COVID-19: SAATNYA UNTUK KEMBALI KE DALAM DIRI SENDIRI
          (Sebuah Refleksi)
                       Oleh
      Germanus S. Attawuwur

KUPANG, MT.NET - Virus Corona, alias Covid-19 ditemukan pertama kali tanggal 20 Januari 2020 setelah otoritas kesehatan di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok mengatakan bahwa tiga orang tewas di Wuhan setelah menderita pneumonia yang disebabkan virus tersebut. Virus ini terasa begitu menakutkan karena berkaitan dengan sindrom Pernapasan Akut Berat (SARS) yang pernah menewaskan hampir 650 orang Tiongkok dan Hongkong pada tahun 2002-2003. Faktanya kini, Covid-19 malah jauh lebih dasyat ibarat malaekat pencabut nyawa, kapan saja bisa menewaskan manusia di jagat ini. Karena itu maka segera diambil langkah-langkah penyelamatan oleh berbagai negara demi melindungi rakyatnya, tidak terkecuali Indonesia. Indonesia yang penduduknya kurang lebih 200 juta jiwa ini menjadi alasan utama Presiden Jokowidodo bergerak cepat dengan instruksinya:” Bekerja dari Rumah, Belajar dari Rumah dan Ibadat di Rumah.”

Merujuk pada instruksi pemerintah, pihak agama (gereja) tidak tinggal diam. Berbagai tindakan dilakukan oleh para uskup dan pastor untuk melindungi umatnya dari virus yang mengancam ini. Sebut saja pengumuman yang dikeluarkan tanggal 20 Maret 2020 oleh Pastor Paroki Santa Familia Sikumana, P. Sebast Wadjang SVD, yang pada point kelima mengatakan:“Jadikan Corona sebagai kesempatan untuk berrefleksi diri, bertobat dan menata kehidupan agar menjadi semakin baik ke depannya.”

Pengumuman yang bersifat ajakan moral inilah yang mendorong penulis melakukan refleksi ini. Refleksi dengan mengacu pada tiga butir dari Presiden Jokowidodo. Refleksi ini penulis sebut dengan istilah berjalan kembali ke dalam diri sendiri. Berjalan untuk mengintrospeksi dan meretrospeksi diri. Tentang perjalanan kembali ke dalam diri sendiri dikatakan bahwa pada satu sisi adalah sesuatu hal yang menarik.

Karena inilah jalan dan sikap hidup yang darinya seseorang dapat memperoleh inspirasi dan seketika mendapat kekuatan untuk membaharui gaya hidupnya. Pada pihak yang lain perjalanan kembali ke dalam
diri sendiri menjadi peristiwa yang sering tidak menyenangkan oleh karena banyak kali manusia - entah sadar atau tidak - ingin bersembunyi di balik kekeliruan, kesalahan dan dosa-dosanya. Oleh karena itu manusia selalu berkeberatan untuk kembali ke dalam diri sendiri, karena ia kurang rela dan tidak bersedia untuk berjumpa dengan kelemahan, kekeliruan, cacat, kesalahan dan dosa-dosanya (Paul Glin,SM, terj, Gregor Neonbasu, SVD, 1999, hal. 7).

Sebagaimana telah dikatakan di atas bahwa refleksi ini untuk memaknai instruksi Presiden Jokowidodo,” Bekerja dari Rumah, Belajar dari Rumah dan Ibadat di Rumah. Pertanyaannya adalah mengapa harus brumah? Konsili Vatikan II menyebutkan Rumah adalah sekolah pertama dan utama. Ia menjadi tempat pembelajaran kemanusiaan. Konsili juga memaknainya sebagai Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica) yang dari sana anak, selain anak belajar tentang kemanusiaan, juga belajar tentang kebajikan teologis.

BEKERJA DARI RUMAH, BEKERJA SEBAGAI LAKI - LAKI BARU

Para ibu rumah tangga adalah pekerja keras. Sejak bangun pagi jam 04.30 wita, mereka melaksanakan pekerjaanya hingga malam menjelang tidur pada jam 22.30. Untuk berbagai pekerjaan itu, sering mereka harus rela berdiri atau duduk berjam-jam, kadang berjalan bahkan berlari hanya untuk sebuah pekerjaan yang penting. Dengan mengerjakan pekerjaan rumah yang sedemikian banyak itu, mungkin sempat terlintas dalam benak kita, dari mana datangnya kekuatan untuk mengerjakan semua pekerjaan itu? Tapi dasar para ibu rumah tangga, mereka sunggguh total dalam melaksanakan pekerjaannya. Moment Bekerja dari Rumah seperti ini semoga menyadarkan para suami bahwa di rumah, bila selama iniberlaku sebagai “raja kecil” yang selalu mau dilayani maka sekarang ini, sudah saatnya untuk bekerja sebagai laki-laki baru. Laki-laki baru adalah dia yang bersama istrinya mengerjakan pekerjaan rumah. Dia harus dengan sukarela menjadikan dirinya mitra dan rekan kerja untuk bersama istri melaksanakan pekerjaan rumah. Tentu tiadalah muda, apalagi para lelaki masih memandang wanita dengan stigma 3 R (KasuR, SumuR, dapuR).
Maka bekerja dari rumah menjadi moment dominasi itu diabaikan. Saatnya peran lelaki baru ditunjukan, untuk menyeimbangkan kesetaraan gender. Kesetaraan yang harus dimulai dari rumah. Butuh kemauan dan keberanian untuk memulainya. Mulai mengerjakan pekerjaan
 rumah sebagai laki-laki baru. Bila pekerjaan itu dilaksanakan dengan sukacita, maka itulah sukacita sebagai laki-laki baru.

