SIKKA, MUTIARA TIMUR — Medali memang berkilau. Tetapi jalan menuju podium tak selalu semeriah tepuk tangan ketika kemenangan tiba. Bagi 10 atlet Taekwondo Derina Winners Club (DWC) Kabupaten Sikka, perjalanan ke Kejuaraan Nasional Piala Danrem 052/WKR di Indoor Stadion Tangerang, Banten, menjadi cerita tentang prestasi yang dibangun dari keterbatasan. Mereka pulang membawa 8 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu.
Namun ada satu hal yang tak ikut naik ke podium: dukungan pemerintah daerah. Pelatih sekaligus Ketua DWC, Derina Da Cunha, mengatakan keberangkatan para atlet ke tingkat nasional tidak ditopang anggaran Pemerintah Kabupaten Sikka. Biaya perjalanan dan kebutuhan selama mengikuti kejuaraan ditanggung secara swadaya, terutama melalui patungan orang tua atlet.
Bagi Derina, persoalan ini bukan semata soal uang. Yang dipertanyakan adalah cara pemerintah memandang pembinaan olahraga.
Ia membandingkan perhatian yang diterima olahraga sepak bola dengan perjuangan atlet Taekwondo. Saat pertandingan sepak bola berlangsung di Gelora Samador Maumere, kata dia, perhatian pemerintah daerah terlihat begitu besar. Bahkan, Bupati Sikka disebut mendatangi penginapan tim tamu dari luar daerah untuk menyerahkan bantuan logistik berupa beras dan kebutuhan lainnya.
Sementara itu, 10 anak Sikka yang harus menyeberang pulau untuk mengharumkan nama daerah di panggung nasional justru berangkat dengan biaya sendiri.
"Harapan kami kepada Pemda Sikka lebih respek dan peka terhadap atlet yang berprestasi di setiap cabang olahraga, bukan hanya cabang tertentu," kata Derina.
Ironi itu semakin terasa ketika para atlet pulang membawa medali. Nama Sikka ikut disebut. Prestasi mereka menjadi kebanggaan daerah.
Tetapi sebelum medali itu tergantung di leher, ada orang tua yang merogoh kocek. Ada pelatih yang mengurus keberangkatan. Ada atlet yang berlatih keras dengan fasilitas yang terbatas. Ada pula perjalanan panjang menuju Pulau Jawa yang harus ditempuh dengan biaya sendiri.
Di titik inilah pertanyaan tentang pembinaan olahraga menjadi penting: apakah pemerintah hadir sejak atlet mulai berjuang, atau baru muncul ketika kemenangan sudah menjadi kabar baik bagi daerah?
Derina berharap pemerintah tidak menjadikan popularitas cabang olahraga atau jumlah penonton sebagai ukuran utama dalam memberikan perhatian.
Menurut dia, prestasi semestinya menjadi dasar yang lebih penting. Atlet dari cabang olahraga apa pun yang membawa nama Sikka ke tingkat regional, nasional, bahkan internasional, layak mendapatkan perhatian dan dukungan yang setara.
Sepuluh atlet DWC itu telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berprestasi.
Enam atlet menyumbangkan medali emas. Mereka adalah Salvatores Yosri Siga dari SDK Ili, Yoseph Valderiano Laka dari SDK Bhaktyarsa 143 Maumere, Elisabeth Zhavera Lealuther dari SMP Negeri 1 Maumere yang meraih dua emas, Luciana Rosalia Desvianti dari SDK 007 Kewapante, Vinsensia Yuliva Aslinda dari SMA Negeri 3 Maumere yang meraih dua emas di nomor Kyorugi dan Poomsae, serta Syifa Nurfadila dari SMA Negeri 2 Maumere. Satu medali perak dipersembahkan Kristyan Dewanta Putra dari SMAK Frateran Maumere.
Tiga medali perunggu diraih Yohanes Wilfin Parera dari SMA Negeri 1 Maumere, Paskalia Mafrida Melani Putri dari SMP Negeri 1 Maumere, dan Azalea Malikha Dzahin dari MIS Al-Muhajirin.
Dari ruang latihan hingga arena pertandingan di Tangerang, mereka membawa satu hal yang sama: nama Sikka.
Kini, setelah 12 medali itu dibawa pulang, persoalannya bukan lagi apakah atlet-atlet muda itu mampu berprestasi. Mereka sudah membuktikannya.
Pertanyaannya justru apakah daerah akan melihat mereka sebagai aset olahraga yang harus dibina, atau sekadar nama yang disebut ketika medali sudah berada di tangan.
Sebab dalam olahraga, kemenangan bukan dimulai ketika atlet berdiri di podium. Kemenangan dimulai jauh sebelumnya, ketika seorang anak memutuskan berlatih, ketika orang tua membayar ongkos keberangkatan, dan ketika seorang pelatih tetap mendampingi meski dukungan belum datang.
Sepuluh anak Sikka itu sudah menunjukkan jalan. Kini giliran pemerintah daerah menentukan apakah mereka akan berjalan sendirian atau didampingi **ah
