Kupang, mutiara-timur.com – Suasana haru menyelimuti Rumah Jabatan Gubernur di Kupang, Jumat (28/3/2026). Tangis Sarlince Margarita Kolianan pecah saat menyampaikan rasa terima kasih atas santunan yang diterima keluarganya.
Perempuan yang akrab disapa Rita itu baru saja kehilangan suaminya, Soleman Haning, seorang pedagang hasil laut yang meninggal dunia saat bekerja. Namun di tengah duka, hadir secercah harapan berkat program perlindungan pekerja rentan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Suaminya tercatat sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui program yang dibiayai APBD Provinsi NTT tahun 2025–2026.
“Terima kasih banyak, Bapa, karena program ini sangat membantu kami masyarakat, khususnya keluarga saya,” ujar Rita dengan suara bergetar.
Dari program tersebut, keluarga almarhum menerima santunan kematian sebesar Rp42 juta. Tidak hanya itu, dua anak mereka juga mendapatkan jaminan pendidikan hingga jenjang sarjana.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkapkan total manfaat yang diterima keluarga mencapai sekitar Rp217 juta.
“Ini bukti bahwa negara hadir. Dengan iuran hanya Rp16.800 per bulan, manfaatnya bisa sangat besar saat risiko terjadi,” tegasnya.
Perlindungan Nyata untuk Pekerja Rentan
Program ini mencakup dua perlindungan utama, yakni jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian. Skema ini dirancang untuk melindungi pekerja sektor informal yang selama ini berada dalam kondisi rentan.
Menurut Gubernur, kisah keluarga Rita menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan pemerintah mampu mencegah masyarakat jatuh lebih dalam saat kehilangan pencari nafkah.
“Ketika peserta memiliki kartu BPJS Ketenagakerjaan dan datanya terdaftar dengan baik, hak-haknya bisa langsung diberikan, termasuk santunan dan pendidikan anak,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi NTT memastikan program ini akan terus dilanjutkan dan diperluas agar semakin banyak pekerja rentan mendapatkan perlindungan sosial.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada Prabowo Subianto dan pemerintah pusat atas dukungan terhadap implementasi program tersebut.
“Harapannya, keluarga yang ditinggalkan tidak semakin terpuruk, tetapi mendapatkan perlindungan dan harapan baru dari negara,” ujarnya.
Di akhir pertemuan, Gubernur memberikan pesan kepada Rita agar tetap kuat menjalani hidup bersama ketujuh anaknya.
Kisah ini menjadi bukti bahwa di balik angka program pemerintah, ada kehidupan nyata yang berubah—dari duka mendalam menjadi harapan baru bagi masa depan anak-anak di NTT. **go
