KUPANG - Transformasi besar tengah terjadi dalam dunia pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Perguruan tinggi kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi telah berkembang menjadi pusat riset, inovasi, dan teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, menegaskan bahwa perubahan ini merupakan bagian dari arah kebijakan nasional yang mendorong pendidikan tinggi berbasis ekosistem riset.
“Pendidikan tinggi hari ini adalah ekosistem riset dan teknologi. Kampus harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya dalam jumpa pers, Senin (30/3/2026).
Transformasi ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan, Sains dan Teknologi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan inovasi dalam satu sistem terpadu.
Perubahan paradigma ini mendorong perguruan tinggi di NTT untuk lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman. Kampus kini dituntut menghasilkan riset yang aplikatif, mulai dari penanganan stunting, pengentasan kemiskinan, hingga penguatan ekonomi lokal.
Mahasiswa juga tidak lagi hanya belajar teori di kelas, tetapi didorong terlibat dalam penelitian, proyek lapangan, dan kolaborasi dengan dunia industri.
Transformasi ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan berbasis inovasi.
Berdasarkan data LLDIKTI Wilayah XV, saat ini terdapat: 3.080 dosen aktif, 55 perguruan tinggi swasta (PTS), 1.191 dosen tersertifikasi, 18 profesor (guru besar)
Namun, tantangan masih besar. Baru sekitar 10% dosen bergelar doktor (S3), sehingga peningkatan kualitas SDM menjadi prioritas utama.
Selain itu, baru sebagian dosen yang mencapai jabatan fungsional optimal, sementara sisanya masih dalam proses pengembangan karier.
Disampaikan pula bahwa dari total 319 program studi PTS di NTT mayoritas telah terakreditasi baik hingga unggul. Hanya sekitar 8 program studi belum terakreditasi. Hal ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam kualitas pendidikan tinggi di NTT.
Beberapa program studi bahkan telah mencapai akreditasi unggul, menjadi rujukan bagi calon mahasiswa baik dari di wilayah NTT maupun dari luar.
Dalam hal program beasiswa KIP Kuliah sudah tembus 14 ribu penerima, namun demikian masih banyak yang membutuhkan. Program KIP Kuliah menjadi salah satu solusi utama dalam membuka akses pendidikan tinggi.
Data menunjukkan: 14.000 lebih mahasiswa telah menerima bantuan, 2.554 kuota baru tahun 2026. Total mahasiswa di NTT sekitar 92.000 orang. Namun, sekitar 60% mahasiswa masih membutuhkan bantuan, sehingga kebutuhan beasiswa diperkirakan harus meningkat hingga 4 kali lipat.
“Tidak boleh ada mahasiswa gagal kuliah karena alasan ekonomi,” tegas Prof. Adrianus.
Untuk mengatasi keterbatasan pembiayaan, LLDIKTI mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak: Pemerintah daerah, Dunia usaha dan industri, Perbankan, Lembaga filantropi.
"Langkah ini penting untuk memperluas akses pendidikan dan memastikan keberlanjutan program beasiswa di NTT," ucap Profesor Adrianus Amheka.
Selain itu, perguruan tinggi juga didorong untuk menyediakan skema bantuan internal bagi mahasiswa kurang mampu.
Menurut Kepala LLDIKTI WILAYAH XV, BTransformasi pendidikan tinggi di NTT kini juga berfokus pada satu tujuan utama: memberikan dampak nyata.
"Melalui riset, inovasi, dan kolaborasi, kampus diharapkan menjadi motor penggerak pembangunan daerah,"tegasnya.
Dengan dukungan semua pihak, pendidikan tinggi di NTT diyakini mampu mencetak generasi unggul yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global. **go
.
