KUPANG, MUTIARA-TIMUR.COM — SMK Negeri 5 Kota Kupang mencatat sejarah baru dalam ajang lomba storytelling tingkat SMA/SMK yang digelar Universitas Kristen Artha Wacana (UNKRIS) Kupang. Dua siswa sekolah vokasi tersebut berhasil membawa pulang gelar Juara 1 dan Juara Favorit, sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan siswa SMK tidak hanya terletak pada keterampilan vokasional, tetapi juga pada kemampuan berkomunikasi, berekspresi dan berbahasa Inggris.
Prestasi tersebut diraih dalam rangkaian LaFest Festival yang digelar di lingkungan UNKRIS Kupang dan diikuti peserta dari sejumlah sekolah tingkat SMA/SMK. Demikian keterangan yang diperoleh media ini, Kamis (1/10/2026).
Dua siswa yang mengharumkan nama SMKN 5 Kupang yakni Aprila Leonita Titi, siswa kelas XII sekaligus Ketua OSIS, yang meraih Juara 1, serta Nola Aricegiri, siswa kelas XI DKV, yang meraih Juara Favorit.
Keduanya tampil membawakan cerita dalam bahasa Inggris dengan karakter dan pendekatan yang berbeda.
Nola Taklukkan Panggung dengan “The Man Eating Stone”
Nola Aricegiri memilih cerita “The Man Eating Stone” atau kisah tentang batu yang menelan manusia. Cerita tersebut mengangkat kisah seorang pemuda yang mengabaikan nasihat seorang perempuan tua dan justru penasaran terhadap sebuah batu misterius di dalam hutan.
Dalam cerita yang dibawakannya, sang pemuda meremehkan keberadaan batu tersebut. Ia kemudian mengalami kejadian yang tidak disangka-sangka setelah batu itu menelannya.
Perempuan tua bersama warga kemudian mendatangi hutan dan memohon agar batu tersebut mengeluarkan sang pemuda. Permohonan itu akhirnya dikabulkan.
Bagi Nola, cerita tersebut bukan sekadar kisah tentang batu misterius. Ada pesan moral yang ingin disampaikan kepada penonton, yakni pentingnya menghargai nasihat orang lain, terutama orang tua, serta menghormati alam.
“Kita sebagai manusia harus saling menghargai pendapat dan harus menghargai alam,” ujar Nola.
Dalam penampilannya, Nola dituntut bukan hanya menghafal teks berbahasa Inggris, tetapi juga mampu memainkan ekspresi, suara, gerakan tubuh dan karakter tokoh.
Kemampuan itulah yang kemudian membuatnya berhasil merebut Juara Favorit.
Nola mengaku tertarik mengikuti kegiatan storytelling karena ajang seperti itu memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berbicara sekaligus keberanian tampil di depan publik.
Leonita Bawa “The Legend of Komodo Island”
Sementara itu, Aprila Leonita Titi tampil sebagai juara pertama melalui cerita “The Legend of Komodo Island”.
Cerita tersebut mengangkat legenda Pulau Komodo dengan tokoh-tokoh seperti Raja Moja, Putri Naga, Girong dan Ora. Dalam cerita itu, Leonita tidak hanya dituntut menyampaikan alur cerita, tetapi juga memainkan berbagai karakter dengan ekspresi dan intonasi yang berbeda.
Bagi Leonita, pilihan cerita tersebut didorong oleh kekuatan cerita dan banyaknya ruang untuk menampilkan ekspresi.
“Karena ceritanya luar biasa dan dalam cerita tersebut penuh banyak ekspresi. Saya suka menuangkan semua ekspresi saya,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan pesan yang ingin ditanamkan melalui cerita tersebut, yakni agar seseorang tidak mudah meragukan dirinya sendiri dan berani mengambil langkah, meskipun langkah itu kecil.
“Harapan itu tidak harus bergantung pada diri kita sendiri. Jangan ragu pada diri kita sendiri dan berani mengambil langkah kecil, tetapi besar dampaknya untuk kehidupan kita,” katanya.
Di Balik Prestasi, Ada Proses Panjang Guru dan Siswa
Guru pendamping Edisius Goa, S.Pd mengungkapkan, keberhasilan dua siswa tersebut tidak diraih secara instan.
Menurutnya, sekolah memiliki English Club yang menjadi salah satu ruang pembinaan siswa. Proses pembinaan dilakukan secara bertahap melalui berbagai kompetisi lokal maupun kompetisi internal sekolah.
“Kita ada English Club yang memang membantu sekali untuk seleksi anak secara bertahap. Itu berawal dari kompetisi-kompetisi lokal, kompetisi internal yang kita lakukan untuk mereka,” jelas Edisius.
Ia mengakui, membina siswa SMK untuk mengikuti lomba storytelling memiliki tantangan tersendiri. Para siswa sehari-hari lebih banyak berhadapan dengan dunia praktik dan keterampilan vokasional.
