MAUMERE, MUTIARA TIMUR – Perayaan Misa Penutupan Nusra Youth Day (NYD) III di Aula Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Minggu (5/7/2026), menjadi peneguhan terakhir bagi 837 Orang Muda Katolik (OMK) dari berbagai keuskupan di wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Dalam homilinya, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maximus Regus, mengingatkan bahwa usia muda bukan alasan untuk menunda panggilan menjadi saksi Kristus di tengah Gereja maupun kehidupan bermasyarakat.
Di hadapan ratusan peserta dan umat yang memadati aula seminari, Mgr. Maximus menegaskan bahwa berakhirnya NYD III bukanlah akhir dari sebuah perjalanan iman. Sebaliknya, seluruh rangkaian kegiatan selama beberapa hari terakhir harus dimaknai sebagai awal dari perutusan baru yang akan dijalankan setiap peserta ketika kembali ke keuskupan dan parokinya masing-masing.
"Secara seremonial Nusra Youth Day memang berakhir hari ini. Namun yang sesungguhnya dimulai adalah tugas dan tanggung jawab baru. Semangat yang dibangun selama pertemuan ini harus terus hidup dan dibawa pulang untuk menggerakkan Gereja serta masyarakat," tegasnya.
Dalam homilinya, Uskup Maximus mengajak kaum muda belajar dari kisah panggilan Nabi Yeremia. Menurutnya, pengalaman Yeremia masih sangat relevan dengan kondisi orang muda saat ini yang kerap merasa belum siap menerima tanggung jawab karena menganggap diri masih terlalu muda.
Ia mengingatkan bahwa Tuhan justru memanggil seseorang bukan berdasarkan usia, melainkan kesediaan hati untuk melayani. Karena itu, rasa minder ataupun keraguan tidak boleh menjadi alasan untuk menolak panggilan Tuhan.
Mengutip sabda Tuhan kepada Nabi Yeremia, Mgr. Maximus kembali menegaskan pesan, "Jangan katakan aku masih muda." Baginya, kalimat tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan usia.
Dengan gaya penyampaian yang mengundang senyum para peserta, ia bahkan menambahkan sebuah refleksi yang disambut antusias.
"Menurut saya, ada satu kalimat yang seolah belum diucapkan. Tuhan seperti mau berkata: jangan katakan aku masih muda, karena belum tentu engkau menjadi tua nanti," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbuat baik dan melayani tidak selalu menunggu masa depan. Masa muda justru merupakan waktu terbaik untuk mulai mengambil bagian dalam karya pelayanan, membangun persaudaraan, serta menghadirkan nilai-nilai Injil di tengah kehidupan sosial.
Menurut Uskup Maximus, Gereja membutuhkan orang muda yang berani keluar dari zona nyaman, memiliki semangat melayani, serta mampu menjadi pembawa harapan di tengah berbagai tantangan zaman. Semangat sinodal yang selama beberapa hari dibangun dalam NYD III diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, melainkan menjadi gaya hidup baru bagi setiap peserta.
Ia juga mengajak seluruh OMK agar tidak hanya aktif dalam kegiatan-kegiatan Gereja, tetapi turut mengambil peran nyata dalam membangun masyarakat, menjaga persatuan, serta menjadi teladan melalui sikap hidup yang mencerminkan kasih Kristus.
Perayaan Ekaristi penutupan tersebut sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian Nusra Youth Day III yang berlangsung di Kabupaten Sikka sejak 1 hingga 5 Juli 2026 dengan mengusung tema "Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa." Selama lima hari pelaksanaan, para peserta mengikuti berbagai kegiatan rohani, pembinaan iman, diskusi, aksi sosial, pentas seni budaya, hingga perayaan liturgi yang mempererat persaudaraan OMK lintas keuskupan.
Misa penutupan berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus penuh sukacita. Meski kegiatan resmi telah usai, pesan yang dibawa pulang para peserta menjadi jelas: panggilan untuk menjadi murid Kristus tidak mengenal batas usia. Dari Ritapiret, semangat orang muda diharapkan terus menyala dan menjadi kekuatan baru bagi Gereja serta bangsa. **ah/usgo


