Maumere — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang sebagai salah satu program strategis nasional untuk meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia, kembali menuai sorotan dari wilayah 3T Kabupaten Sikka. Di tengah berjalan-nya program di sejumlah daerah perkotaan, anak-anak di pelosok justru mengaku belum tersentuh manfaatnya.
Sorotan itu datang dari SMP Santo Antonius Bogantar, Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, di mana hingga kini para siswa mengaku hanya mengetahui program MBG melalui informasi luar sekolah, tanpa pernah merasakannya secara langsung.
Kepala SMP Santo Antonius Bogantar, Nikodemus Pedor, menyampaikan kritik keras terkait arah pelaksanaan program yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada wilayah 3T.
“Program MBG seharusnya menjadi prioritas untuk daerah 3T karena di sini justru banyak anak yang sangat membutuhkan asupan gizi. Tapi kenyataannya, yang lebih dulu merasakan justru sekolah-sekolah di wilayah yang relatif lebih mampu,” ujar Nikodemus saat diwawancarai.
Ia menilai ketimpangan tersebut mencerminkan adanya kesenjangan dalam pelaksanaan program yang seharusnya bersifat merata.
“Jangan sampai program sebesar ini hanya terdengar di desa, tetapi tidak pernah benar-benar hadir di meja makan anak-anak kami,” tegasnya.
Nikodemus juga mengibaratkan kondisi tersebut seperti ketidaktepatan sasaran dalam distribusi bantuan.
“Ibarat satu kilogram garam, kalau dituang ke laut tentu tidak ada manfaatnya. Tapi kalau diberikan ke dapur yang kosong, itu sangat berarti,” katanya.
Menurutnya, kelompok yang paling membutuhkan intervensi gizi adalah ibu hamil, balita, dan anak usia dini, bukan hanya siswa di wilayah yang secara ekonomi sudah lebih baik.
Keluhan senada juga disampaikan oleh siswa-siswi SMP Santo Antonius Bogantar kepada media ini. Mereka mengaku kecewa karena hingga saat ini belum pernah mendapatkan program MBG, sementara teman-teman mereka di kota sudah lebih dulu menikmatinya.
“Kami dengar MBG sudah jalan di kota. Kami senang, tapi juga sedih karena di sini belum pernah dapat. Kami juga ingin seperti mereka,” ungkap salah satu siswa.
Siswa lainnya berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi di wilayah 3T. Bagi mereka, program yang digaungkan secara nasional itu masih sebatas cerita yang belum menjadi kenyataan di ruang kelas.
Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya telah menegaskan bahwa wilayah 3T menjadi salah satu prioritas utama dalam perluasan Program MBG. Pemerintah menyatakan komitmen untuk memperluas jangkauan hingga ke daerah terpencil, kepulauan, dan wilayah dengan tingkat kerawanan pangan tinggi.
Namun di lapangan, kondisi berbeda masih dirasakan sejumlah sekolah di pelosok Sikka. Anak-anak di daerah ini masih menunggu kapan program yang dijanjikan benar-benar hadir secara nyata, bukan hanya menjadi wacana pembangunan.
Kritik dari SMP Santo Antonius Bogantar ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program nasional tidak hanya diukur dari jumlah daerah yang sudah tersentuh, tetapi dari sejauh mana negara mampu menjangkau mereka yang paling jauh dari pusat perhatian. **ah

