SIKKA, MUTIARA TIMUR — Di tengah gempa susulan yang masih terjadi, siswa SDN Hepang, Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di teras sekolah.
Kondisi itu menjadi perhatian pihak sekolah. Selain ruang belajar yang belum dapat digunakan secara optimal, terdapat retakan panjang pada bagian fondasi yang menghubungkan teras dengan ruang utama bangunan sekolah.
Kepala SDN Hepang, Paulus Arabaha, berharap kondisi tersebut segera mendapat perhatian dari pemerintah daerah melalui dinas terkait. Ia meminta agar pihak berwenang tidak hanya menerima laporan, tetapi turun langsung melihat kondisi sekolah.
Paulus mengatakan, sekolahnya juga berharap mendapat perhatian yang sama seperti sekolah-sekolah lain yang terdampak gempa.
“Harapan kami semoga ada dinas terkait yang memperhatikan kami juga. Jangan sampai sekolah lain diperhatikan, sementara kami di SDN Hepang tidak mendapat perhatian,” ujar Paulus Arabaha.
Menurut dia, kondisi pascagempa membuat pihak sekolah harus lebih berhati-hati dalam melaksanakan proses pembelajaran. Keselamatan siswa dan guru menjadi pertimbangan utama, terlebih gempa susulan masih dirasakan. Karena itu, pihak sekolah berharap pemerintah segera melakukan survei terhadap kondisi bangunan dan kebutuhan darurat yang dihadapi SDN Hepang.
Bagi pihak sekolah, kehadiran pemerintah di lapangan menjadi penting untuk memastikan apakah bangunan masih layak digunakan, bagian mana yang membutuhkan penanganan, serta bantuan apa yang paling mendesak.
Siswa Tetap Belajar Meski di Teras
Harapan serupa disampaikan Dino Lewar yang mewakili para guru SDN Hepang. Ia mengatakan, para guru tetap berupaya memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan meski kondisi sekolah belum ideal.
Saat diwawancarai Mutiara Timur, Dino mengatakan siswa sementara harus belajar di teras sekolah. Para guru berharap pemerintah dapat memberikan bantuan darurat berupa terpal atau tenda sementara sehingga siswa memiliki tempat belajar yang lebih nyaman dan terlindung dari panas maupun hujan.
“Harapan kami para guru, semoga dinas terkait bisa melihat kondisi kami di SDN Hepang dalam situasi tanggap darurat ini. Kalau bisa kami diberikan bantuan emergency berupa terpal atau sejenisnya, sehingga para siswa dan siswi merasa nyaman saat proses KBM,” kata Dino Lewar, mewakili para guru.
Menurut Dino, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting karena kondisi bangunan sekolah masih menjadi kekhawatiran di tengah gempa susulan. Ia menyebut terdapat retakan panjang pada fondasi di antara bagian teras dan ruang utama sekolah.
“Bangunan ada fondasi antara teras dan ruang utama yang retak panjang,” ujarnya.
Karena itu, para guru berharap pemerintah tidak menunggu sampai terjadi sesuatu yang lebih buruk sebelum mengambil langkah.
Air Bersih Ikut Menghantui Sekolah
Persoalan SDN Hepang ternyata bukan hanya soal tempat belajar. Ketersediaan air juga menjadi kendala bagi sekolah. Dino mengatakan SDN Hepang belum memiliki bak penampungan air yang memadai, sementara kebutuhan air di wilayah tersebut cukup sulit.
Para guru pun berharap pemerintah dapat membantu menyediakan profil tank berukuran kecil untuk kebutuhan sekolah.
“Kami juga berharap kalau bisa diberikan profil tank kecil untuk sekolah karena kami memang tidak punya bak sekolah dan air di sini susah sekali,” kata Dino.
Permintaan itu terdengar sederhana. Namun bagi sekolah yang sedang menjalani masa tanggap darurat, ketersediaan air merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa diabaikan.
Kini, SDN Hepang menunggu pemerintah daerah turun langsung ke lapangan. Bukan sekadar untuk melihat siswa yang belajar di teras, tetapi juga memeriksa retakan bangunan, menilai tingkat keamanan sekolah, serta memastikan kebutuhan dasar siswa dan guru terpenuhi.
Pemerintah Kabupaten Sikka melalui dinas terkait diharapkan segera melakukan survei dan mengambil langkah sesuai kondisi nyata di lapangan.
Sebab bagi anak-anak SDN Hepang, belajar tetap harus berjalan. Namun keselamatan mereka tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar agar pendidikan tetap berlangsung.
Di tengah situasi pascagempa, satu pertanyaan patut dijawab pemerintah: apakah harus menunggu kerusakan menjadi lebih parah sebelum sekolah seperti SDN Hepang mendapat perhatian?**ah