Aksi tersebut berlangsung di Watuwawer, Desa Atakore, Kecamatan Atadei. Pemangku adat, kepala suku Wawin dan Puhun selaku tuan tanah, tokoh agama yang diwakili Rm. Firminus Dai Koban, Kelompok Perempuan Akar Rumput Ina Kar serta Kelompok Warga Peduli Ahar yang dikoordinasikan Konstantinus Kepolok Huar, hadir dalam kegiatan tersebut. Tiga papan dipasang sebagai penanda sikap warga terhadap rencana pembangunan PLTP Atadei.
Sebelum papan pertama dipancangkan, pemangku adat terlebih dahulu menjalankan ritual adat yang dipimpin Yohanes Lagar Lejap selaku molan atau pembuat ritual adat.
Ritual diawali dengan durut tuak dan makan sirih pinang. Seekor ayam jantan kemudian dipotong dan darahnya dipercikkan pada tiga papan penolakan. Bagi pemangku adat, ritual tersebut menjadi bagian dari pengukuhan keputusan bersama yang berkaitan dengan tanah dan kehidupan masyarakat.
Tiga papan penolakan dipasang di tiga lokasi. Papan pertama ditempatkan di Petun, simpang Lewokoba yang menjadi pintu masuk Desa Atakore. Papan kedua dipasang di Genek, tepat di jalan utama Desa Atakore. Sementara papan ketiga ditempatkan di pintu masuk kawasan wisata Dapur Alam Atakore, yang berada di wilayah panas bumi.
Setelah pemasangan papan, Kelompok Perempuan Akar Rumput Ina Kar dan Kelompok Warga Peduli Ahar membacakan deklarasi penolakan pembangunan PLTP Atadei.
Koordinator PAR Ina Kar, Yohana Simo Huar, mengatakan pemasangan papan tersebut merupakan bentuk pernyataan terbuka warga Atakore terhadap rencana pembangunan PLTP.
Menurut dia, sikap tersebut sekaligus untuk memperkuat keputusan adat yang telah disepakati masyarakat.
“Tanah, air dan kehidupan tidak dapat diperjualbelikan,” menjadi salah satu pesan utama yang dibawa kelompok perempuan dalam deklarasi tersebut.
Yohana mengatakan suara perempuan perlu ditempatkan dalam setiap keputusan yang menyangkut tanah, sumber air dan masa depan generasi berikutnya. Perempuan, kata dia, memiliki posisi penting sebagai penjaga sumber kehidupan keluarga dan masyarakat.
Deklarasi itu juga menuntut pemerintah dan pihak pengembang menghormati keputusan adat serta kehendak warga Atakore.
Mereka meminta tidak ada upaya pemecahbelahan, tekanan maupun paksaan terhadap masyarakat.
Warga juga menyerukan agar kesatuan masyarakat tetap dijaga dalam mempertahankan tanah dan sumber air.
Penolakan bahkan ditegaskan melalui seruan yang dibacakan di tiga titik pemasangan papan.
Pada titik pertama, pemangku adat menyampaikan sikap singkat dan tegas: “Tak ada ruang tambang panas bumi di Atakore, tolak harga mati.”
Di titik kedua, PAR Ina Kar membacakan deklarasi dengan menempatkan tanah sebagai bagian dari kehidupan perempuan dan masyarakat.
“Tanah adalah ibu kami. Kami perempuan akar rumput Ina Kar menyatakan dengan tegas menolak tambang panas bumi Atadei. Tolak harga mati.”
Seruan kemudian dilanjutkan dengan penolakan terhadap geothermal.
“Tolak, tolak, tolak geothermal. Tolak geothermal sekarang juga.”
Pada titik ketiga, seluruh peserta menyampaikan deklarasi bersama yang juga mengaitkan sikap mereka dengan pernyataan para uskup se-provinsial Gerejawi Ende terkait penolakan geothermal.
“Kami umat Katolik Keuskupan Larantuka mendukung pernyataan para uskup se-provinsial Gerejawi Ende menolak geothermal. Tolak harga mati.”
Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 16.30 WITA. Setelah seluruh agenda selesai, peserta melakukan evaluasi dan makan bersama di kawasan wisata Dapur Alam Watuwawer.
Bagi warga yang terlibat, tiga papan tersebut bukan sekadar papan tanda di pinggir jalan. Ia menjadi simbol bahwa penolakan terhadap PLTP Atadei telah dibawa ke ruang publik dan dipasang di sejumlah pintu masuk wilayah yang mereka anggap penting.
Pesan yang ingin disampaikan pun jelas: tanah dan air bukan semata ruang ekonomi, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat dan warisan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya. Karena itu, warga Atakore berharap pemerintah dan pihak pengembang tidak mengabaikan keputusan adat serta suara masyarakat dalam setiap tahapan rencana pembangunan PLTP Atadei.
Di tengah rencana pengembangan energi panas bumi, Atakore kini memasang batas sikapnya sendiri. Tiga papan berdiri. Tiga titik menjadi penanda. Dan satu pesan yang terus diulang: “Tolak harga mati.” **ah

