SIKKA, MUTIARA TIMUR – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026, tidak berhenti ketika tanah kembali diam.
Di Dusun Wolowukak, Desa Iligai, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, gempa meninggalkan rumah-rumah yang rusak, dinding yang runtuh, kayu penyangga yang patah, dan rasa aman yang ikut roboh bersama bangunan.
Sejumlah keluarga kini harus menatap rumah mereka dengan perasaan berbeda. Tempat yang selama ini menjadi ruang berlindung berubah menjadi bangunan yang membuat mereka waswas, terutama ketika gempa susulan kembali terasa.
Maria Ernestina Da Rato, warga Wolowukak, mengatakan masyarakat terdampak masih membutuhkan perhatian dan bantuan dari berbagai pihak.
“Semoga pemerintah memberi bantuan karena kondisi warga yang terdampak sangat memprihatinkan. Kiranya bantuan dapat tiba dan merata bagi semua warga yang terdampak,” ujar Maria.
Di Dusun Wolowukak, sedikitnya 10 rumah dilaporkan mengalami kerusakan parah. Mereka yang terdampak tersebar di tiga RT, yakni RT 10/RW 003, RT 11/RW 004, dan RT 12/RW 004.
Berikut warga yang rumahnya dilaporkan mengalami kerusakan parah:
1. Ibu Alexia – RT 10/RW 003
2. Ariyanto Nong Beni – RT 10/RW 003
3. Egenius Enus– RT 10/RW 003
4. Apolonia Da Untung – RT 10/RW 003
5. Yanuarius Reging – RT 11/RW 004
6. Mikael Sareng Jeda – RT 11/RW 004
7. Matheus Sulaiman Nong Lus – RT 12/RW 004
8. Henderikus Nong Lehan – RT 12/RW 004
9. Egenius Edison – RT 12/RW 004
10. Samason Lasani– RT 12/RW 004
Kerusakan itu bukan sekadar retakan kecil. Dari kondisi bangunan di lokasi, sejumlah bagian rumah tampak ambruk. Dinding pecah dan roboh, rangka kayu bergeser, sementara material bangunan berserakan di tanah. Sebagian rumah bahkan tampak hanya bertahan dengan konstruksi seadanya. Di tengah keterbatasan itu, Pemerintah Desa Iligai telah berupaya hadir di tengah warganya.
Bantuan sembako telah disalurkan kepada warga terdampak, termasuk bagi 10 rumah yang mengalami kerusakan parah. Bantuan tersebut berupa beras satu kilogram, enam butir telur, satu liter minyak goreng, empat bungkus mi instan, serta air minum kemasan.
Bantuan itu memang belum mampu mengembalikan rumah yang rusak. Namun bagi warga yang sedang berada dalam situasi sulit, kehadiran bantuan menjadi tanda bahwa masih ada perhatian dan kepedulian setelah bencana datang.
Bantuan kemudian kembali diterima warga dari BNPB dan Caritas dalam bentuk kebutuhan pokok.
Maria mengapresiasi bantuan yang telah diberikan. Namun ia berharap kepedulian itu terus bergerak karena kebutuhan warga terdampak masih panjang.
“Harapan kami, warga yang terdampak bisa mendapat bantuan dari pemerintah,” katanya.
Harapan tersebut kini bukan hanya ditujukan kepada pemerintah. Warga Wolowukak membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, organisasi sosial, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat yang memiliki kemampuan untuk membantu diharapkan dapat bersama-sama meringankan beban mereka.
Sebab kebutuhan warga tidak berhenti pada makanan. Ada rumah yang harus diperbaiki. Ada keluarga yang membutuhkan tempat tinggal yang aman. Ada anak-anak yang harus kembali tidur tanpa rasa takut. Ada orang tua yang setiap malam masih memikirkan apakah rumah yang mereka tempati mampu bertahan jika gempa kembali datang.
Di Wolowukak, puing-puing rumah mungkin bisa dibersihkan. Kayu yang patah bisa diganti. Dinding yang runtuh suatu hari dapat dibangun kembali.
Tetapi rasa kehilangan dan ketakutan membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Karena itu, bantuan sekecil apa pun memiliki arti bagi mereka.
Bukan semata soal beras, telur, minyak, atau mi instan. Lebih dari itu, bantuan adalah pesan bahwa warga Wolowukak tidak sendirian menghadapi hari-hari panjang setelah gempa.
Hari ini, mereka tidak sedang meminta belas kasihan. Mereka hanya berharap ada lebih banyak tangan yang datang membantu mereka berdiri kembali.
Dan ketika rumah-rumah itu kelak dibangun ulang, semoga bukan hanya dinding yang kembali tegak, tetapi juga rasa aman dan harapan keluarga-keluarga di Wolowukak. **ah

