Kupang - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bentuk nyata keberpihakan negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri kegiatan pengarahan dan evaluasi program MBG bersama koordinator wilayah, yayasan, serta mitra pelaksana se-NTT yang berlangsung di Hotel Aston Kupang, Kamis (9/4/2026).
“Program ini bukan hanya memberi makan, tetapi menanamkan harapan, meningkatkan kesehatan, dan membangun masa depan generasi NTT yang lebih kuat dan berdaya saing,” tegas Melki.
Kegiatan evaluasi ini dipimpin langsung oleh Brigjen TNI Rudi Setiawan selaku Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah III Badan Gizi Nasional (BGN), yang menekankan pentingnya penguatan koordinasi serta pengawasan agar program berjalan tepat sasaran.
Menurut Melki, persoalan gizi, khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan, masih menjadi tantangan serius di NTT. Melalui MBG, pemerintah berupaya memastikan anak-anak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup sehingga mampu meningkatkan konsentrasi, daya ingat, hingga motivasi belajar.
“Tidak semua anak berangkat ke sekolah dengan perut terisi. Program ini memberi dampak nyata, anak-anak jadi lebih semangat belajar,” ujarnya.
Selain aspek kesehatan, Melki juga menyoroti dampak ekonomi dari program MBG. Ia menyebut program ini dirancang sebagai penggerak ekonomi yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga UMKM dan logistik.
“Kalau rantai pasoknya berasal dari NTT sendiri, dampaknya akan luar biasa. Ini bisa menekan angka kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2025, angka kemiskinan di NTT tercatat turun menjadi 17,50 persen dari sebelumnya 19,10 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi meningkat dari 3,73 persen menjadi 5,14 persen.
Hingga saat ini, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif di NTT mencapai 242 unit yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Gubernur menargetkan jumlah tersebut terus ditingkatkan agar manfaat program semakin luas.
Dalam arahannya, Melki juga menekankan lima poin penting kepada seluruh pelaksana program, yakni menjaga integritas, memastikan kualitas gizi, memperkuat kolaborasi, responsif terhadap evaluasi, serta bekerja dengan empati dan tanggung jawab sosial.
“Program ini adalah amanah. Jangan ada penyimpangan atau penurunan kualitas. Yang kita layani adalah masyarakat yang paling membutuhkan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan seluruh pihak yang terlibat untuk menjaga sikap dan integritas, serta menghindari gaya hidup berlebihan yang dapat menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.
“Kita jaga kepercayaan ini bersama, agar program MBG terus berjalan semakin baik,” pungkas Melki. ** go/dit
