Maumere – Pelayanan kesehatan di Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, kembali menuai sorotan keras. Ambulance milik Puskesmas Wualadu dilaporkan sudah sekitar enam bulan tidak beroperasi akibat kerusakan, namun hingga kini belum terlihat adanya langkah nyata dari pihak terkait untuk memperbaikinya.
Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat karena ambulance merupakan fasilitas vital dalam pelayanan kesehatan darurat, terutama bagi warga di wilayah pedalaman yang membutuhkan akses cepat menuju rumah sakit rujukan.
Warga menilai lambannya penanganan kerusakan kendaraan darurat itu mencerminkan lemahnya perhatian terhadap keselamatan masyarakat kecil yang bergantung pada layanan kesehatan pemerintah.
Seorang warga Kecamatan Doreng, Alfons Adrianto, meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka dan Pemerintah Kabupaten Sikka segera turun tangan sebelum keterlambatan pelayanan medis benar-benar memakan korban.
“Kami sebagai masyarakat berharap agar pihak dinas segera bertindak memperbaiki ambulance yang sudah lama rusak. Jangan biarkan kendaraan darurat ini hanya jadi besi tua, sebab nyawa manusia lebih berharga daripada besi,” ujar Alfons.
Menurutnya, keberadaan ambulance sangat penting untuk penanganan pasien kritis, ibu melahirkan, maupun korban kecelakaan yang membutuhkan rujukan cepat ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai.
“Semoga secepatnya ada tindak lanjut sehingga pelayanan kesehatan kembali berjalan dengan baik,” tambahnya.
Selain persoalan ambulance, masyarakat juga mengeluhkan beban administrasi rujukan pasien yang disebut masih sering ditanggung sendiri oleh keluarga pasien, termasuk biaya fotokopi berkas administrasi.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Puskesmas Habibola, Virginus Sabinus, mengakui keterbatasan fasilitas dan anggaran yang dihadapi pihaknya, terutama dalam mendukung operasional Puskesmas Wualadu yang merupakan puskesmas pemekaran.
Menurut Virginus, ambulance yang digunakan saat ini merupakan kendaraan lama dengan usia operasional sekitar 15 tahun sehingga kondisinya sudah tidak lagi maksimal untuk menunjang pelayanan kesehatan masyarakat.
“Ambulance itu memang sudah cukup tua dan kondisinya mengalami kerusakan. Kami juga menghadapi keterbatasan anggaran untuk melakukan perbaikan karena kondisi manajemen di Puskesmas Wualadu saat ini belum berjalan optimal,” jelasnya.
Ia juga membenarkan bahwa dalam beberapa kondisi, kebutuhan administrasi seperti fotokopi dokumen pasien masih dibebankan kepada keluarga pasien akibat keterbatasan biaya operasional dan alat tulis kantor (ATK).
“Kadang memang pasien diminta membantu fotokopi administrasi karena keterbatasan ATK. Persediaan operasional juga masih menunggu dari puskesmas induk,” ungkapnya.
Virginus mengatakan, persoalan lain yang turut memengaruhi pelayanan di Puskesmas Wualadu adalah belum definitifnya jabatan kepala puskesmas, sehingga berdampak pada tata kelola dan pengambilan kebijakan internal.
“Kami sudah melakukan pertemuan bersama pemerintah kecamatan dan ada rekomendasi agar segera disampaikan kepada Bupati supaya ada kepala puskesmas definitif. Harapannya supaya manajemen pelayanan bisa lebih baik,” katanya.
Selain itu, ia menyebut jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Wualadu juga masih sangat terbatas. Saat ini, tenaga yang tersedia hanya sekitar 10 orang untuk melayani masyarakat di wilayah tersebut.
“Tenaga kesehatan di sana memang masih sangat minim. Karena itu kami berharap ada perhatian serius, baik penambahan personel maupun dukungan fasilitas pelayanan,” tambahnya.
Virginus menegaskan bahwa sejak awal peresmian Puskesmas Wualadu sebagai puskesmas pemekaran, pihak Puskesmas Habibola terus membantu operasional pelayanan kesehatan semampunya.
Namun demikian, masyarakat berharap persoalan pelayanan kesehatan di Kecamatan Doreng tidak terus dibiarkan berlarut-larut. Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Sikka dan Dinas Kesehatan segera mengambil langkah konkret agar keselamatan warga tidak terus dipertaruhkan akibat buruknya fasilitas kesehatan.
“Kalau ambulance saja dibiarkan rusak selama berbulan-bulan, bagaimana masyarakat bisa merasa aman saat kondisi darurat terjadi?” ungkap salah seorang warga.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan masyarakat tersebut meski telah dihubungi media ini melalui pesan WhatsApp. **arishalilintar
