MAUMERE, MUTIARA TIMUR – Gelora Samador kembali menjadi saksi sejarah perjalanan Gereja Katolik di Indonesia. Stadion yang pernah menjadi lokasi Perayaan Ekaristi Agung bersama Paus Yohanes Paulus II pada 11 Oktober 1989 itu kini kembali dipenuhi semangat iman melalui pembukaan Nusra Youth Day (NYD) III, yang diikuti 837 Orang Muda Katolik (OMK) dari sembilan keuskupan di wilayah Nusa Tenggara dan Bali.
Ratusan peserta memadati Gelora Samador setelah mengikuti parade budaya dari kawasan Jalan Ahmad Yani, Kota Baru, menuju lokasi perayaan. Keberagaman pakaian adat dan budaya yang ditampilkan masing-masing kontingen menjadi simbol persaudaraan Gereja yang hidup dalam keberagaman.
Perayaan Ekaristi pembukaan dipimpin Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, didampingi Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, Uskup Weetabula Mgr. Edmund Woga, serta Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden.
Dalam sapaan pembukanya, Mgr. Edwaldus menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta.
"Selamat datang di Nian Tana Sikka. Pintu rumah kami terbuka, hati kami menyambutmu," ujarnya.
Di hadapan ratusan orang muda dan ribuan umat yang hadir, Mgr. Edwaldus kemudian mengajak seluruh peserta menoleh kembali pada sejarah besar yang pernah terjadi di tempat tersebut.
Menurutnya, Gelora Samador bukan sekadar stadion, melainkan ruang suci yang menyimpan jejak perjalanan iman Gereja Katolik di Indonesia.
Flashback Kunjungan Paus Yohanes Paulus II
Mgr. Edwaldus mengingatkan bahwa pada 11 Oktober 1989, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Maumere dalam rangka perjalanan apostoliknya ke Indonesia. Saat itu, Sri Paus memimpin Perayaan Ekaristi Agung di stadion Gelora Samador dan dihadiri lebih dari 100 ribu umat yang datang dari berbagai wilayah Flores dan Nusa Tenggara.
Kunjungan tersebut menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah bagi Gereja Katolik di Flores. Sejak pagi, lautan manusia memenuhi stadion dan sepanjang jalan menuju lokasi untuk menyambut pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang datang membawa pesan damai, kasih, dan pengharapan.
Dalam homilinya, Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan rasa syukur atas kesetiaan umat Katolik di Flores yang telah menjaga dan mengembangkan iman sejak dibawa para misionaris lebih dari empat abad silam. Ia juga memberikan penghargaan kepada para imam, biarawan-biarawati, katekis, dan umat awam yang selama bertahun-tahun menjadi penjaga kehidupan Gereja di tengah berbagai tantangan.
Secara khusus, Paus memberikan perhatian besar kepada kaum muda. Ia mengajak mereka untuk tidak takut menjadi saksi Kristus, menjaga iman, serta mengambil bagian dalam membangun Gereja dan bangsa Indonesia.
Mengacu pada julukan Flores sebagai Nusa Bunga, Paus bahkan mengajak umat menjadi "kembang-kembang iman" yang menyebarkan keharuman kasih Kristus ke mana pun mereka diutus.
Dalam kunjungan itu pula, Paus Yohanes Paulus II memberkati masyarakat Nian Tana Sikka serta Patung Kristus Raja Semesta Alam yang hingga kini menjadi pelindung Keuskupan Maumere dan Kota Maumere. Seusai agenda di Maumere, Sri Paus juga bermalam di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, yang kemudian dikenal luas dengan sebutan "Vatikan Semalam" karena pernah menjadi tempat bermalam Paus.
Bagi Mgr. Edwaldus, perhatian besar Paus Yohanes Paulus II terhadap kaum muda terus menjadi inspirasi bagi Gereja hingga saat ini.
"Orang muda adalah Gereja saat ini. Perhatian beliau terhadap orang muda telah menginspirasi Gereja dalam karya pastoralnya," katanya.
Karena itu, penyelenggaraan Nusra Youth Day III di Gelora Samador memiliki makna yang sangat mendalam. Tempat yang dahulu menjadi ruang perjumpaan Paus dengan umat kini kembali dipenuhi generasi muda Katolik yang datang untuk memperdalam iman, membangun persaudaraan, serta mempersiapkan diri menjadi pelayan Gereja dan masyarakat.
Mgr. Edwaldus mengajak seluruh peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk saling mengenal, bertukar pengalaman iman, dan memperkuat semangat pelayanan.
"Orang muda adalah aset bangsa dan negara. Manfaatkan kesempatan dalam Nusra Youth Day III ini sebaik mungkin agar membawa manfaat bagi pembangunan Gereja dan bangsa," pesannya.
Nusra Youth Day III diikuti 837 Orang Muda Katolik dari Keuskupan Denpasar, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, Keuskupan Weetabula, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Maumere, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Ruteng, dan Keuskupan Labuan Bajo.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta tinggal bersama keluarga-keluarga di wilayah Paroki Nita sebagai bagian dari pengalaman hidup menggereja. Mereka juga mengikuti seminar, pendalaman iman, ziarah ke tempat-tempat rohani, kunjungan ke Gua Maria dan taman doa, serta berbagai kegiatan pembinaan kepemimpinan.
Pelaksanaan Nusra Youth Day III di Gelora Samador menjadi penegasan bahwa warisan rohani yang ditinggalkan Paus Yohanes Paulus II tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Tiga puluh tujuh tahun kemudian, semangat itu kembali dihidupkan melalui perjumpaan ratusan orang muda Katolik yang dipersiapkan menjadi pilar Gereja dan pembawa harapan bagi Indonesia.
Dari Gelora Samador, jejak sejarah kembali bertemu dengan masa depan. Di tempat yang sama, tempat Paus Yohanes Paulus II pernah menyalakan api iman, kini 837 Orang Muda Katolik dipanggil untuk melanjutkan nyala itu demi Gereja dan bangsa. *ah/usgo

