Scroll untuk melanjutkan membaca
  • Kategori
  • _Nasional
  • _Daerah
  • _Politik
  • _Hukum Kriminal
Mutiara-timur.com

Mutiara-timur.com

  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • POLITIK
  • HUKUM KRIMINAL
  • EKONOMI
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • Beranda
  • Budaya

Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba

  • Lebih kecil
  • Bawaan
  • Lebih besar
Bagikan:

KUPANG, MUTIARA TIMUR — Festival Budaya Kelurahan Liliba Rabu, (12/8/2026) tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan kekayaan seni dan budaya masyarakat Timor. Di tengah kemeriahan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, festival ini juga menghadirkan pesan penting tentang ketahanan dan kedaulatan pangan melalui cipta pangan lokal, salah satunya proses pembuatan makanan tradisional jagung bose.

Di atas panggung festival, sejumlah ibu mengenakan pakaian adat Timor tampil bersama berbagai peralatan masak tradisional. Jagung lokal, kacang-kacangan, kelapa dan bahan pangan lainnya disiapkan untuk memperagakan secara langsung proses pembuatan jagung bose.

Seorang pemandu di depan mikrofon menjelaskan setiap tahapan kepada masyarakat yang hadir. Bukan sekadar demonstrasi memasak, proses tersebut dikemas sebagai bagian dari upaya mengenalkan kembali nilai budaya dan filosofi pangan lokal kepada generasi muda.

“Jagung bukan sekadar pengganjal perut. Jagung adalah napas kehidupan, denyut sejarah dan simbol kesabaran manusia yang menyatu dengan alam kering yang setia memberi berkat,” demikian pesan yang disampaikan dalam prosesi tersebut.

Dalam budaya Timor, kata “bose” bermakna dilembutkan atau dipecahkan. Makna tersebut kemudian dimaknai sebagai metafora tentang bagaimana kerasnya tantangan kehidupan di tanah karang dapat ditaklukkan melalui ketekunan, kesabaran dan semangat gotong royong.

Proses pembuatan jagung bose diawali dengan memilih jagung tua, umumnya jagung putih atau kuning lokal.

Biji jagung yang telah kering kemudian dipipil atau diluruhkan, lalu dimasukkan ke dalam lesung kayu untuk ditumbuk menggunakan alu.

Di panggung, gerakan tangan para ibu yang menumbuk jagung menjadi perhatian tersendiri. Irama alu yang dipukulkan secara berulang menghasilkan bunyi khas yang terdengar ritmis.

Penumbukan dilakukan secara konstan dan penuh tenaga, namun tetap membutuhkan kesabaran. Tujuannya untuk melepaskan kulit ari dari bulir jagung.

Setelah kulit ari terkelupas, jagung kemudian ditampi untuk memisahkan kotoran dan pecahan yang tidak diperlukan.

Tahapan ini tidak hanya memiliki makna dalam proses memasak, tetapi juga menyimpan filosofi tentang kehidupan, yakni bagaimana manusia perlu menyaring berbagai hal, membuang yang tidak baik dan mempertahankan sesuatu yang esensial.

Tahap berikutnya adalah perendaman dan persiapan campuran.

Jagung yang telah ditumbuk dan dibersihkan kemudian dipersiapkan untuk dimasak. Bersamaan dengan itu, disiapkan pula sejumlah bahan pendamping seperti kacang tanah lokal, kacang hijau dan kacang nasi.

Kacang-kacangan tersebut bukan hanya berfungsi sebagai pelengkap rasa, tetapi juga memperkaya kandungan pangan. Jagung sebagai sumber karbohidrat dipadukan dengan protein nabati dari kacang-kacangan sehingga menghasilkan makanan yang mengenyangkan sekaligus bernilai gizi.

Tahap selanjutnya adalah pemasakan dan penyatuan bahan.

Seluruh bahan dimasukkan ke dalam periuk besar bersama air. Daun pandan turut ditambahkan untuk memberikan aroma khas.

Pada tahap ini, kesabaran kembali menjadi bagian penting. Air perlahan menyusut, sementara butiran jagung dan kacang-kacangan mulai merekah, melunak dan menyatu hingga membentuk tekstur bubur yang padat.

Menjelang matang, santan kelapa murni yang diperoleh dari kelapa tua dituangkan ke dalam periuk.

Santan kemudian diaduk perlahan agar meresap sempurna. Dari proses tersebut lahirlah tekstur jagung bose yang kental, gurih dan lembut dengan aroma khas pangan tradisional Timor.

Sedikit garam ditambahkan untuk menyeimbangkan rasa.

Setelah melalui seluruh tahapan, jagung bose akhirnya matang dan siap disajikan.

Dari panggung Festival Budaya Kelurahan Liliba, hidangan tersebut tidak hanya menghadirkan kelezatan makanan tradisional, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga pangan lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat.

Jagung bose menjadi pengingat bahwa kekayaan pangan masyarakat Nusa Tenggara Timur tidak selalu harus bergantung pada bahan pangan dari luar daerah. Ada kekayaan yang telah diwariskan leluhur dan tumbuh dari tanah sendiri.

Momentum perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun dimaknai bukan hanya dengan hiburan dan pertunjukan seni, tetapi juga dengan merawat ingatan, melestarikan tradisi dan meneguhkan semangat kemandirian pangan.

Festival Budaya Liliba akhirnya menjadi ruang perjumpaan antara budaya, pangan dan generasi. Tradisi memasak yang mungkin dahulu sangat akrab dalam kehidupan masyarakat kini kembali diperkenalkan di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus digitalisasi.

Pesan yang disampaikan pun sederhana namun kuat: budaya harus tetap hidup, pangan lokal harus dihargai, dan generasi muda tidak boleh kehilangan akar tradisinya.

“Nekaf mese, ansaf mese”—satu hati, satu jiwa, sehati dan sepikir.

Dari Liliba, pesan budaya itu kembali digaungkan: merawat tradisi berarti merawat identitas. Salam budaya dan Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka! ***usgo 



Baca Juga
Tag:
  • Budaya
Bagikan:
Berita Terkait
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
Berita Terbaru
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
  • Jagung Bose Hidupkan Cipta Pangan Lokal di Festival Budaya Liliba
Tampilkan lebih banyak
Posting Komentar
Batal








Terpopuler
  • Wali Kota Kupang Lantik 148 Pejabat, Para Lurah Diwanti-Wanti Jalankan Tugas dan Jaga Integritas

  • Mobil Dijanjikan Dijual ke Ende, Malah Digadaikan Rp30 Juta; Pelapor Menanti Langkah Polres Sikka

  • Ironi Pelabuhan Tenau: Taksi Online Tak Boleh Masuk, Penumpang Harus Jalan Kaki Keluar Pelabuhan

  • “Mau Sampai Kapan?” Kendaraan Online Dilarang Masuk Tenau, Netizen Tagih Peran Pemerintah dan DPRD NTT

  • Juara 6 Lomba Seni Menari Tingkat SD, Kepala SD Inpres Oesapa Kecil 1 Siap Bangun Sanggar Budaya

Mutiara Timur Sponsor
Artikel Lainnya
Tutup Iklan
Mutiara Timur
Mutiara dari timur
  • Tentang Kami
  • Langganan
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik
  • Info Kerjasama
  • Karir
Copyright © 2025 Mutiara Timur from Nusacloudhost.com. All rights reserved.