SIKKA, MUTIARA TIMUR — Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Misir Tengah tidak hanya menjadi ruang bagi anak-anak untuk membaca buku. Di tengah situasi pascagempa, taman baca hadir sebagai ruang belajar, pemulihan, sekaligus tempat anak-anak menyuarakan pengalaman dan perasaan yang terkadang sulit mereka ceritakan secara langsung.
Hal ini terlihat dari semangat berekpresi dalam kegiatan Giat Literasi dan Sosialisasi Anti-Bullying yang digelar bersama TBM Misir Tengah dan Dewan Pengurus Paroki (DPP) Misir di SMP Swasta Katolik Maria Kanisia, Misir.
Kegiatan tersebut sebenarnya telah direncanakan sebelum gempa terjadi dan sebelumnya telah dilaksanakan di sejumlah sekolah yang berada dalam naungan Paroki Misir. Namun, kondisi pascagempa membuat kegiatan ini memiliki makna yang lebih luas. Selain literasi dan edukasi anti-perundungan, kegiatan diarahkan untuk membantu anak-anak memahami kesiapsiagaan bencana sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk memulihkan diri secara psikologis.
Pengelola TBM Misir Tengah, Hubertina Afloubun, S.E., M.M., mengatakan, setelah gempa terjadi, TBM Misir Tengah turut mengambil bagian dalam respons terhadap masyarakat terdampak. Taman baca terlibat dalam kegiatan di sejumlah posko, termasuk posko mandiri dan Posko Serbaguna.
Dalam kegiatan di posko, TBM Misir Tengah bersama relawan dan mitra juga melakukan asesmen serta pendampingan bersama pihak yang memiliki kompetensi di bidang psikologi.
“Setelah gempa, taman baca masuk dalam kegiatan tanggap bencana. Kami juga terlibat di beberapa posko, termasuk posko mandiri dan posko serbaguna. Kami bersama teman-teman psikologi melakukan asesmen untuk melihat kebutuhan anak-anak dan masyarakat,” ujar Hubertina.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan di sekolah kali ini juga merupakan bagian dari upaya bersama DPP Paroki Misir untuk menghadirkan trauma healing bagi anak-anak di tengah situasi pascabencana.
Dalam kegiatan tersebut, TBM Misir Tengah tidak berjalan sendiri. Kolaborasi juga dilakukan bersama Perhimpunan Mahasiswa Elektro Telekomunikasi Universitas dalam penyaluran bantuan berupa perlengkapan dan atribut bagi anak-anak.
Sementara itu, dari TBM Misir Tengah, anak-anak menerima bantuan perlengkapan pendidikan berupa alat tulis dan kebutuhan belajar lainnya. Sedikitnya terdapat tujuh jenis item yang dibagikan kepada para siswa. Namun, kegiatan tidak berhenti pada penyaluran bantuan. Anak-anak kemudian diajak mengikuti kegiatan literasi dan edukasi tentang kesiapsiagaan bencana. Mereka diperkenalkan pada langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan ketika menghadapi bencana, baik di sekolah maupun di rumah.
Kegiatan ini turut diperkuat dengan edukasi hukum mengenai dampak buruk perundungan yang dibawakan oleh Advokat Muda, Rikardus Trofinus Tola, S.H. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa, materi yang diberikan mencakup pengenalan risiko bencana, cara menyelamatkan diri, pentingnya mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul, serta tindakan yang perlu dilakukan ketika gempa terjadi.
"Dalam menghadapi gempa, siswa diperkenalkan pada prinsip Drop, Cover, and Hold On, yakni merunduk, melindungi kepala dan leher, kemudian berlindung di bawah meja atau tempat yang kokoh hingga guncangan berhenti" Kata Rikardus.
Setelah kondisi memungkinkan, siswa diarahkan untuk melakukan evakuasi secara tertib menuju tempat yang aman serta menghindari bangunan yang rusak, tiang listrik, maupun benda-benda lain yang berpotensi membahayakan.
Namun, ada satu sesi yang justru membuka cerita lain dari para siswa. Anak-anak diminta menuliskan hal-hal yang mungkin sulit mereka sampaikan secara langsung kepada orang lain. Tulisan itu tidak dibatasi hanya pada pengalaman tentang gempa atau bencana.
