Melihat Virus Corona Sebagai Fakta Kehidupan, Sebagaimana Penyakit Lainnya


KUPANG,MT.NET- JURU Bicara (jubir) gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di Provinsi NTT, yang juga Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si meminta dan mengajak seluruh masyarakat di Provinsi NTT untuk menerima virus corona sebagai fakta kehidupan. Ajakan dan permintaan ini disampaikan Marius kepada pers di Kupang, Minggu (17/05/2020) malam. Ikuti penuturannya di bawah ini.

“Kami akan menyampaikan beberapa hal sebagai berikut,” kata Marius.

Pertama, Kita semua sudah mendengar bagaimana pertumbuhan angka saudara-saudara kita yang terkonfirmasi positif virus corona. Kalau kita melihat kurva statistik nasional pada hari ini jumlah yang positif virus corona secara nasional 17.514 orang yang sembuh 4.129 orang dan yang meninggal 1.148 orang. Itu nasional dan ketika kita melihat kurva statistik yang sama di tingkat provinsi khususnya NTT kurva itu juga cenderung naik. Artinya eskalasi penyebaran virus corona di Indonesia termasuk NTT tidak lagi melandai tetapi cenderung naik. Sehingga tidak ada jalan lain bagi kita seluruh rakyat Indonesia termasuk NTT untuk menerima fakta kehidupan ini sebagai bagian dari kehidupan kita bersama. Inilah dialektika kehidupan manusia; ada siang ada malam; ada terang ada gelap; ada susah ada gembira; ada tertawa ada menangis dan sebagainya. Inilah dialektika kehidupan manusia yang harus kita terima dan virus corona saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia di dunia termasuk manusia di Indonesia juga manusia NTT.

Karena itu, mau tidak mau kita bersahabat dengannya sebagaimana penyakit-penyakit lain demam berdarah, malaria, tbc dan sebagainya. mungkin ada yang bertanya why ? Yah ini fakta kehidupan yang tentu kita tidak bisa menolaknya. Ini bagian dari kehidupan manusia yang kita lakukan adalah bagaimana kita memproteksi diri sesuai dengan protokol-protokol kesehatan. Sebagaimana kalau kita mau membasmi demam berdarah, kita membasmi jentik-jentiknya; menjaga kebersihan lingkungan; itulah upaya manusia. Hal yang sama, ketika virus ini tereskalasi secara nasional di berbagai negara termasuk Indonesia. Protokol kesehatan itulah yang kita terapkan memakai masker, selalu berada dalam rumah, tidak melakukan kerumunan, menghindari kerumunan dan sebagainya.

Jadi penjelasan ini mau mengatakan bahwa fakta kehidupan kita seperti ini. Sebagaimana kita menerima senangnya kehidupan; kita juga menerima susahnya kehidupan. Dialektika kehidupan manusia yang tentu kita terima dengan lapang dada, sambil kita berusaha untuk menjaga kehidupan kita. Virus corona sebagaimana juga penyakit-penyakit lain demam berdarah, tbc, diabetes adalah ancaman terhadap kehidupan manusia; sama levelnya, ancaman terhadap kehidupan manusia. Yang berbeda adalah pola penularannya. Nah, ancaman sama tetapi pola penularannya inilah yang kita mengantisipasinya bagaimana supaya kita tidak tertular virus corona dan bagaimana virus corona juga kita tidak tularkan kepada orang lain.

Kedua, mengingat virus corona ini adalah musuh bersama kita; ancaman terhadap kehidupan kita bersama maka kita juga harus melawannya secara bersama. Kita harus bergandengan tangan bersatu padu untuk melawannya. Jadi tidak dibatasi oleh wilayah manapun di seluruh NTT. Tidak ada ego wilayah; ego kabupaten atau kota. Tidak ada seperti itu. Semuanya bersama-sama 22 kabupaten/kota se NTT bersama-sama melawan penyebaran virus corona dengan berbagai kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut sebaiknya dikoordinasikan dengan baik sehingga sama-sama menguntungkan masyarakat kita. Karena kita bekerja untuk melayani masyarakat kita.

Ketiga, hal yang sama tentu berlaku bagi kabupaten-kabupaten lain di seluruh NTT untuk bisa menyepakati bagaimana kita mengelola penyebaran virus corona. Jadi kita tidak lagi berbicara kabupaten kita tetapi juga kita tentu akan terkait dengan kabupaten lain. Apalagi kalau berada di dalam satu daratan; tentu kita tidak bisa menafikan bahwa hubungan atau networking antara kabupaten-kabupaten sedaratan itu akan selalu terjadi; baik lalu lintas barang dan logistiknya maupun lalu lintas orang atau manusianya. Karena itu, perlu kesepakatan. Perlu suatu diskusi bersama untuk mencari solusi atau pemecahan permasalahan yang dihadapi di lapangan.

Keempat, perlu kami sampaikan bahwa ibu hamil merupakan kelompok rentan yang memiliki risiko tinggi mengalami anemia. Anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terhadap berbagai infeksi termasuk infeksi Covid-19. Anemia pada ibu hamil juga akan meningkatkan bayi dengan berat badan lahir rendah yang tentunya akan meningkatkan risiko terjadinya stunting.

Karena itu kita harapkan perhatian dari mama-mama kita; bapa-bapa kita di seluruh NTT juga para medis untuk bisa melayani para mama kita yang sedang hamil dan memastikan agar tablet tambah darah selama kehamilan diberikan kepada ibu-ibu kita. Pencegahan anemia; gizi pada ibu hamil dilakukan dengan memastikan ibu hamil makan makanan bergizi seimbang dan mengkonsumsi minimal 90 tablet tambah darah selama kehamilan dan dimulai sedini mungkin. Pada masa pandemic Covid-19 diharapkan ibu-ibu hamil bisa mengkonsumsi tablet tambah darah tentu juga dengan obat-obatan yang lain; dalam rangka menjaga kekebalan tubuh; menjaga kesehatan baik kesehatan ibu maupun kesehatan jabang bayi yang sedang dikandungnya.*** (Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)

Iklan

Iklan