SIKKA, MUTIARA TIMUR — Masyarakat Sikka dikenal mampu menjaga tradisi adat dari generasi ke generasi. Namun, di tengah kuatnya warisan budaya tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah pendidikan sudah diperlakukan sebagai bagian dari kultur yang wajib dijaga bersama?
Pertanyaan itu menjadi titik tolak refleksi Frans Seda tentang masa depan pendidikan di Kabupaten Sikka.
Melalui gagasannya bertajuk “Habitus Baru Pendidikan: Kapan Menjadi Kultur Kita?”, Frans Seda menyoroti kebiasaan masyarakat yang dilakukan terus-menerus hingga akhirnya mengendap menjadi struktur sosial dan budaya. Dalam perspektif sosiologi, kondisi semacam itu dikenal sebagai habitus.
Menurut Frans Seda, Sikka memiliki habitus lama yang masih sangat kuat.
“Sesajian kepada leluhur, belis, upacara kelahiran sampai ritual kematian masih kita jalankan dengan tertib. Tradisi lokal bahkan tetap hadir dalam kehidupan keagamaan kita,” ujar Frans Seda.
Ia mencontohkan bagaimana tradisi lokal Sikka Nian Tanah masih dapat ditemukan dalam kehidupan iman umat Katolik, termasuk dalam Komuni Suci.
“Dalam Komuni Suci, kita masih bisa melihat tradisi lokal Sikka Nian Tanah yang menggambarkan relasi orang Sikka dengan tanah dan asal-usulnya. Ini menunjukkan bahwa tradisi bisa bertahan karena menyangkut relasi, asal-usul dan identitas,” katanya.
Menurutnya, masyarakat menjaga tradisi secara turun-temurun karena menyadari bahwa ketika warisan tersebut tidak dipelihara, jati diri orang Sikka dapat perlahan menghilang.
Namun, ia kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih jauh.
“Kalau adat istiadat, termasuk belis dan berbagai tradisi yang berkaitan dengan leluhur, bisa kita jaga bersama dengan sukacita di berbagai desa di Kabupaten Sikka, lalu mengapa pendidikan tidak kita perlakukan dengan cara yang sama?” tegasnya.
Bagi Frans Seda, pendidikan merupakan hak setiap anak yang dijamin konstitusi sekaligus menjadi bagian dari tanggung jawab orang tua dan masyarakat.
“Pendidikan bukan hanya urusan guru di sekolah. Pendidikan juga bukan sekadar urusan orang tua membayar biaya sekolah, dan bukan hanya urusan anak untuk belajar. Pendidikan adalah urusan kita bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sekolah tidak semestinya hanya dipandang sebagai gedung, ruang kelas dan papan tulis.
“Sekolah adalah ruang untuk membentuk manusia Sikka yang cerdas, berkarakter dan tetap berakar pada budayanya,” katanya.
Frans Seda menilai, cara pandang terhadap pendidikan perlu diubah. Pendidikan harus dibangun menjadi sebuah kultur baru yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
“Yang kita butuhkan bukan hanya perbaikan sekolah atau peningkatan hasil belajar. Kita membutuhkan habitus baru dalam dunia pendidikan. Kebersamaan dengan sukacita harus menjadi kultur kita,” ungkapnya.
Menurut dia, kebersamaan tersebut dapat diwujudkan melalui dua bentuk dukungan, yakni dukungan moril dan dukungan nyata.
“Dukungan moril bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Hadir dalam rapat sekolah, bertanya kepada anak tentang apa yang dipelajari hari itu, dan menjadi teladan dalam membangun kebiasaan membaca. Hal-hal kecil seperti ini kalau dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan,” jelasnya.
Sementara dukungan nyata, lanjut Frans, dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap kebutuhan pendidikan anak-anak.
“Dukungan nyata bisa berupa uluran tangan untuk membantu membangun ruang kelas, berbagi kepada anak yang mengalami kesulitan biaya pendidikan, dan bergotong royong memastikan tidak ada anak yang putus sekolah,” katanya.
Ia berharap pendidikan tidak lagi ditempatkan sebagai urusan personal masing-masing keluarga.
“Pendidikan harus menjadi urusan bersama. Kita harus menjadikannya sebuah kultur yang dijaga, dilestarikan dan diwariskan seperti halnya kita menjaga adat,” tegas Frans Seda.
Ia membayangkan, apabila kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten, dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun Sikka dapat memiliki budaya pendidikan yang sama kuatnya dengan kultur adat yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
“Bayangkan kalau selama 10 sampai 20 tahun kita membangun kebiasaan ini bersama-sama. Saya percaya Sikka bisa memiliki kultur pendidikan yang kuat, sebagaimana kita memiliki kultur adat yang kuat,” ujarnya.
Menurutnya, anak-anak Sikka yang cerdas dan berkarakter nantinya bukan hanya menjadi penerima manfaat pendidikan.
“Mereka inilah yang akan menjaga adat, merawat identitas Sikka Nian Tanah dan meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya,” katanya.
Frans juga mengaitkan gagasan tersebut dengan makna kemerdekaan Indonesia.
“ kemerdekaan tidak cukup dimaknai hanya melalui bendera dan upacara. Kemerdekaan sejati tercermin ketika setiap anak di Sikka, dari Paga sampai Hewokloang, memperoleh akses terhadap pendidikan yang layak,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai pendidikan baru benar-benar menjadi kekuatan sosial apabila seluruh masyarakat melihatnya sebagai tanggung jawab bersama.
“Pertanyaannya sederhana: pendidikan ini urusan siapa? Jawabannya adalah urusan semua orang Sikka,” ujarnya.
“Dengan sukacita, dengan dukungan moril dan dengan dukungan nyata. Sebab sebagaimana adat menjadi kuat karena terus dijaga dan diwariskan, pendidikan juga membutuhkan kebiasaan yang sama,” lanjut Frans.
Ia menegaskan, membangun kultur pendidikan bukan hanya untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menentukan wajah Sikka pada masa mendatang.
“Kita sedang berbicara tentang masa depan anak-anak kita. Apa yang kita biasakan hari ini akan menjadi kultur mereka di masa depan. Karena itu, kalau kita ingin melihat Sikka yang lebih cerdas, berkarakter dan tetap berakar pada budayanya, maka pendidikan harus mulai kita jadikan kultur bersama,” pungkasnya. **ah
