SIKKA, MUTIARA TIMUR — Tangannya masih kecil. Tubuhnya pun belum sekuat orang dewasa. Namun, langkah Kamilus De Flores Nusantara, bocah tujuh tahun yang akrab disapa Nusantara, membawa pesan kemanusiaan yang besar.
Siswa kelas II SDK La Mennais Larantuka, Flores Timur, itu awalnya hanya penasaran dengan cerita tentang gempa bumi yang sering didengarnya dari orang tua.
“Bapa, sebenarnya gempa itu apa? Kenapa rumah bisa runtuh? Kenapa bangunan bisa hancur?” tanyanya kepada sang ayah, Bung Sila, yang tengah aktif dalam kegiatan kemanusiaan dan respons tanggap darurat pascagempa.
Nusantara bahkan sempat berkomentar polos ketika melihat foto-foto kerusakan akibat gempa.
“Kasihan ya, rumah-rumah hancur seperti digusur,” katanya.
Bung Sila kemudian mencoba menjelaskan kepada putranya bahwa gempa bumi terjadi akibat pergerakan di dalam bumi yang dapat menimbulkan guncangan kuat dan merusak bangunan. Namun, penjelasan itu rupanya belum cukup.
Bagi Nusantara, bumi yang selama ini ia pijak terasa begitu kokoh. Sulit baginya membayangkan bagaimana tanah dapat bergerak sedemikian kuat hingga membuat rumah dan bangunan roboh.
Rasa penasaran itu akhirnya membawanya pada sebuah pengalaman yang jauh lebih besar daripada sekadar penjelasan di rumah.
Dari Larantuka Menuju Palue
Dengan izin orang tuanya, Nusantara ikut dalam perjalanan kemanusiaan menuju wilayah terdampak gempa di Dusun Tomu, Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue.
Di tempat terpencil itu, ia melihat langsung bagaimana bencana mengubah kehidupan masyarakat. Sebanyak 27 kepala keluarga atau 124 jiwa tinggal dalam kondisi yang membutuhkan perhatian dan bantuan. Di antara mereka terdapat lima balita, 17 anak-anak, 30 lansia, serta enam penyandang disabilitas. Untuk pertama kalinya, apa yang selama ini hanya ia dengar dari cerita berubah menjadi kenyataan di depan matanya.
Ia melihat rumah-rumah yang rusak. Ia melihat warga yang harus bertahan dalam keterbatasan. Ia melihat anak-anak seusianya yang membutuhkan perhatian dan perlindungan. Namun Nusantara datang bukan hanya untuk melihat.
Pukul 23.57 WITA
Malam telah larut ketika sebuah mobil pikap membawa bantuan logistik dari Tim Relawan Kemanusiaan Flores Timur tiba di lokasi. Jam menunjukkan sekitar 23.57 WITA. Ketika bantuan mulai diturunkan, Nusantara ikut bergerak. Dengan tenaga yang dimilikinya, ia membantu menurunkan karung beras seberat lima kilogram dari atas mobil. Beras itu kemudian ia serahkan kepada warga terdampak gempa.
Bagi orang dewasa, mungkin pemandangan itu terlihat sederhana. Tetapi bagi warga Dusun Tomu, kehadiran seorang bocah dari Larantuka yang rela ikut membantu di tengah malam memiliki arti tersendiri.
Ada kebahagiaan. Ada kebanggaan. Ada pula rasa terhibur. Nusantara mungkin hanya mengangkat satu karung beras. Tetapi tindakan kecil itu menyampaikan pesan besar: bahwa kepedulian tidak mengenal usia.
Belajar Empati dari Bencana
Malam itu Nusantara akhirnya memahami sesuatu yang mungkin tidak pernah ia dapatkan hanya dari buku pelajaran. Gempa bukan sekadar tanah yang berguncang.
Di balik guncangan itu ada rumah yang rusak, keluarga yang kehilangan rasa aman, anak-anak yang membutuhkan perlindungan, serta orang-orang tua yang harus bertahan dalam situasi sulit.
Ia belajar bahwa ketika orang lain mengalami kesulitan, kita tidak harus menunggu menjadi dewasa untuk berbuat sesuatu. Kita bisa mulai dari hal kecil.
Datang. Melihat. Mendengar. Membantu.
Bung Sila mengatakan bahwa anak-anak perlu dikenalkan pada nilai empati sejak usia dini.
Menurutnya, anak tidak cukup hanya diajarkan tentang kebaikan melalui kata-kata. Mereka juga perlu diberi kesempatan untuk melihat secara langsung kehidupan orang lain yang sedang mengalami kesulitan.
“Anak-anak perlu belajar bahwa kemanusiaan bukan hanya tentang berbicara mengenai kebaikan, tetapi juga tentang hadir dan melakukan sesuatu ketika orang lain membutuhkan,” demikian pesan yang ingin ditanamkan Bung Sila kepada putranya.
Pelajaran dari Seorang Bocah Flores
Kehadiran Nusantara di Dusun Tomu ternyata meninggalkan kesan bagi warga. Bocah yang datang jauh dari Larantuka itu menjadi perhatian tersendiri. Di tengah suasana sulit pascabencana, kehadirannya membawa keceriaan sekaligus semangat. Usianya baru tujuh tahun. Tangannya masih kecil.
Ia belum mampu memperbaiki rumah yang rusak. Belum mampu membangun kembali bangunan yang hancur. Belum mampu melakukan pekerjaan besar seperti orang dewasa. Namun, hari itu Nusantara telah melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan berarti.
Ia datang. Ia melihat. Ia belajar. Dan ia ikut berbagi. Dari rasa penasaran tentang gempa, seorang bocah belajar tentang penderitaan. Dari perjalanan ke wilayah terdampak bencana, ia belajar tentang kepedulian. Dan dari sebuah karung beras yang ia angkat dengan kedua tangannya, ia belajar tentang arti berbagi kepada sesama.
Barangkali itulah pelajaran kemanusiaan yang paling berharga. Bahwa empati tidak menunggu usia dewasa. Kadang-kadang, pesan kemanusiaan justru datang dari tangan kecil seorang anak. Nusantara, bocah tujuh tahun dari Flores, yang mengajarkan bahwa kepedulian tidak mengenal usia. **ah


