Kabel Listrik Akan Lintasi Laut NTT, Gubernur VBL Tak Keberatan, Tapi Beri Catatan Penting

Mutiaratimur.com, Kupang,-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL)  tak berkeberatan bila kabel listrik tenaga surya akan melintasi laut NTT. Namun Gubernur Laiskodat memberikan catatan penting yang harus dilakukan perusahan pengelolah proyek tersebut,  PT Sun Cable Indonesia. Seperti kepada pihak perusahaan untuk melanjutkan komunikasi bersama perwakilannya guna membahas efek-efek yang akan timbul dari lintasnya kabel di perairan NTT. Gubernur VBL juga menegaskan kepada pihak perusahaan agar proyek itu dapat memberikan manfaat bagi perairan laut NTT.

Demikian Gubernur NTT saat beraudiensi bersama perwakilan PT Sun Cable Indonesia terkait proyek peletakan kabel listrik bawah laut Australia-Asean Power Link (AAPowerLink), di Churchill Wine & Cigar Bar, Hotel Borobudur, pada Kamis malam (9/9) sebagaimana rilis dari biro adminitrasi pimpinan yang diterima media ini.

Pertemuan antara Gubernur NTT dengan PT Sun Cable Indonesia sebagai pemegang proyek peletakan kabel listrik bawah laut Australia-Asean Power Link (AAPowerLink) tersebut merupakan tindak lanjut kerjasama sebelumnya yang telah disepakati oleh Pemerintah Pusat melalui Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Proyek bentang kabel Australia-Singapura yang direncanakan melintasi perairan laut NTT tepatnya di sisi Timur hingga Barat Pulau Sumba serta sisi Selatan Pulau Sabu Raijua itu, oleh orang Nomor Satu NTT tidak ada persoalan dan siap didukung.

"Oke, tidak ada masalah. Pasti kita akan dukung, karena saya tahu ini terbaik untuk dunia dan jelas harus ada manfaatnya," ucap Gubernur VBL dari rilis siaran pers tersebut.

Beliau juga menambahkan dari analisis lingkungan dan dampaknya yang musti diperhitungkan serta merrkomendasikan agar dikomunikasikan dengan tim pemerintah provinsi NTT.

"Selanjutnya nanti silahkan paparkan ke tim kami karena tentu ada hal-hal yang harus dipertimbangkan dari segi lingkungan dan fungsi laut. Ditinjau juga apa-apa saja yang dapat mempengaruhi dan sebagainya," harap Gubernur Lasikodat.

Sementara itu, Contributor Representatif PT Sun Cable Indonesia, Eric Dito merespon terhadap Gubernur NTT.

“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur, atas dukungannya terhadap proyek ini. Kami sangat mengapresiasi dan menindaklanjuti semua masukan dari Bapak terlebih manfaat dari proyek ini untuk kesejahteraan masyarakat NTT,” ujarnya.

Menurut Eric Dito, bahwa proyek kabel listrik Australia-Singapura yang mereka garap tetap melibatkan pihak pemerintah daerah di Indonesia. Sebab, proyek pembangkit listrik tenaga surya yang terbentang 12 ribu hektare di Australia itu akan menghubungkan kabel di dua negara tersebut.

Erik Dito juga meyakini proyek tersebut akan memberikan manfaat bagi daerah di NTT. Mereka berkomiment akan melibatkan berbagai pihak atau stakeholders di Indonesia, khususnya sumber daya manusia (SDM) dari perguruan tinggi atau universitas lokal maupun nasional selama proses kegiatan pra-rekontruksi.

Selain itu Eric melanjutkan,“ke depan sesuai harapan Bapak Gubernur, kita akan maksimalkan semua potensi yang ada di NTT, dimana jelas ada _transfer of knowledge_. Serta Efek ganda terhadap perekonomian melalui manufaktur dan jasa di Indonesia," jelasnya.

Lebih lanjut Eric menamtambahkan, masukan dan harapan Gubenur NTT akan dibahas bersama petinggi PT Sun Cable di Australia, sehingga dibahas lebih mendalam  lalu dibuat followupnya dalam bentuk  kesepakatan kerja sama. 

Eric pada kesempatan ini juga meminta  kesediaan waktu kepada Gubernur NTT untuk melanjutkan komunikasi antar keduanya dalam beberapa bulan kedepan. 

Mengenal PT. Sun Cable  dan Proyek Kabel Bawah Laut

Sun Cable merupakan perusahaan patungan antara raja pertambangan Australia Andrew Forrest dan miliarder teknologi Mike Cannon Brookes. Rencananya proyek perusahaan energi Sun Cable akan dibangun pada akhir 2024 yang terdiri dari panel surya terbesar di dunia, baterai terbesar dan kabel listrik terpanjang, menyediakan 3GW listrik yang dapat dikirim dan mencukupi untuk menyediakan seperlima dari kebutuhan listrik Singapura.

Kabel listrik sepanjang 3.302 km akan diletakan mulai dari perbatasan ZEE Indonesia-Australia di laut Timor melewati Samudra Hindia, Selat Lombok, Laut Bali, Laut Jawa, Selat Gaspar, Laut Natuna, Selat Riau, sampai ke batas Indonesia Singapura.(mt/rp)

Iklan

Iklan