Maumere — Di tengah gencarnya pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah Indonesia, harapan masih menggantung di sejumlah wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kabupaten Sikka. Salah satunya di Kecamatan Doreng, tempat banyak siswa hingga kini belum merasakan manfaat program yang menjadi prioritas nasional tersebut.
Bagi anak-anak di pelosok, Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar bantuan makanan. Program itu dipandang sebagai bentuk kehadiran negara bagi mereka yang selama ini hidup dengan berbagai keterbatasan akses, baik pendidikan, kesehatan, maupun kebutuhan dasar lainnya.
Guru SMA Negeri Restorasi Doreng, Anselmus Stephanus Gogu, menilai pelaksanaan program tersebut belum sepenuhnya mencerminkan semangat pemerataan yang selama ini digaungkan pemerintah.
“Persoalan pemerataan belum terpenuhi dengan baik. Daerah 3T yang sebenarnya memiliki tingkat stunting dan persoalan gizi yang lebih tinggi justru belum tersentuh secara langsung. Sementara program lebih banyak berjalan di daerah perkotaan yang secara umum kebutuhan gizinya lebih terjamin,” ujar Anselmus.
Menurutnya, kondisi geografis wilayah 3T menghadirkan tantangan tersendiri bagi para siswa. Tidak sedikit anak yang harus berjalan jauh melewati medan yang sulit hanya untuk sampai ke sekolah setiap pagi.
Dalam situasi tersebut, kebutuhan sarapan sering kali terabaikan karena keterbatasan ekonomi keluarga maupun kondisi perjalanan yang harus ditempuh.
“Anak-anak di daerah 3T berjuang lebih keras dibandingkan banyak daerah lain. Mereka harus bangun lebih pagi, berjalan jauh, dan terkadang berangkat sekolah tanpa sarapan. Justru mereka yang membutuhkan perhatian lebih dalam pemenuhan gizi,” katanya.
Anselmus berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi terhadap pola distribusi program agar daerah yang selama ini berada di pinggiran pembangunan mendapat perhatian lebih besar.
“Kami berharap pemerintah merancang ulang program prioritas ini. Setidaknya sesekali mulailah dari belakang, jangan setiap kali program turun selalu dimulai dari depan. Kami juga membutuhkan pemenuhan gizi yang layak,” ujarnya.
Ia mengaku khawatir jika masa program berakhir sebelum menjangkau sekolah-sekolah di wilayah terpencil.
“Jangan sampai setelah program ini selesai, anak-anak kami hanya mendengar bahwa pernah ada Program Makan Bergizi Gratis. Mereka mencatatnya sebagai sejarah yang tidak pernah mereka nikmati,” katanya.
Harapan serupa datang dari para siswa.
Nona Yuyun, siswi SMA Negeri Restorasi Doreng, mengaku sering mendengar tentang program MBG yang telah berjalan di berbagai daerah. Namun hingga kini dirinya dan teman-temannya belum pernah merasakan manfaat program tersebut.
“Kami sering dengar tentang MBG dari berita dan media sosial. Kami berharap suatu hari program itu juga datang ke sekolah kami. Kami juga ingin merasakan apa yang dirasakan teman-teman di daerah lain,” tuturnya.
Sementara itu, Cindy Lasmini berharap pemerintah dapat melihat kondisi anak-anak yang hidup jauh dari pusat kota.
“Kami juga punya cita-cita dan semangat belajar yang sama. Semoga pemerintah bisa melihat kami yang ada di pelosok dan memberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan program ini,” ujarnya.
Bagi siswa-siswi di Kecamatan Doreng, Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya tentang makanan yang disajikan di sekolah. Lebih dari itu, program tersebut menjadi simbol keadilan dan pemerataan pembangunan bagi anak-anak yang selama ini berada jauh dari pusat perhatian.
Mereka tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya berharap mendapat kesempatan yang sama. Sebab di balik jalan-jalan terjal menuju sekolah dan keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari, tersimpan harapan sederhana: merasakan langsung program yang selama ini baru mereka dengar namanya. **ah