Namun, menurut Edisius, justru di situlah tantangannya. Siswa SMK harus diberikan ruang untuk mengembangkan soft skill, termasuk kemampuan berkomunikasi dan tampil di depan publik.
Tantangan semakin besar karena peserta harus menguasai teks dalam waktu relatif singkat. Dalam kompetisi tersebut, terdapat materi yang harus dipersiapkan hingga tahap semifinal dan final dengan durasi penampilan sekitar lima menit.
“Kalau tidak manage mood dengan baik pasti mereka stres,” ujarnya.
Pembinaan juga tidak hanya dilakukan dengan mengajarkan teks. Guru harus memahami karakter masing-masing siswa.
“Kita harus masuk ke dunia mereka. Mereka bermanja dengan kita, it's okay, no problem. Karena itulah yang membuat mereka nyaman,” kata Edisius.
Menurutnya, keberhasilan seorang siswa dalam kompetisi bukan semata-mata karena kemampuan menghafal. Ekspresi, gestur, penghayatan, ide cerita hingga penggunaan properti menjadi bagian dari penilaian.
Bahkan, dalam penampilan Nola, tim guru menyiapkan konsep batu yang dapat digunakan sebagai bagian dari adegan cerita. Konsep tersebut mengharuskan Nola seolah-olah masuk dan keluar dari batu sesuai dengan alur cerita.
“Anak itu harus masuk dan keluar dari batu, karena ceritanya menyebutkan seorang anak yang durhaka, yang melawan perintah orang tua, lalu batu itu tepat sekali menelan,” jelasnya.
Edisius menyebut sedikitnya delapan guru ikut memberikan dukungan dalam proses persiapan. Dukungan manajemen sekolah juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan tersebut.
Ia menegaskan, semua siswa memiliki kemampuan dan karakter yang berbeda. Tugas guru adalah menggali potensi tersebut dan menemukan ruang yang tepat agar kemampuan masing-masing siswa dapat berkembang.
“Semua anak itu mampu. Semua anak dititahkan dengan unik dan mereka punya talenta yang berbeda,” katanya.
Kepsek: Ini Bukan Sekadar Piala
Plt. Kepala SMKN 5 Kota Kupang, Yakobus Bura, S.Pd, menyambut prestasi tersebut sebagai sebuah kebanggaan bagi sekolah.
Menurutnya, keberhasilan meraih Juara 1 dan Juara Favorit menjadi bukti bahwa siswa SMKN 5 mampu bersaing dalam bidang yang berada di luar keterampilan teknis utama mereka.
“Anak-anak yang hebat itu kemudian lahir dari guru yang hebat dan metode yang tepat. Dan ini hasilnya,” ujar Yakobus.
Namun, ia menegaskan, prestasi tersebut tidak boleh membuat sekolah cepat berpuas diri.
Sebaliknya, keberhasilan itu harus menjadi tantangan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi pada kompetisi berikutnya.
Ia juga meminta dua siswa yang berhasil meraih juara agar menjadi inspirasi bagi adik-adik kelas mereka.
“Kamu punya tanggung jawab moral untuk kemudian bisa memicu adik-adikmu yang lain, sehingga mereka juga sama atau bahkan melampaui prestasi yang sekarang ini kamu gapai,” katanya.
Yakobus menilai, piala yang dibawa pulang bukan sekadar benda untuk disimpan di sekolah. Di balik piala tersebut terdapat nama siswa, guru dan proses yang akan menjadi bagian dari sejarah sekolah.
“Piala yang kamu bawa ke sini akan disimpan di sekolah. Saat nanti kamu tamat, kamu tidak ada di sekolah, tetapi nama kamu itu selanjutnya lembaga akan kenang bahwa sekolah kita pernah juara karena kamu,” ujarnya.
Para guru pendamping dalam kompetisi tersebut yakni Edisius Goa, S.Pd, Lusia Prada Lanan, S.Pd, Yeremias Mone, S.Pd dan Theresia Lepang Sely, S.Pd.
Prestasi Juara 1 dan Juara Favorit dalam lomba storytelling tingkat SMA/SMK di UNKRIS tersebut sekaligus menjadi catatan penting bagi SMKN 5 Kota Kupang. Sekolah vokasi yang selama ini identik dengan keterampilan praktik menunjukkan bahwa kemampuan akademik, komunikasi, bahasa dan seni tampil juga dapat menjadi kekuatan siswa SMK.
Bagi SMKN 5, dua piala tersebut bukan hanya hasil sebuah perlombaan. Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi penanda bahwa ruang belajar siswa SMK dapat diperluas—dari sekadar menguasai keterampilan teknis menuju keberanian berbicara, berekspresi dan menunjukkan kemampuan di hadapan publik. ***usgo