Bagi TBM Misir Tengah, menulis menjadi salah satu cara untuk memberikan ruang aman kepada anak-anak agar dapat mengungkapkan perasaan, ketakutan, pengalaman, maupun persoalan yang mereka hadapi.
“Kami membuat mereka menulis apa yang tidak bisa mereka ceritakan. Bukan hanya tentang gempa, tetapi juga hal-hal lain yang mungkin mereka alami, seperti pelecehan, kekerasan, atau persoalan lainnya yang tidak bisa mereka ceritakan kepada siapa pun. Mereka bisa menyampaikannya melalui tulisan,” kata Hubertina.
Menariknya, ketika tulisan para siswa dibaca dan ditelaah, muncul persoalan yang tidak secara langsung berkaitan dengan tema kebencanaan.
Perundungan atau bullying justru menjadi salah satu persoalan yang paling menonjol dalam tulisan siswa. Sedikitnya terdapat lima siswa yang menuliskan persoalan di luar tema utama yang sedang dibahas. Alih-alih hanya bercerita mengenai gempa dan kesiapsiagaan bencana, mereka memilih menuliskan pengalaman terkait perundungan.
Temuan tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi TBM Misir Tengah. Pasalnya, edukasi mengenai anti-bullying sebenarnya telah dilakukan di sejumlah sekolah sebelumnya. Namun, melalui kegiatan menulis, anak-anak kembali menunjukkan bahwa persoalan perundungan masih menjadi isu yang dekat dengan kehidupan mereka dan membutuhkan perhatian serius dari lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
“Ketika kami meminta mereka menulis tentang kebencanaan, ternyata mereka tidak hanya fokus pada bencana. Ada sekitar lima siswa yang justru menulis tentang persoalan bullying. Ini menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang mereka alami,” ujar Hubertina.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kegiatan literasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai aktivitas membaca dan menulis. Literasi juga harus menjadi jalan bagi anak-anak untuk mengenali persoalan, memahami lingkungan, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan pengalaman yang mereka alami. Karena itu, taman baca, menurut Hubertina, memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar tempat menyediakan buku.
“Taman baca harus menjadi ruang bertemu. Anak-anak bisa datang, membaca, belajar, bercerita, bahkan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Dari sana kita bisa melihat kebutuhan mereka dan bersama-sama mencari jalan keluarnya,” katanya.
Kepala sekolah SMP Swasta Katolik Maria Kanisia , Heniberta Ritvina, S.pd., menyambut baik kegiatan tersebut. Sekolah mengapresiasi keterlibatan TBM Misir Tengah dan DPP Paroki Misir yang telah memberikan pengalaman belajar sekaligus edukasi tambahan kepada para siswa.
Bagi Heniberta kegiatan semacam ini memberikan pengalaman berbeda bagi peserta didik. Proses belajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui interaksi, diskusi, kegiatan literasi, serta pengalaman nyata yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Di tengah kondisi pascagempa, edukasi kesiapsiagaan menjadi semakin penting. Anak-anak tidak hanya perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga perlu dibiasakan mengenali risiko, tetap tenang, mengikuti arahan orang dewasa, dan memperoleh informasi dari sumber yang dapat dipercaya.
Untuk informasi terkait gempa dan potensi bencana, masyarakat juga diingatkan agar merujuk pada informasi resmi dari lembaga berwenang, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pada akhirnya, kegiatan di SMP Swasta Katolik Maria Kanisia memperlihatkan bahwa literasi dapat mengambil peran yang jauh lebih besar dalam kehidupan anak-anak.
Di satu sisi, mereka belajar bagaimana menyelamatkan diri ketika bencana terjadi. Di sisi lain, mereka belajar bahwa perasaan dan pengalaman yang sulit disampaikan secara lisan tetap memiliki ruang untuk didengar.
Sebab, kesiapsiagaan tidak hanya berarti mengetahui ke mana harus berlari ketika bencana datang. Kesiapsiagaan juga berarti membangun keberanian untuk mengenali masalah, saling menjaga, dan memastikan tidak ada anak yang menghadapi ketakutannya seorang diri.
Dari taman baca di Misir, budaya membaca perlahan berkembang menjadi budaya siaga, budaya peduli, dan budaya saling melindungi. Buku membuka pengetahuan. Literasi memberi keberanian. Dan kepedulian membuat pengetahuan itu menjadi berarti bagi kehidupan. ***ah


