Maumere – Di saat banyak sekolah baru berlomba membangun gedung dan mengejar jumlah peserta didik, SMK Habibola di Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, memilih memulai dari fondasi yang paling mendasar: meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sebanyak 11 guru dikirim mengikuti pelatihan intensif di dua lokasi berbeda sebagai langkah awal membangun sekolah vokasi yang unggul dan berdaya saing.
Kepala SMK Habibola, Anggelinus Heni, mengatakan kualitas guru menjadi penentu utama keberhasilan pendidikan. Karena itu, sebelum siswa memenuhi ruang kelas, para pendidik terlebih dahulu dipersiapkan agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan potensi daerah.
"Kalau ingin melahirkan lulusan yang berkualitas, maka gurunya harus berkualitas lebih dulu. Kami ingin membangun sekolah ini dari manusianya, bukan hanya dari bangunannya," ujar Anggelinus.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, empat guru mengikuti pelatihan pertanian di Camp Pertanian Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, selama enam bulan. Selama pelatihan, mereka dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai pertanian modern, pengelolaan lahan produktif, hingga pengembangan usaha pertanian yang bernilai ekonomi.
Sementara itu, tujuh guru lainnya mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi di SMKN Talibura selama lima hari, mulai 13 hingga 17 Juni 2026. Pelatihan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas guru dalam menerapkan pembelajaran vokasi yang lebih inovatif, adaptif, dan sesuai kebutuhan peserta didik.
Seluruh kegiatan peningkatan kompetensi tersebut didampingi Yayasan Simpul Indonesia sebagai lembaga mitra yang mendukung pengembangan kualitas pendidikan di SMK Habibola.
Menurut Anggelinus, pengiriman guru mengikuti pelatihan merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan lulusan yang siap bekerja, siap berwirausaha, dan mampu mengembangkan potensi lokal, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata.
"Kami ingin anak-anak yang belajar di sini tidak hanya memperoleh ijazah, tetapi juga keterampilan hidup. Mereka harus mampu menciptakan peluang kerja, mengelola potensi daerah, bahkan menjadi pelaku usaha di kampung halamannya sendiri," katanya.
Selain memperkuat kualitas tenaga pendidik, SMK Habibola juga menerapkan kebijakan pendidikan yang berpihak kepada masyarakat. Biaya pendidikan ditetapkan sebesar Rp100 ribu per bulan atau Rp1,2 juta per tahun. Namun, nominal tersebut tidak diberlakukan secara kaku karena disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.
"Kami tidak ingin ada anak yang gagal bersekolah hanya karena persoalan biaya. Ada yang membayar penuh, ada yang mendapat keringanan hingga 50 persen, bahkan ada yang dibebaskan dari biaya pendidikan setelah melalui proses verifikasi dan survei lapangan," jelas Anggelinus.
Penentuan besaran biaya dilakukan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga, jumlah tanggungan orang tua, status anak yatim atau piatu, kepesertaan dalam program bantuan sosial pemerintah, hingga hasil kunjungan langsung ke rumah calon peserta didik.
Lebih jauh, Anggelinus mengungkapkan bahwa SMK Habibola tidak hanya akan menjadi pusat pendidikan vokasi, tetapi juga akan dikembangkan menjadi kawasan agrowisata edukatif. Konsep tersebut mengintegrasikan pembelajaran pertanian modern, peternakan, kewirausahaan, dan pariwisata dalam satu kawasan.
"Kami ingin masyarakat yang datang berwisata ke Ogor Paret, Nenbura, Bola, maupun Mapitara juga menjadikan SMK Habibola sebagai tujuan. Mereka dapat melihat langsung praktik pertanian modern, hasil karya siswa, hingga berbagai inovasi yang lahir dari sekolah ini. Harapan kami, SMK Habibola menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat," ujarnya.
Bagi Anggelinus, membangun sekolah tidak cukup dengan menyediakan ruang belajar. Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia yang kelak akan mengisi ruang-ruang tersebut. Karena itulah, langkah pertama yang ditempuh SMK Habibola adalah menempa para guru, agar dari tangan mereka lahir generasi muda Nian Tana yang unggul, mandiri, dan mampu membawa perubahan bagi daerahnya. * ah

