Maumere – Di tengah banyak orang mengejar pekerjaan yang dianggap bergengsi, Yusuf Porwaila, S.H., yang lebih akrab disapa Bung Ale Ambon, justru memberikan pelajaran hidup yang sederhana namun bermakna tidak ada pekerjaan yang lebih mulia daripada pekerjaan yang dilakukan dengan jujur.
Sebagai seorang jurnalis, Bung Ale dikenal aktif menyuarakan berbagai persoalan masyarakat melalui karya jurnalistiknya. Namun ketika malam tiba, terutama setiap malam Minggu, ia berganti peran. Di kawasan Cafe Night (CFN), Jalan Eltari, Maumere, ia berdiri di belakang sebuah lapak sederhana, memanggang jagung, membakar pisang, merebus ubi, pisang, jagung, hingga menyajikan ikan bakar untuk para pengunjung.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin biasa. Namun bagi Bung Ale, lapak kecil tersebut bukan sekadar tempat berjualan. Di sanalah ia sedang menjaga sebuah warisan yang perlahan mulai dilupakan pangan lokal.
Di tengah maraknya makanan cepat saji dan budaya konsumsi modern, Bung Ale memilih memperkenalkan kembali jagung, ubi, pisang, dan ikan sebagai makanan yang telah menghidupi masyarakat Flores selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Saya tidak sedang mencari gengsi. Saya hanya ingin membuktikan bahwa rezeki tidak hanya datang dari satu profesi. Selama pekerjaan itu halal dan bermanfaat, tidak ada alasan untuk malu," ujar Bung Ale.
Menurutnya, masyarakat Flores pernah hidup dengan ketahanan pangan yang luar biasa. Ketika beras masih sulit diperoleh, masyarakat bertahan dengan hasil kebun sendiri. Jagung, ubi, pisang, singkong, dan berbagai tanaman lokal menjadi sumber kehidupan yang membuat masyarakat tetap sehat dan kuat.
Kini keadaan mulai berubah. Anak-anak muda lebih mengenal makanan instan dibanding pangan lokal yang dahulu menjadi kebanggaan daerah.
Melihat kenyataan itu, Bung Ale merasa terpanggil melakukan sesuatu, meski hanya melalui sebuah lapak kecil di pinggir jalan.
"Saya ingin anak-anak muda tahu bahwa makanan lokal bukan makanan orang miskin. Ini makanan yang membesarkan leluhur kita. Nilainya bukan hanya soal rasa, tetapi juga sejarah, budaya, kesehatan, dan penghargaan kepada para petani," katanya.
Baginya, membeli satu tongkol jagung bakar atau sepotong ubi rebus bukan sekadar membeli makanan. Di baliknya ada petani yang bekerja sejak subuh, ada tanah yang terus menghasilkan kehidupan, dan ada budaya yang harus terus diwariskan.
Usaha yang dijalankan Bung Ale juga menjadi pesan bagi siapa saja agar tidak malu memulai usaha dari hal-hal kecil. Menurutnya, gelar pendidikan maupun profesi bukan alasan untuk menolak pekerjaan yang halal.
"Banyak orang ingin sukses, tetapi malu memulai dari bawah. Padahal pohon besar juga tumbuh dari benih kecil. Yang penting bukan apa pekerjaannya, tetapi bagaimana kita menjalaninya dengan jujur dan penuh tanggung jawab," ujarnya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang berani membuka usaha, sekecil apa pun bentuknya. Sebab, usaha kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh bukan hanya menghidupi keluarga, tetapi juga membuka peluang bagi orang lain dan menggerakkan ekonomi daerah.
Di balik asap jagung bakar, hangatnya jagung rebus, manisnya pisang bakar, lembutnya ubi rebus, dan lezatnya ikan bakar di lapak sederhana itu, tersimpan sebuah pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar berdagang.
Bung Ale Ambon sedang mengajarkan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari jabatan tinggi atau pakaian rapi di balik meja kantor. Kadang, kesuksesan dimulai dari keberanian untuk bekerja tanpa malu, mencintai produk daerah sendiri, menghargai petani, dan percaya bahwa pekerjaan yang halal selalu membawa kehormatan.
Di tengah dunia yang terus berubah, Bung Ale memilih tetap berdiri di pinggir jalan, bukan karena tidak memiliki pilihan, tetapi karena ia ingin membuktikan bahwa menjaga pangan lokal dan menginspirasi orang lain bisa dimulai dari hal-hal yang paling sederhana. Itulah makna sesungguhnya dari bekerja dengan hati. **ah


