Maumere — Sebanyak 72 siswa SMA Negeri 1 Larantuka mengikuti pelatihan jurnalistik dalam program “AKPERSI Goes To School” yang digelar Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI), Senin, 4 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia sekaligus upaya memperkuat literasi digital di kalangan pelajar.
Pelatihan yang diinisiasi Dewan Pimpinan Daerah AKPERSI Nusa Tenggara Timur bersama Dewan Pimpinan Cabang Flores Timur ini menghadirkan materi dasar hingga praktik kerja jurnalistik.
Ketua DPD AKPERSI NTT, Djuwenchayanna Diaz, menekankan bahwa kebebasan pers merupakan fondasi demokrasi yang harus dijaga dengan tanggung jawab.
“Sebagai pelajar dan warga negara, kita punya peran penting: cek fakta, lawan hoaks, dan dukung jurnalisme berkualitas. Pers yang bebas mengontrol kekuasaan agar tidak disalahgunakan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan dunia pers saat ini, mulai dari kriminalisasi jurnalis hingga ancaman keamanan digital. Menurutnya, literasi menjadi benteng utama menghadapi arus disinformasi.
Sementara itu, Sekretaris DPD AKPERSI NTT, Yurgo Purab, membekali siswa dengan teknik penulisan berita menggunakan pola piramida terbalik serta penyusunan lead yang efektif.
“Tujuannya agar siswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi jurnalis warga yang memahami standar kerja pers,” kata Yurgo.
Ia turut mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap jejak digital dan potensi kejahatan siber seperti phishing, malware, hingga social engineering, terutama melalui pesan tidak dikenal di platform digital.
Pihak sekolah menyambut kegiatan ini sebagai ruang belajar baru bagi siswa. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Larantuka, Silvester Witin, menilai kehadiran praktisi pers memberi perspektif langsung tentang dunia jurnalistik.
“Kami melihat dampak positif bagi siswa, khususnya yang memiliki minat di bidang literasi. Harapannya, kerja sama seperti ini bisa berlanjut,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang menunjukkan antusiasme siswa, terutama saat membahas risiko kerja jurnalis dan pentingnya menjaga integritas dalam menyampaikan informasi di media sosial. **arishalilintar
