TAIPEI – Komitmen Pemerintah Kota Kupang dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan terus diperkuat. Melalui kunjungan studi di Taiwan, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kota Kupang membuka peluang kerja sama dan transfer teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy), pengelolaan air minum, serta penerapan ekonomi sirkular.
Kegiatan yang berlangsung pada 5–8 Agustus 2026 itu difasilitasi Taiwan–Indonesia Science and Technology Innovation Center (TI-STIC) dan diikuti delegasi dari Indonesia, termasuk Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa.
Perwakilan TI-STIC, Fenty Zhong, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kerja sama Taiwan dan Indonesia di bidang pengolahan sampah menjadi energi, sirkulasi sumber daya, serta pengembangan ekonomi sirkular.
Selain mempererat hubungan kedua negara, kegiatan ini juga menjadi forum diskusi teknis berbasis lokasi mengenai penerapan teknologi, tata kelola, persyaratan operasional, perlindungan lingkungan, hingga berbagai tantangan implementasi dalam pengelolaan sampah dan air.
"Untuk belajar dari pengalaman Taiwan dalam pengomposan yang dipercepat enzim, operasi pengolahan limbah menjadi energi, dan manajemen pengolahan air minum kota," ujar Fenty Zhong.
Menurutnya, pengalaman Taiwan dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah daerah di Indonesia dalam membangun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal lahirnya kolaborasi yang lebih luas antara Indonesia dan Taiwan, baik dalam bentuk penelitian bersama, transfer teknologi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, proyek percontohan, maupun investasi di sektor pengelolaan limbah, energi, dan air.
Sementara itu, Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa, menyampaikan apresiasi kepada TI-STIC yang telah memfasilitasi kunjungan pembelajaran tersebut.
Menurut Isidorus, pengalaman melihat secara langsung berbagai fasilitas pengolahan sampah, energi, dan air di Taiwan memberikan perspektif baru mengenai bagaimana teknologi dapat diintegrasikan dalam pelayanan publik yang berkelanjutan.
"Dengan melihat langsung di lapangan, kami mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang keterkaitan antara pengelolaan limbah, pemulihan energi, keberlanjutan air, dan implementasi ekonomi sirkular," kata Isidorus.
Ia menilai berbagai inovasi yang diterapkan di Taiwan memiliki banyak aspek yang dapat menjadi inspirasi bagi Kota Kupang dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah, keterbatasan sumber daya air, dan kebutuhan energi yang terus meningkat.
Lebih lanjut, Isidorus berharap hubungan yang telah terjalin antara para pemangku kepentingan Indonesia dan Taiwan tidak berhenti pada kegiatan kunjungan studi, tetapi berkembang menjadi kerja sama nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Harapan kami, jaringan antara pemangku kepentingan Indonesia dan Taiwan maupun stakeholder lainnya dapat terus berkolaborasi melalui berbagai program yang melibatkan Pemerintah Kota Kupang dan Perumda Air Minum Kota Kupang. Kami optimistis kolaborasi ini akan membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga investasi di bidang pengelolaan limbah, energi, dan air yang mendukung pembangunan Kota Kupang secara berkelanjutan," pungkasnya. **usgo
