KUPANG – Seminar Nasional Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang bertema "Iman yang Berakar di Tanah: Ekoteologi dan Budaya Nusa Tenggara Timur" menghasilkan sejumlah rekomendasi yang diharapkan dapat memperkuat pendidikan, pelestarian budaya, serta kesadaran ekologis di Kota Kupang dan Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan yang berlangsung di Kampus IAKN Kupang, Kamis (23/7/2026) itu menghadirkan narasumber dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari teologi, pemerintahan, pendidikan hingga budaya.
Ketua Panitia Seminar, Dr. Simon Kasse, M.Pd.K, mengatakan seminar tersebut merupakan salah satu program Pascasarjana IAKN Kupang untuk membangun kesadaran bahwa tanah memiliki makna yang sangat penting, bukan hanya sebagai sumber kehidupan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya manusia.
"Tema hari ini mengajak kita memahami asal-usul kehidupan. Tanah merupakan bagian yang tidak terpisahkan karena mendapat mandat dari Allah untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan yang menghasilkan buah. Hasilnya dikelola manusia dan menjadi makanan yang menghidupi kehidupan manusia," ujar Simon.
Menurutnya, di tengah perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi, masyarakat perlu terus diingatkan untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan alam.
"Seminar ini memberikan edukasi kepada mahasiswa pascasarjana, akademisi, dan pemerhati pendidikan agar nantinya mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tetap mengelola tanah secara baik sehingga membawa kesejahteraan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Seminar ini menghadirkan empat materi utama yang membahas pelestarian ekologi dari berbagai perspektif. Materi "Teologi dan Sikap Gereja dalam Melestarikan dan Merawat Ekologi" disampaikan oleh Dr. Ebenhaezer Nuban Timo. Selanjutnya, Dr. Talita Tlonaen, M.Pd membawakan materi "Budaya dalam Melestarikan dan Merawat Ekologi".
Sementara itu, Isidorus Lilijawa, M.Pd memaparkan materi "Kebijakan Pemerintah dalam Melestarikan dan Merawat Ekologi di Wilayah Pemerintah Kota Kupang, NTT", sedangkan Dr. Daud Saleh Luji, M.Pd., M.Th menyampaikan materi "Perspektif Pendidikan Agama Kristen dalam Melestarikan dan Merawat Ekologi".
Keempat materi tersebut saling melengkapi dengan menyoroti pentingnya sinergi antara gereja, budaya, pemerintah, dan dunia pendidikan dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian tanah dan lingkungan sebagai bagian dari iman, identitas budaya, dan keberlanjutan kehidupan di Nusa Tenggara Timur.
Simon menjelaskan seminar diikuti sekitar 50 peserta yang hadir secara langsung maupun virtual. Peserta berasal dari Pascasarjana IAKN Kupang, Sekolah Tinggi Teologi SoE, Sekolah Tinggi Agama Kristen Reformasi Informatika Naikbaki, serta kalangan akademisi lainnya.
"Ada narasumber dari kalangan teolog, pemerintahan Kota Kupang, pendidikan, dan pemerhati budaya. Dengan latar belakang yang berbeda ini, peserta mendapatkan pemahaman yang lebih utuh mengenai hubungan iman, tanah, budaya, dan kehidupan masyarakat," jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, seluruh materi seminar akan dihimpun menjadi prosiding yang diterbitkan dalam bentuk buku.
"Kami bersama para dosen dan narasumber sepakat mengumpulkan seluruh tulisan menjadi prosiding yang akan dicetak dan dibagikan kepada masyarakat sebagai bahan belajar. Selain itu juga menjadi referensi bagi dosen ketika melaksanakan pengabdian kepada masyarakat," ungkap Simon.
Tidak hanya itu, seminar juga menghasilkan rekomendasi bagi dunia pendidikan di Kota Kupang, yakni mendorong penguatan materi ekoteologi dan budaya sebagai muatan pembelajaran lokal di sekolah.
"Output lainnya adalah memberikan nilai tambah bagi kurikulum lokal. Materi ekoteologi dan budaya perlu menjadi bagian dari pendidikan agar sejak dini generasi muda memahami pentingnya menjaga tanah, lingkungan, dan budaya sebagai identitas mereka," katanya.
Simon menegaskan bahwa budaya tidak dapat dipisahkan dari tanah karena manusia sendiri merupakan bagian dari tanah dalam sejarah penciptaannya.
"Budaya itu tidak terpisahkan dari tanah. Yang menggerakkan budaya adalah manusia, dan manusia merupakan bagian dari tanah dalam sejarah kehidupannya. Tubuh manusia berasal dari tanah, sedangkan roh berasal dari Allah. Karena itu budaya penting untuk menjaga identitas manusia sebagai makhluk yang bertuhan sekaligus makhluk yang berbudaya," tegasnya.
Ia berharap hasil seminar ini menjadi kontribusi nyata bagi Kota Kupang dalam membangun kesadaran ekologis dan melestarikan budaya lokal di tengah kehidupan masyarakat yang semakin majemuk serta pesatnya perkembangan teknologi.
"Perkembangan teknologi menjadi tantangan bagi budaya. Karena itu hasil seminar ini diharapkan menjadi bahan ajar, bahan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya mulai dari lingkungan sekolah hingga masyarakat luas," pungkas Simon. **usgo
