![]() |
| Wali Kota Kupang Bersama Guru Pembina dan Murid-Murid SD Inpres Nasipanaf Penari Menenun |
Dalam sambutannya, Christian menggambarkan Kota Kupang sebagai sebuah harmoni yang tercipta dari berbagai perbedaan. Menurutnya, keberagaman masyarakat Kota Kupang ibarat nada dalam sebuah lagu yang memiliki tinggi dan rendah, namun ketika ditempatkan secara tepat akan menghasilkan musik yang indah.
“Harmoni itu bukan sama atau seragam, tetapi seimbang. Layaknya nada-nada dalam sebuah lagu, dia berbeda-beda, tetapi begitu ditaruh di dalam sebuah tempat yang pas, dengan proporsi yang pas, dia menjadi harmoni yang indah,” ungkap Christian.
Ia kemudian mengibaratkan keberagaman Kota Kupang dengan kain tenun yang dikenakan masyarakat dalam festival tersebut.
“Begitu pula tenun yang Bapak-Ibu pakai ini. Dia terdiri dari berbagai macam benang, berbagai macam warna, tetapi ditaruh di kain dengan proporsi yang pas, dia menjadi harmoni yang indah. Itulah Kota Kupang yang sebenarnya,” katanya.
Menurut Christian, masyarakat Kota Kupang memang tidak dilahirkan dalam kondisi yang sama. Ada yang berasal dari suku Timor, Rote, Sabu dan berbagai latar belakang lainnya. Begitu pula dengan agama, budaya, warna kulit hingga karakter setiap orang yang berbeda.
Perbedaan tersebut, kata dia, bukan sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan harus dirawat agar menjadi kekuatan bersama.
“Persatuan itu bukan menjadi sama, tetapi berjalan bersama meskipun berbeda,” tegasnya.
Christian menilai Festival Budaya Multi-Etnis Kelurahan Penfui menjadi salah satu contoh nyata bagaimana keberagaman dapat dirawat melalui kegiatan kebudayaan.
Ia bahkan menyebut Kelurahan Penfui sebagai salah satu kelurahan unggulan sekaligus miniatur Kota Kupang karena masyarakatnya hidup dalam keberagaman suku, agama dan etnis.
“Penfui ini adalah salah satu kelurahan yang unggul. Juga ini adalah miniaturnya Kota Kupang. Karena di Penfui ini kita terdiri dari multi-etnis, multi-agama, multi-suku, multi-ras,” ujarnya.
Christian juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Kelurahan Penfui yang telah menggelar Festival Budaya Multi-Etnis.
Ia mengaku memiliki agenda yang cukup padat pada hari tersebut, dengan sekitar delapan kegiatan yang harus dihadiri. Namun, ia meminta protokol untuk tetap memberikan waktu agar dirinya dapat hadir di Penfui.
“Saya dilakukan protokol, pokoknya bagaimanapun caranya, 10 menit, 15 menit saya harus hadir di sini. Ini bentuk cinta dan sayang saya untuk warga Kelurahan Penfui,” ungkapnya.
Menurutnya, kehadirannya bukan sekadar memenuhi agenda pemerintahan, tetapi sebagai bentuk penghargaan secara langsung kepada masyarakat Penfui yang terus menjaga keberagaman dan persatuan.
Atas nama Pemerintah Kota Kupang, Christian menyampaikan terima kasih kepada panitia, pemerintah kelurahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, pelaku seni, UMKM serta seluruh warga yang terlibat dalam festival tersebut.
Kemerdekaan Bukan Sekadar Bebas dari Penjajahan
Dalam kesempatan itu, Christian juga mengajak masyarakat memaknai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia secara lebih luas.
Menurutnya, kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan terbebasnya Indonesia dari penjajahan, tetapi harus diwujudkan melalui perjuangan mengatasi berbagai persoalan bangsa.
“Merayakan kemerdekaan itu bukan tentang merayakan hari terbebas dari penjajahan saja. Tapi merayakan kemerdekaan itu adalah tentang apa yang kita lakukan mengisi kemerdekaan yang sudah diperjuangkan itu,” katanya.
Ia menyebut sejumlah tantangan yang masih dihadapi bangsa saat ini, seperti kemiskinan, kebodohan, pengangguran dan ketidakadilan.
“Kita menghadapi kemiskinan yang memiskinkan harapan. Kita menghadapi kebodohan yang membatasi langkah. Kita menghadapi pengangguran yang melemahkan daya juang. Kita menghadapi ketidakadilan yang menghancurkan persatuan,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa dengan mengisi kemerdekaan melalui kerja nyata, termasuk menjaga persatuan dan keberagaman.
Menurutnya, festival budaya merupakan salah satu cara sederhana namun penting untuk mengisi kemerdekaan karena mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam suasana kebersamaan.
“Ini salah satu cara mengisi kemerdekaan tadi. Ini mempererat persatuan,” katanya.
Doakan Korban Gempa Flores
Christian juga mengajak seluruh masyarakat yang hadir untuk mendoakan saudara-saudara mereka yang sedang terdampak bencana gempa bumi di Pulau Flores.
Ia berharap masyarakat yang terdampak bencana diberikan perlindungan, kekuatan dan keselamatan dalam menghadapi musibah tersebut.
“Kita turut mendoakan saudara-saudari kita yang sedang terdampak bencana gempa bumi di Pulau Flores. Kiranya Tuhan selalu melindungi saudara-saudari kita,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Christian kembali mengajak seluruh masyarakat menjaga persatuan dan keberagaman Kota Kupang.
“Keberagaman di Kota Kupang tidak pernah menjadi penghalang, selalu menjadi kekuatan. Tidak pernah menjadi jarak pemisah, tetapi selalu menjadi jembatan. Itulah Kota Kupang yang kita cintai. Kita jaga terus persatuan di Kota Kupang, kita jaga terus keberagaman ini, kita hidup dalam harmoni,” pungkasnya.
Festival Budaya Multi-Etnis Kelurahan Penfui pun menjadi gambaran nyata pesan tersebut: seperti nada yang berbeda namun menghasilkan lagu yang indah, dan seperti kain tenun yang tersusun dari berbagai benang dan warna tetapi melahirkan satu karya yang harmonis. **Usgo





