kota Kupang tengah melakukan riset terhadap usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pengolahan daging sapi sebagai langkah memperkuat posisi se'i sebagai ikon kuliner Kota Kupang.
Kepala Balitbangda Kota Kupang, Ir. Solvie Y.N. Lukas pada Kamis (8/7/26), mengatakan penelitian tersebut merupakan bagian dari tugas pokok Balitbangda dalam menghasilkan kajian ilmiah yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan daerah.
"Balitbangda bertugas melakukan penelitian, pengkajian, perekayasaan hingga mendorong inovasi. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi persoalan dan potensi yang ada di masyarakat agar dapat dirumuskan menjadi program kerja pemerintah," ujar Solvie.
Ia menjelaskan, hasil penelitian memiliki peran strategis dalam proses perencanaan pembangunan. Menurutnya, Balitbangda dan Bappeda memiliki fungsi yang saling melengkapi, di mana hasil kajian menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan daerah yang berbasis data.
Pada tahun 2026, Balitbangda mengangkat penelitian berjudul "Profiling UMKM Kuliner dalam Rantai Nilai Pangan" dengan fokus pada UMKM pengolah daging sapi menjadi se'i, abon, dan dendeng.
Menurut Solvie, pemilihan se'i sebagai fokus penelitian didasarkan pada nilai historis dan popularitasnya sebagai kuliner khas Kota Kupang yang telah dikenal luas, bahkan hingga mancanegara.
"Kalau orang Nusa Tenggara Timur yang berada di luar daerah ditanya makanan apa yang paling dirindukan dari Kota Kupang, banyak yang akan menjawab se'i. Produk ini sudah menjadi identitas daerah, namun sampai sekarang belum pernah dikaji secara ilmiah sebagai ikon kuliner Kota Kupang," katanya.
Karena itu, Balitbangda ingin memberikan dukungan melalui penelitian agar pemerintah memiliki dasar yang kuat dalam menyusun kebijakan pengembangan UMKM dan industri kuliner lokal.
Dr. Malisye Sjioen, STTP., M.Si., Peneliti Muda Balitbangda menyampaikan dalam pelaksanaan riset, tim peneliti telah melakukan pengumpulan data melalui wawancara langsung dengan pelaku UMKM, observasi lapangan, serta Focus Group Discussion (FGD) di sejumlah wilayah yang memiliki potensi pengolahan daging sapi. Hasil penelitian selanjutnya akan dipresentasikan dalam seminar hasil sebelum disusun menjadi rekomendasi kepada Wali Kota Kupang.ke
Malisye menegaskan, penelitian yang difokuskan pada daging sapi bukan berarti mengabaikan potensi kuliner lainnya seperti se'i babi maupun olahan ikan tuna yang juga berkembang di Kota Kupang.
"Fokus penelitian kali ini pada daging sapi karena memiliki jangkauan konsumsi yang lebih luas secara nasional. Namun ke depan seluruh potensi kuliner khas Kota Kupang akan tetap kami dukung melalui berbagai kajian dan penelitian," jelasnya.
Balitbangda mencatat terdapat 10 UMKM yang menjadi objek penelitian. Mereka merupakan pelaku usaha yang mengolah daging sapi menjadi se'i, abon, dan dendeng, bahkan beberapa di antaranya telah beroperasi sejak tahun 1967 dan masih bertahan hingga sekarang.
UMKM tersebut antara lain Sekiran, Putri, Yudhistira, Opa Rote, Bu Pardi, Brussel, dan Aldia, serta beberapa pelaku usaha lainnya. Sejumlah UMKM bahkan telah berkembang dari kategori usaha mikro menjadi usaha menengah dengan perubahan status usaha dari Usaha Dagang (UD) menjadi Commanditaire Vennootschap (CV).
Melalui penelitian ini, Balitbangda berharap lahir rekomendasi kebijakan yang mampu memperkuat daya saing UMKM, meningkatkan nilai tambah produk lokal, sekaligus menjadikan se'i, abon, dan dendeng sapi sebagai ikon kuliner yang semakin mengangkat nama Kota Kupang di tingkat nasional maupun internasional. **usgo

