KUPANG, MUTIARA-TIMUR.COM – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, membuka ruang baru bagi generasi muda untuk tidak sekadar mengkritik pemerintah, tetapi ikut menawarkan solusi atas berbagai persoalan pembangunan di Kota Kupang.
Ruang tersebut ia tawarkan melalui gagasan “Wali Kota Challenge”, sebuah konsep adu gagasan yang ditujukan bagi organisasi kepemudaan, mahasiswa dan komunitas untuk melahirkan solusi konkret yang bahkan dapat diadopsi menjadi kebijakan pemerintah.
Gagasan itu disampaikan Christian saat menjadi pembicara utama dalam Public Discussion bertajuk “Quo Vadis Pembangunan Kota Kupang” yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Nusa Tenggara Timur (NTT) di Regan’s Caffe, Sabtu (4/10/2026) malam.
Turut hadir Anggota DPRD Provinsi NTT Junaidin Mahasan, Anggota DPRD Kota Kupang Ahmad Thalib, akademisi sekaligus pakar politik Universitas Muhammadiyah Kupang Dr. Ahmad Atang, sejumlah kepala perangkat daerah lingkup Pemerintah Kota Kupang, Ketua IMM NTT Cakti Flobamorrinci A. Kirie, jajaran IMM NTT dan IMM Cabang Kota Kupang, mahasiswa serta para undangan.
Bukan Sekadar Mengkritik, Tapi Berani Menawarkan Solusi
Di hadapan mahasiswa dan organisasi kepemudaan, Christian menegaskan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pembangunan kota.
Menurutnya, mahasiswa tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka harus diberikan ruang untuk ikut memikirkan persoalan kota sekaligus menawarkan gagasan yang bisa menjadi solusi.
Karena itu, ia menantang organisasi kepemudaan, mahasiswa dan komunitas untuk beradu gagasan melalui konsep “Wali Kota Challenge”.
“Anak-anak muda mana yang bisa paling bagus memberikan solusi kepada kami, kami pakai itu sebagai kebijakan,” ujar Christian.
Menurutnya, pemerintah tidak harus selalu menjadi satu-satunya pihak yang menghasilkan solusi. Justru, pemerintah perlu membuka diri terhadap gagasan yang lahir dari masyarakat.
“Pemerintah tidak harus selalu menjadi sumber solusi. Bisa saja solusi terbaik datang dari masyarakat, dari mahasiswa, dari komunitas, dari anak-anak muda,” katanya.
Christian berharap gagasan tersebut dapat menjadi jembatan antara kreativitas generasi muda dengan kebutuhan pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kalau ada persoalan di kota, jangan hanya bilang pemerintah tidak bisa. Mari kita pikirkan bersama, apa solusinya. Kalau solusinya bagus dan bisa diterapkan, pemerintah akan pakai,” tegasnya.
Bangun Ekosistem Anak Muda
Lebih jauh, Christian mengatakan Pemerintah Kota Kupang perlu membangun ekosistem kepemudaan yang memungkinkan generasi muda berkembang sesuai potensi masing-masing.
Ekosistem tersebut tidak hanya berupa pendidikan formal, tetapi juga mencakup ruang kreatif, akses informasi, jejaring serta kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sesuai kebutuhan daerah dan dunia kerja.
Ia juga mendorong adanya pemetaan talenta generasi muda di berbagai bidang, mulai dari teknologi informasi, desain grafis, musik, olahraga hingga sektor kreatif lainnya.
Menurut Christian, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan memastikan anak muda mendapatkan pendidikan.
“Pemerintah juga harus membantu anak muda menemukan potensi, membangun jejaring dan mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuannya,” ujarnya.
Anak Muda Jangan Apatis terhadap Politik
Dalam diskusi tersebut, Christian juga mengingatkan mahasiswa agar tidak bersikap apatis terhadap politik.
Menurutnya, keterlibatan dalam politik tidak selalu berarti harus menjadi calon legislatif atau menduduki jabatan politik.
Keterlibatan dapat dimulai dari keberanian berdiskusi, memahami kebijakan publik, mencermati rekam jejak calon pemimpin hingga menggunakan hak politik secara bertanggung jawab.
“Jangan apatis. Kalian harus mulai terlibat. Terlibat itu bukan berarti harus menjadi caleg. Terlibat itu artinya berani berdiskusi,” tegasnya.
