KUPANG – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa kegiatan budaya yang digelar masyarakat merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan budaya masyarakat di Kelurahan Maulafa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Dalam sambutannya, Wali Kota menekankan bahwa Pancasila tidak boleh hanya dihafal atau diucapkan saat upacara, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah kehidupan masyarakat.
“Pancasila itu tidak boleh hanya dihafal saat di sekolah, tidak boleh hanya diucapkan saat upacara-upacara. Tapi dia harus hadir nyata dalam wujud tindakan kita sehari-hari,” kata Christian Widodo.
Menurutnya, salah satu bentuk nyata pengamalan Pancasila adalah melalui pelaksanaan event budaya yang mampu mempererat persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan masyarakat lintas suku dan etnis.
“Oleh karena itu malam hari ini salah satu wujud nyata kita mengamalkan Pancasila adalah dengan mengadakan event-event budaya seperti ini. Pancasila itu inti sarinya gotong royong, kekeluargaan, kebersamaan, persaudaraan,” ujarnya.
Ia menyebut suasana kebersamaan yang terlihat dalam kegiatan tersebut mencerminkan sila ketiga Pancasila, yakni Persatuan Indonesia. Warga dari berbagai latar belakang budaya tampak hadir bersama mengenakan pakaian adat yang berbeda-beda namun tetap hidup rukun dan harmonis.
“Malam ini event budaya ini sama persis dengan nilai-nilai Pancasila. Kita sedang mempererat persaudaraan, persahabatan, kebersamaan. Ada yang pakai baju adat Alor, Rote, Sabu dan Timor, semua duduk bersama akur dan rukun,” katanya.
Christian juga menegaskan bahwa keberagaman di Kota Kupang bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan yang menyatukan masyarakat.
“Keberagaman itu bukan menjadi penghalang, tapi menjadi kekuatan. Dia bukan menjadi jarak pemisah tetapi menjadi jembatan. Itulah keberagaman di Kota Kupang,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota juga menyinggung kebijakan penghematan anggaran yang dilakukan Pemerintah Kota Kupang. Ia mengaku memilih tidak membeli mobil dinas baru demi mengalihkan anggaran untuk kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, dirinya bersama Wakil Wali Kota dan pimpinan DPRD Kota Kupang sepakat tidak mengganti kendaraan dinas baru meski secara aturan diperbolehkan.
“Kalau saya beli mobil baru lagi sayang. Itu Fortuner satu mobil hampir Rp800 juta. Kalau lima mobil berarti sekitar Rp4 miliar. Jadi kami memilih hemat dan uang itu bisa dipakai bantu masyarakat,” jelasnya.
Anggaran yang dihemat tersebut, lanjut Christian, dapat digunakan untuk membantu perbaikan jalan, rumah ibadah, serta mendukung kebutuhan masyarakat lainnya.
Pada kesempatan itu ia juga mengajak seluruh masyarakat menjaga harmoni, kebersihan lingkungan, dan mendukung pelaku UMKM lokal yang hadir dalam kegiatan budaya tersebut.
“Saya titip jaga kebersihan. Setelah acara tolong sampah dipungut. Dan saya titip ASN-ASN yang hadir nanti belanja di UMKM supaya ekonomi masyarakat berputar,” pungkasnya. **go
