SIKKA, MUTIARA TIMUR — Di Dobo, Desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, gempa tidak hanya meninggalkan retakan pada dinding rumah. Puluhan bak penampungan air warga ikut pecah. Air yang semestinya disimpan untuk kebutuhan sehari-hari justru tumpah bersama rasa aman yang ikut runtuh.
Kondisi itu kini menambah beban warga yang sejak awal memang tidak memiliki sumber mata air di wilayah permukiman mereka.
Warga Dobo selama ini mengandalkan air hujan untuk mengisi bak penampungan. Ketika persediaan tidak mencukupi, mereka terpaksa membeli air menggunakan mobil tangki dengan harga sekitar Rp250 ribu hingga Rp350 ribu untuk sekali pengiriman.
Namun setelah gempa, persoalannya menjadi lebih berat. Sejumlah bak air mengalami kerusakan dan tidak lagi mampu menampung air dengan baik.
Ibu Onci, warga Dobo, mengatakan kerusakan bak penampungan terjadi setelah gempa mengguncang wilayah tersebut. Bagi warga, kerusakan itu bukan sekadar persoalan bangunan, melainkan menyangkut kebutuhan paling dasar: air untuk minum, memasak dan kebutuhan rumah tangga.
“Puluhan bak air pecah akibat gempa. Kami di sini tidak ada mata air. Selama ini kami mengandalkan air hujan dan kalau tidak ada, kami harus membeli air tangki,” kata Onci kepada Mutiara Timur.
Menurut dia, kondisi warga semakin sulit karena sebagian rumah juga terdampak gempa. Di tengah ketakutan untuk kembali ke rumah, warga kini harus memikirkan bagaimana mendapatkan air bersih.
Yang membuat warga semakin kecewa, hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah yang secara langsung menyentuh kebutuhan mereka.
Onci mengatakan bantuan yang sudah diterima warga justru datang dari komunitas Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Caritas. Bantuan tersebut, menurut dia, sangat berarti bagi warga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar setelah bencana.
“Kemarin kami mendapat bantuan dari AMAN dan Caritas. Itu juga karena ada pemberitaan dari media Mutiara Timur. Kalau tidak diberitakan, mungkin kami belum tersentuh bantuan,” ujarnya.
Ia tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Yang diharapkan warga hanya perhatian terhadap kondisi mereka setelah gempa.
“Kami tidak menuntut yang mewah-mewah. Kami hanya butuh negara hadir dalam situasi seperti ini,” kata Onci.
Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang keadaan warga Dobo. Mereka tidak sedang meminta kemewahan. Mereka sedang mencari air.
Di tempat yang tidak memiliki mata air, sebuah bak penampungan bukan sekadar bangunan beton. Ia adalah cadangan kehidupan. Ketika bak itu pecah, yang hilang bukan hanya air, tetapi juga persediaan untuk bertahan menghadapi hari-hari setelah bencana.
Gempa mungkin telah berhenti mengguncang tanah. Namun bagi warga Dobo, dampaknya masih terasa setiap kali mereka melihat bak air yang retak, rumah yang rusak dan harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah hanya untuk mendatangkan air.
Kini pertanyaannya bukan lagi kapan gempa berakhir. Bagi warga Dobo, pertanyaan yang lebih mendesak adalah: siapa yang akan membantu mereka mendapatkan kembali air yang hilang? **ah
