SIKKA, MUTIARA TIMUR — Medan yang sulit dan akses yang terbatas tidak menyurutkan langkah Tim Relawan Kemanusiaan Flores Timur untuk menjangkau warga terdampak gempa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka.
Setelah menempuh perjalanan dengan kondisi medan yang cukup ekstrem, sembilan relawan akhirnya tiba di Dusun Tomu, Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue, pada pukul 23.57 WITA. Lima relawan datang dari Flores Timur, sementara empat lainnya berasal dari Maumere.
Kedatangan mereka bukan sekadar perjalanan biasa. Di tengah situasi pascagempa yang masih membutuhkan perhatian dan akses menuju sejumlah wilayah yang belum mudah dilalui, para relawan membawa bantuan untuk warga yang membutuhkan.
Setibanya di Dusun Tomu, tim langsung mendistribusikan bantuan kepada 27 kepala keluarga atau 124 jiwa yang terdampak gempa tektonik.
Bantuan tersebut difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa tanggap darurat. Sebanyak 27 karung beras masing-masing 5 kilogram, 27 botol minyak goreng ukuran 600 mililiter, 27 kilogram gula pasir, 27 bungkus kopi bubuk masing-masing 500 gram, serta 27 papan telur ayam disalurkan kepada warga.
Selain kebutuhan pangan, relawan juga membawa 7 lembar selimut besar, 12 lembar tikar besar, 5 botol minyak telon, 27 dus air kemasan, serta 27 gelas air minum.
Kebutuhan pangan warga turut dilengkapi dengan ikan kering, garam, bawang merah, bawang putih, dan buah labu sebagai bahan makanan tambahan.
Menembus Akses Sulit
Direktur Yayasan Nusa Lestari Hijau (YASNURIH) sekaligus Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kabupaten Flores Timur, Bung Sila, mengatakan penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi situasi darurat.
Menurutnya, bantuan sengaja diantar langsung hingga ke lokasi agar dapat diterima oleh warga yang benar-benar membutuhkan, meskipun tim harus menghadapi medan dan akses yang tidak mudah.
"Kami berusaha memastikan bantuan tidak hanya berhenti di tempat yang mudah dijangkau. Ketika ada warga yang membutuhkan dan aksesnya sulit, di situlah solidaritas harus hadir," ujar Bung Sila.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bergandengan tangan mendukung aksi kemanusiaan tersebut.
Dukungan datang dari Rukun Megu Mo'ong Maumere-Manado, SILC Mokantarak, SILC Blepanawa, SILC Wolo, SILC Lewomuda, SILC Bama, SILC Larantuka, SILC Beloaja, anggota Forum PRB Flores Timur, YKS, Puan Indonesia, AKPERSI, Yayasan Gloria, YASNURIH, serta Relawan YASNURIH Maumere.
Solidaritas Menembus Batas Wilayah
Bagi para relawan, perjalanan menuju Dusun Tomu bukan sekadar membawa beras, air minum, selimut atau kebutuhan pokok lainnya. Perjalanan itu menjadi pesan bahwa warga terdampak bencana, termasuk mereka yang tinggal di wilayah dengan akses sulit, tidak berjalan sendirian.
Malam semakin larut ketika tim tiba di Dusun Tomu. Namun rasa lelah setelah melewati perjalanan panjang seakan terbayar ketika bantuan mulai diterima oleh keluarga-keluarga terdampak.
Di tengah medan yang berat dan kondisi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih, solidaritas justru menemukan jalannya.
Dari Flores Timur menuju Palue, bantuan bergerak menembus batas wilayah, membawa bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga pesan bahwa kepedulian selalu menemukan jalan untuk sampai kepada mereka yang membutuhkan. **ah