Ia menilai generasi muda harus memiliki keberanian untuk mengawal proses pembangunan sekaligus memberikan kritik yang konstruktif kepada pemerintah.
Ingin Tinggalkan Sistem, Bukan Sekadar Nama
Christian juga berbicara mengenai kepemimpinan dan legasi yang ingin dibangun selama memimpin Kota Kupang.
Baginya, jabatan merupakan amanah yang sifatnya sementara. Karena itu, seorang pemimpin tidak seharusnya hanya mengejar popularitas atau meninggalkan nama.
Yang lebih penting, kata dia, adalah membangun sistem pemerintahan dan tata kelola yang tetap berjalan meski kepemimpinan telah berganti.
“Saya ingin meninggalkan legasi sistem pemerintahan yang baik, saya ingin meninggalkan sistem tata kelola manajemen ASN yang baik,” ungkapnya.
Anggaran Terbatas, Prioritas Harus Tepat
Dalam forum tersebut, Christian juga menjelaskan tantangan pemerintah daerah dalam kondisi fiskal yang terbatas.
Menurutnya, pemerintah harus mampu menentukan prioritas dan menggunakan anggaran secara bijak.
Pembangunan, katanya, tidak cukup hanya mengejar biaya murah. Setiap penggunaan anggaran harus mempertimbangkan kualitas, manfaat dan keberlanjutan.
“Caranya adalah berhemat dan menggunakan anggaran dengan bijak,” jelasnya.
Prinsip tersebut, menurut Christian, penting agar setiap rupiah anggaran daerah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Wilayah
Christian juga menyinggung respons Pemerintah Kota Kupang terhadap bencana gempa yang melanda Flores.
Menurutnya, kepedulian pemerintah dalam situasi bencana bukan semata-mata mengenai bantuan dalam bentuk materi, tetapi juga tentang solidaritas kemanusiaan sebagai sesama warga NTT.
Pemerintah Kota Kupang juga memberikan perhatian kepada mahasiswa asal Flores yang sedang menempuh pendidikan di Kota Kupang dan keluarganya terdampak bencana.
“Wilayah itu memiliki batas, lokasi bencana juga punya batas. Tetapi kemanusiaan tidak memiliki batas,” tegas Christian.
Kolaborasi Tidak Mengenal Hierarki
Di hadapan mahasiswa IMM, Christian kembali mengajak generasi muda membangun karakter yang fokus, adaptif, tangguh dan konsisten.
Menurutnya, pembangunan Kota Kupang tidak mungkin hanya dilakukan pemerintah.
Dibutuhkan keterlibatan organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat.
“Kolaborasi itu tidak mengenal hierarki,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya membangun pola hubungan yang lebih terbuka antara pemerintah dan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota.
IMM Siap Jadi Mitra Kritis dan Solutif
Ketua IMM NTT, Cakti Flobamorrinci A. Kirie, mengapresiasi kehadiran dan respons Wali Kota Kupang dalam forum diskusi tersebut.
Menurut Cakti, komunikasi langsung antara pemerintah dan organisasi kepemudaan sangat penting agar pembangunan daerah tetap terbuka terhadap kritik sekaligus gagasan masyarakat.
Ia juga mengapresiasi respons Pemerintah Kota Kupang terhadap sejumlah persoalan masyarakat, termasuk penanganan sampah serta perhatian kepada masyarakat yang terdampak bencana di Flores.
Cakti menilai berbagai capaian Pemerintah Kota Kupang, termasuk penghargaan di bidang digitalisasi daerah, toleransi dan tata kelola keuangan, menunjukkan adanya upaya untuk memperkuat tata kelola pemerintahan serta kehidupan masyarakat yang inklusif.
IMM NTT, kata Cakti, siap memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan Pemerintah Kota Kupang dalam mengawal pembangunan.
“IMM tidak ingin hanya hadir sebagai kelompok yang memberikan kritik, tetapi juga menjadi bagian dari ruang dialog yang kritis, konstruktif dan solutif,” ujarnya.
Gagasan “Wali Kota Challenge” pun menjadi salah satu pesan penting dari forum tersebut: bahwa anak muda Kota Kupang tidak harus menunggu diberi ruang untuk berkontribusi.
Mereka justru ditantang untuk datang membawa gagasan, menawarkan solusi dan membuktikan bahwa ide generasi muda dapat menjadi bagian dari kebijakan pembangunan kota.**
