PENTAKOSTA: API KEGERAKAN BERBELARASA (Injil Yoh.20:19-23)


Oleh
Germanus S. Attawuwur

Renungan- Ketika Tuhan Yesus hendak naik ke sorga, Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-
lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yohanes 14:16-17).

Hari ini janji itu ditepati, sebagaimana kita dengar dalam Kisah Para rasul: “Ketika tiba hari Pentakosta semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan 
Roh Kudus lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya (Kis. 2:1-5 ).”

Pencurahan Roh Kudus yang dialami para rasul pada hari ini adalah pemenuhan nubut Nabi Yoel 2:28-29: “ Aku akan mencurahkan Roh-Ku  ke atas semua manusia. Ju ga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari.” Yoel pada abad ke-8 SM sudah menubuatkan akan adanya suatu pencurahan Roh Kudus yang besar atas umat Allah.

Pencurahan Roh Kudus, bertepatan dengan berkumpulnya orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia untuk merayakan Pentakosta, sebagai salah satu Perayaan Wajib yang harus dilaksanakan di Yerusalem. 

Maka ketika menyaksikan dahsyatnya tiupan angin kencang dan bertebaran lidah-lidah api di atas kepala para rasul, mereka tercengang-cengang dan terheran-heran. Dalam ketercengangangan itu mereka berkata "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita (Kis. 2:6-8)?”

Inilah moment yang tepat Tuhan menunjukkan kuat kuasa-Nya melalui deru angin kencang dan lida-lidah api. Roh Kudus dicurahkan ke atas para murid. Deru angin kencang adalah simbol Kekuatan Allah yang tak 
terkalahkan oleh siapapun juga, demikian pun api, adalah simbol kekuatan Ilahi (bdk. Hak 13:20; 1 Raj 18:38). Lidah-Lidah Api sejatinya adalah penggenapan dari Kitab Ulangan 4:36. “ Dari langit Ia membiarkan engkau 
mendengar suara-Nya untuk mengajari engkau, di bumi Ia membiarkan engkau melihat api-Nya yang besar, dan segala perkataan-Nya kau dengar dari tengah-tengah api.” 

Maka Kekuatan yang Maha Dahsyat itu mampu meluluh-lantakan kecemasan danketakutan murid-murid Yesus yang masih bersembunyi di atas loteng dengan pintu terkunci rapat. Kekuatan itu mampu 
mentransformasikan ketakutan menjadi keberanian, dari Ruang Tertutup menuju ke Dunia Luar. 

Maka di depan ribuan khalayak ramai dengan gagah beraninya Petrus Sang Wadas berkata: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka. -Demikianlah firman Allah- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas 
semua manusia; Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-
tanda di bawah, di bumi.”

Kotbah Sang Nelayan Tulen itu ternyata membawa Mujizat Akbar Pentakosta. Tak tanggung-tanggung. Sekitar 3000 jiwa meminta untuk dibaptis. Terbaptisnya 3000 jiwa oleh Roh Kudus menjadi awal lahirnya

Gereja Perdana. Gereja menjadi Gereja seluruh dunia dalam semangat unity, agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Kita, Aku ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Aku.” 

Tiga ribu orang yang dibaptis dalam Roh Kudus sebagaimana tersurat dalam Kisah Para rasul 2:41 telah menjadi satu tubuh. Oleh karena itu maka Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus 
langsung mengingatkan mereka: ” Ada rupa-rupa karunia, tetapi hanya ada satu Roh. Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya ada satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu; Dialah yang mengerjakannya dalam semua orang.” 

Unsur Kesatuan ditonjolkan dalam surat Paulus ini untuk menekankan bahwa Roh Kudus itu adalah Roh Pemersatu, oleh karena itu setiap orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus akan selalu menujunjung tinggi nilai 
kebersamaan (unity), sebagaimana doa Yesus sendiri:” supaya mereka menjadi satu (Yoh.17:21).”

Mengakhiri renungan ini kita bertanya, apa relevansi Pentakosta untuk kita di zaman ini? 

Bahwa Pentakosta itu adalah transformasi dari ruang tertutup kepada dunia yang luas. Bahwa Pentakosta adalah transformasi dari kecemasan dan ketakutan menuju keberanian yang mengagumkan, bahwa Pentakosta adalah transformasi dari ke-murid-an menuju kepada ke-rasul-an; dari yang mendengarkan sabda kepada mewartakan sang sabda.

Maka Pentakosta bagi kita di zaman ini adalah Api Kegerakan Berbelarasa. Pentakosta adalah pengutusan untuk bersolider, dalam kegembiraan dan harapan, manunggal dalam duka dan kecemasan orang lain. 
Bahwa Roh Kudus yang juga dicurahkan ke dalam hati kita, telah mendayai kita oleh kekuatan ilahi-Nya untuk pergi ke luar, ke tengah dunia yang saat ini sedang dilanda kecemasan, lantaran badai corona virus yang masih terus mengguncang, untuk bercerita tentang hal-hal positip dan yang menggembirakan. Pentekosta adalah pergi ke luar untuk menemui dan menghibur mereka yang ada di sekitar kita, yang sedang dilanda kegelisahan lantaran kehilangan pekerjaan. Kita membagi dari apa yang ada pada kita agar terkecukupkan kebutuhan hidup mereka. Pentakosta adalah peduli bersesama dalam lantunan doa-doa kita bagi para dokter dan perawat sang pembelah kehidupan bagi , para pasien covid-19. 

Maka sukacita Pentakosta Hari ini adalah Semangat / Api Kegerakan Berbelarasa untuk semua karena “Dialah yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.”(GSA)

Iklan

Iklan