BELAJAR DARI RUMAH

“Setiap rumah menjadi sekolah, setiap orang menjadi guru,”demikian Ki Hajar Dewantara. Rumah menjadi sekolah kemanusiaan. Rumah menjadi tempat pemanusiawian anak manusia menjadi manusia. Rumah menjadi tempat pembentukan karakter anak. Karakter anak dibentuk oleh karena nasehat-nasehat dan teladan orangtua yang adalah guru pertama dan utama di dalam rumah. Kata-kata (nasehat) sedemikian menggerakan dan contoh-contoh (teladan) sang guru begitu menarik, (verba movent exempla trahunt) sehingga anak mudah untuk mengingatnya tetapi sulit untuk melupakannya.

Maka ketika Belajar dari Rumah diwartakan, sang anak tidak hanya belajar tentang tugas sekolah, melainkan juga belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan: saling menghormati, menghargai, toleran, bersikap inklusif, berkata jujur, berlaku adil, dan sebagainya. Jika ini yang didapatkan anak selama proses belajar dari rumah, maka sejatinya orang tua sedang membentuk karakter anak. Karakter anak yang terbentuk dengan baik, menjadi koreksi atas tata nilai dewasa ini yang masih saja mendewakan uang, harta dan hal-hal duniawi lainnya sehingga orang terjerumus dalam praktek-praktek amoral, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Selain itu, hutan-hutan pun digunduli oleh tangan-tangan serakah manusia, bumi menjerit oleh karena tak kuat lagi memikul beban sampah plastik, tanah merana gersang diterpaterik. Sumber air pun mengering. Maka ketika anak berkesempatan untuk belajar dari rumah, anak dididik dan diajarkan untuk ramah ekologi, untuk berkarib dengan lingkunganya, dilatih untuk membuang sampah pada tempatnya, mereka diajarkan bagaimana menanam air untuk masa depan mereka. Singkatnya belajar dari rumah, anak berkesempatan untuk belajar juga tentang peduli lingkungan.

Anak belajar dari rumah tidak berhenti pada “silabus” di atas. Di saat belajar dari rumah, anak merasa tentu sendirian, tanpa kawan. Dia berada pada batas social distancing, yang tidak boleh dimaknai sebagai homo homini lupus, tetapi homo homini socius. Maka selama anak belajar dari rumah, anak diingatkan bahwa dia tidaklah sendirian. Dia tidak berada untuk dirinya sendiri, melainkan berada juga untuk orang lain. Dia dalam keakuannya, menjadi man for others, menjadi aku bagi aku-aku yang lain, Anak belajar untuk berada bersama dengan siapa saja, tak terkecuali orang “miskin”. Bahkan terhadap yang miskin, anak diajarkan untuk mengutamakan mereka (preferential option for the poor), pilihan untuk mendahulukan mereka, dengan hidup hemat dan menyisikan sebagian “haknya” untuk bersedekah, untuk beramal-kasih. Maka belajar dari rumah adalah juga belajar tentang peduli sesama.

IBADAT DI RUMAH

Virus itu datangnya tatkala orang Kristen sejagat sedang berada dalam masa prapaskah, mengenangkan  kembali penderitaan Yesus Kristus. Virus itu malah disebut corona (Latin) yang berarti mahkota. Mahkota, pada masa sengsara ini mengarahkan seluruh diri, hati dan pikiran kita kepada mahkota duri yang dikenakan para algoju di atas kepala Yesus sebagai olok-olokan kepada Dia yang menyebut diri-Nya Raja.

Dia Sang Raja, yang selama ini kita sangka hanya bisa menjumpai-Nya di gereja dalam perayaan Ekaristi suci, saat ini seakan-akan begitu jauh apalagi bila melihat pintu-pintu gereja masih tertutup rapat dan lonceng gereja pun tak lagi berkumandang. Kita seolah terbakar rindu. Kerinduan kita untuk datang ke cgereja begitu kuat mengingatkan kita pada elegi rindu Nabi Daud kepada Kediaman Allah, “Cinta untuk Rumah-Mu menghanguskan aku (Mzm. 69:10, bdk Yoh.2:17),” karena ”Lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain (Mzm. 84:11a).”

Dalam situasi yang masih mencekam ini mustinya kita sadar bahwa Tuhan tidak saja dijumpai di rumah-rumah ibadat, melainkan juga di rumah-rumah sendiri, dalam gereja rumah tangga. Maka begitu Ibadat di Rumah digaungkan, mustinya kita ingat kata-kata Yesus sendiri:” Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoa kepada Bapamu yang berada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu(Mat.6:6).”Masuk ke dalam kamar, tutup pintu dan berdoa mengisyaratkan sebuah keheningan agung (sinlentium magnum). Dalam keheningan agung kita mengalami intimitas kudus, ada dan bersatu secara rohaniah bersama Allah. Mengalami intimitas suci berarti tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam kita (Yoh. 15:4). “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh.14:5b).”
Bila kita sudah tinggal di dalam DIA dan DIA di dalam kita, kepercayaan kita akan jaminan penyertaan-Nya kepada kita tak tergoyahkan, sekalipun oleh ancaman virus covid-19. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat.28:20b).”


Iklan

Iklan