"DISARPUS Sikka Gencarkan Sosialisasi Gerakan 30 Menit Membaca, Siap Lakukan Monitoring di Sekolah."
Maumere, Mutiara-Timur.com - Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS) Kabupaten Sikka terus memperkuat implementasi budaya literasi di daerah. Bertempat di Pantai Nuba Nanga Bola Wolon, Desa Tanaduen, Kecamatan Kangae, DISARPUS Sikka menggelar sosialisasi Surat Edaran Bupati Sikka Nomor: ArsipPustaka.000.14.4/75/2026 tentang Gerakan 30 Menit Membaca, Wisata Literasi dan Sains, serta Penguatan Ekosistem Literasi di Kabupaten Sikka.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah cepat pemerintah daerah pasca diterbitkannya surat edaran pada 22 April 2026. Dalam waktu singkat, DISARPUS Sikka telah melakukan sosialisasi di tiga sekolah dasar, yakni SDIT Rabbani Maumere, SDN Bolawolon, dan SDN Blatat.
Sekretaris DISARPUS Sikka, Yuvensius Rafael menegaskan bahwa gerakan ini tidak sekadar formalitas kebijakan, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
“Gerakan 30 menit membaca adalah fondasi penting untuk membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Ini bukan hanya tugas sekolah, tetapi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
Sosialisasi yang dilakukan tidak hanya berupa penyampaian kebijakan, tetapi juga diisi dengan pendekatan edukatif dan partisipatif, seperti motivasi membaca, pengenalan literasi sains, serta aktivitas interaktif yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan minat baca secara alami dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus memperluas jangkauan sosialisasi hingga ke seluruh satuan pendidikan tingkat SD dan SMP di Kabupaten Sikka.
“Kami tidak akan berhenti pada sosialisasi. Setelah sekolah-sekolah mulai menjalankan gerakan ini, DISARPUS akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan pelaksanaannya berjalan efektif dan konsisten,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa monitoring ini penting untuk mengukur dampak nyata dari gerakan literasi, sekaligus memberikan pendampingan bagi sekolah dalam mengatasi berbagai kendala di lapangan.
Kegiatan di Pantai Nuba Nanga Bola Wolon juga menjadi simbol bahwa literasi tidak harus berlangsung di ruang kelas semata, tetapi dapat dikembangkan di ruang terbuka yang menyenangkan dan inspiratif. Konsep wisata literasi dan sains yang diusung dalam program ini mendorong pembelajaran kontekstual, di mana anak-anak dapat belajar sambil berinteraksi langsung dengan lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Sikka optimistis, melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan komunitas literasi, Gerakan 30 Menit Membaca dapat menjadi budaya baru yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
Dengan langkah terstruktur mulai dari sosialisasi, implementasi hingga monitoring, Kabupaten Sikka menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan demi mencetak generasi unggul di masa depan. *arishalilintar

