Maumere — Aula Kantor Pusat KSP Kopdit Obor Mas di Jalan Kesehatan, Kota Maumere, Jumat sore, 29 Mei 2026, dipenuhi tokoh penting dari pemerintah pusat, daerah, hingga gerakan koperasi nasional. Di tempat itu, Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, melontarkan pesan kuat tentang arah baru koperasi di Indonesia: koperasi harus berani masuk ke sektor produktif dan menjadi penggerak utama ekonomi rakyat.
Suasana diskusi dalam agenda “Ngopi Bareng” berlangsung hangat namun sarat pesan strategis. Forum yang mengusung tema “Membangun Sinergi antara KSP Kopdit Obor Mas dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih” itu menjadi bagian dari rangkaian Rapat Anggota Tahunan (RAT) XLII KSP Kopdit Obor Mas Tahun Buku 2025.
Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono, Gubernur NTT Melki Laka Lena, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, Ketua DPRD Kabupaten Sikka Stef Sumandi, Direktur Utama LPDB-KUMKM Krisdianto Soedarmono, General Manager KSP Kopdit Obor Mas Leonardus Frediyanto Moat Lering, unsur Forkopimda, Danlanal Maumere, Dandim 1603/Sikka, Kapolres Sikka, pengurus koperasi, pelaku UMKM, hingga tokoh masyarakat dari berbagai wilayah di Flores.
Sebelum menuju Kantor Pusat KSP Kopdit Obor Mas, Menteri Koperasi RI bersama rombongan lebih dahulu tiba di Bandara Frans Seda Maumere dan disambut langsung Bupati Sikka bersama jajaran Forkopimda dengan pengalungan kain tenun khas Sikka sebagai simbol penghormatan adat kepada tamu negara.
Dalam forum tersebut, Gubernur NTT Melki Laka Lena menegaskan bahwa koperasi di NTT sudah saatnya keluar dari pola lama yang hanya bergerak di sektor simpan-pinjam.
“NTT sudah lama dikenal sebagai provinsi koperasi. Aset koperasi kita sudah lebih dari Rp10 triliun, anggota juga banyak, tetapi kita masih berkutat di simpan pinjam saja,” kata Melki.
Menurut dia, kekuatan koperasi di NTT seharusnya mulai diarahkan ke sektor produktif seperti pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan rakyat, hingga industri pengolahan berbasis potensi lokal.
Melki menilai selama ini uang masyarakat NTT lebih banyak keluar daerah karena sebagian besar kebutuhan masih didatangkan dari luar provinsi.
“Kita belanja ke mana-mana. Uang tidak berputar di NTT, tetapi keluar dari NTT. Nah, koperasi harus ambil peran di sana supaya uang tetap berputar di daerah,” ujarnya.
Ia bahkan menantang koperasi di NTT untuk mulai memproduksi kebutuhan dasar masyarakat seperti minyak goreng, air mineral, sabun, dan produk rumah tangga lainnya.
“Kalau bisa kita produksi sendiri di NTT. Kita tekan defisit perdagangan kita,” katanya.
Pernyataan Melki mendapat respons positif dari Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono. Ferry mengatakan dirinya datang ke Kabupaten Sikka bukan sekadar menghadiri agenda seremonial, tetapi untuk menghormati perjalanan panjang KSP Kopdit Obor Mas yang dinilai berhasil menjadi salah satu koperasi terbaik di Indonesia.
“Saya datang ke Sikka untuk menghargai perjuangan Koperasi Obor Mas yang berdiri sejak 1972. Obor Mas membuktikan diri mampu berkembang dan menjadi kebanggaan bukan hanya di Sikka atau NTT, tetapi kebanggaan koperasi nasional,” ujar Ferry.
Menurut Ferry, keberhasilan koperasi di NTT menunjukkan bahwa ekonomi rakyat mampu tumbuh kuat apabila dikelola secara serius dan profesional. Ia menyebut total aset koperasi di NTT yang mencapai lebih dari Rp10 triliun menjadi bukti nyata besarnya kekuatan koperasi di daerah.
Bahkan, kata dia, total aset koperasi di NTT saat ini telah mencapai setengah dari aset Bank NTT.
“Itu menunjukkan koperasi di NTT sangat bagus,” katanya.
Ferry menegaskan pemerintah pusat saat ini sedang mendorong koperasi menjadi kekuatan ekonomi utama nasional sebagaimana amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
“Koperasi harus menjadi soko guru perekonomian. Soko berarti tiang, guru berarti utama. Artinya koperasi harus menjadi tonggak utama ekonomi masyarakat,” ujar Ferry.
Ia mengatakan semangat tersebut menjadi dasar lahirnya program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang kini mulai dikembangkan pemerintah pusat untuk memperkuat ekonomi masyarakat hingga tingkat desa.
Dalam rangkaian kunjungannya, Menteri Koperasi RI bersama Gubernur NTT juga meninjau langsung ruang pelayanan dan fasilitas kerja di Kantor Pusat KSP Kopdit Obor Mas sebelum mengikuti dialog bersama pengurus koperasi dan peserta RAT.
Bagi banyak peserta yang hadir, forum di Maumere itu bukan sekadar agenda tahunan koperasi. Dari Flores, pemerintah pusat dan daerah mengirim pesan besar bahwa koperasi tidak lagi hanya menjadi tempat meminjam uang, tetapi harus tumbuh menjadi kekuatan produksi yang mampu menghidupkan ekonomi rakyat dari desa. **ah
