SIKKA, MUTIARA TIMUR — Tujuh hari setelah gempa bumi mengguncang Flores, ribuan lilin dinyalakan di Lapangan Detumage, Paroki Santa Maria dari Gunung Karmel Wolofeo. Bukan sekadar cahaya yang menerangi malam, melainkan tanda duka, doa, dan solidaritas untuk mereka yang menjadi korban bencana.
Umat bersama Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Maria dari Gunung Karmel Wolofeo menggelar doa bersama dan aksi seribu lilin untuk mengenang para korban gempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Sejak pukul 19.00 WITA, Lapangan Detumage dipadati umat. Mereka datang dengan satu niat: mendoakan para korban, terutama mereka yang kehilangan anggota keluarga, mengalami luka, trauma, maupun kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Kegiatan berlangsung hingga sekitar pukul 22.30 WITA. Suasana malam itu berubah menjadi hening ketika satu per satu lilin dinyalakan. Cahaya kecil dari tangan umat menyatu menjadi simbol harapan bagi saudara-saudari yang sedang melewati masa sulit setelah gempa.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pastor Paroki Santa Maria dari Gunung Karmel Wolofeo, Pater Jhon Koten, CRSP, serta Pastor Vikaris Parokial, RD. Karel Pehe.
Fr. Mariano Vianey Deporez, selaku pendamping kegiatan, mengatakan rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Pater Jhon Koten, CRSP.
Dalam renungannya, Pater Jhon mengajak umat tidak berhenti pada doa, tetapi menerjemahkan kepedulian itu dalam tindakan nyata. Solidaritas, kata dia, menjadi bagian penting dalam menghadapi penderitaan akibat bencana.
Umat diajak mendoakan mereka yang kehilangan sanak saudara, terluka, mengalami trauma, maupun menghadapi kesulitan setelah gempa. Doa tersebut diharapkan menjadi sumber kekuatan, kesabaran, dan ketabahan bagi para korban untuk melewati masa sulit.
Setelah renungan, umat dan OMK diberi kesempatan menyalakan serta memasang lilin dalam aksi seribu lilin. Cahaya lilin kemudian memenuhi Lapangan Detumage.
Rangkaian doa ditutup dengan doa penutup dan berkat oleh Pater Jhon Koten. Namun solidaritas umat Wolofeo tidak berhenti pada doa.
Setelah aksi seribu lilin, kegiatan dilanjutkan dengan penggalangan dana bagi korban gempa Flores. Dana yang terkumpul nantinya akan disalurkan kepada korban yang dinilai paling membutuhkan, terutama mereka yang hingga kini belum mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun lembaga sosial lainnya.
Antusiasme umat terlihat dari banyaknya donasi yang diberikan. Dari tangan ke tangan, bantuan dikumpulkan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang sedang menghadapi dampak bencana.
Ketua panitia, Anselmus Derua, mengatakan kegiatan tersebut memiliki dua pesan utama, yakni mendoakan para korban gempa sekaligus menggalang bantuan bagi mereka yang terdampak.
"Kami ingin mendoakan para korban dan menunjukkan bahwa mereka tidak sendiri. Kami juga berharap bantuan yang terkumpul dapat menjangkau saudara-saudari yang benar-benar membutuhkan," ujarnya.
Anselmus juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada korban yang hingga kini masih membutuhkan bantuan.
Bagi umat Wolofeo, malam itu bukan sekadar kegiatan keagamaan. Seribu lilin menjadi cara sederhana untuk mengatakan bahwa di tengah bencana, penderitaan orang lain bukan urusan mereka seorang.
Ketika cahaya lilin memenuhi Lapangan Detumage, doa dan solidaritas berjalan beriringan.
Sebab setelah bencana datang, yang dibutuhkan korban bukan hanya tempat untuk berteduh, tetapi juga keyakinan bahwa mereka masih memiliki saudara yang peduli. **ah



