![]() |
SENJA perlahan merayap di ufuk barat, Senin, 31 Agustus 2026. Matahari yang berarak ke peraduannya memayungi deretan Hunian Sementara (Huntara) di Desa Konga, Kecamatan Wulanggitang. Di tengah hamparan rumah darurat itu, kehangatan persaudaraan justru membuncah, mengalahkan dinginnya trauma yang tersisa.
Sore itu menjadi momen yang menguatkan bagi warga Huntara. Dua orang imam Tuhan, Pastor Hironimus Kwure, Pr. Imam Keuskupan Larantuka yang kini tengah mengemban misi di Swiss bersama Romo Robert Lagamanu, Pr, Pastor Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Weri, meluangkan waktu di tengah kesibukan reksa pastoral mereka. Keduanya datang membawa satu misi: memeluk duka para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
Aksi solidaritas kemanusiaan ini diprakarsai langsung oleh Pastor Hironimus. Donasi yang disalurkan bersentuhan langsung dengan urat nadi ekonomi warga, berupa bahan-bahan pokok. Bantuan ini menyasar Huntara yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak dua tahun silam.
Bagi Romo Hironimus, aksi ini adalah panggilan darah. Sang imam yang sedang pulang berlibur ke kampung halamannya di Riangbunga, Paroki Santu Yoseph Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, merasa tidak bisa berdiam diri. Sebagai anak Lewotanah (tanah kelahiran), hatinya tergerak melihat warga penyintas yang kehilangan rumah dan harta benda akibat kedahsyatan erupsi beberapa tahun lalu. Hingga hari ini, gunung berapi tersebut bahkan masih kerap bergolak, melumpuhkan aktivitas keseharian warga, baik sebagai makhluk individu maupun sosial.
Kehadiran Romo Hironimus dan Romo Robert tidak sendirian. Mereka didampingi oleh Tim Pengurus Harian Paroki Weri, Silvester Witin dan Emil Diaz. Bersama-sama, mereka membagikan empati dan simpati mendalam kepada 82 kepala keluarga yang mendiami Huntara Konga.
Lebih dari sekadar membagikan sembako, tim ini membawa asupan rohani. Di hadapan warga, sebuah doa syahdu dipanjatkan. Mereka mengajak para penyintas untuk tetap bertahan dan mampu memaknai pergumulan hidup ini. Ada keyakinan iman yang dititipkan: bahwa di tengah situasi sesulit apa pun, Yang Maha Kuasa selalu membuka mata hati dan menguatkan iman umat-Nya. Allah, sang sumber pengharapan, pasti menyediakan fajar baru. Pastor Hironimus dan Romo Robert kemudian menutup rangkaian doa dengan memercikkan berkat surgawi dan duniawi bagi seluruh warga.
Kebersamaan yang indah itu diakhiri dengan kesederhanaan yang memikat. Kedua pastor dan tim disuguhkan minuman ala kadarnya serta hidangan lokal. Makanan itu disiapkan penuh kasih oleh ibu-ibu dan Orang Muda Katolik (OMK) setempat. Dalam nuansa persaudaraan yang kental, Romo Hironimus menitipkan pesan pamungkas agar warga tidak putus berdoa dan bersyukur.
"Tuhan tahu semua peristiwa hidup yang sedang kita hadapi," ujarnya lirih.
Terima kasih banyak, Pastor Hironimus Kwure atas ketulusannya. Keindahan aksi ini bukan terletak pada jumlah atau nominal barang yang didonasikan, melainkan pada nilai luhur di balik keikhlasan hati untuk memberi.
"Das Geben mit Aufrichtigkeit ist ein Segen von großem Wert für den Menschen" memberi dengan keikhlasan adalah berkat yang sangat bernilai bagi manusia.
Vielen Dank, Vater Hieronimus. Auf Wiedersehen! ***Oleh: Silvester K. Witin
