SIKKA, MUTIARA TIMUR – Pemerataan perhatian Pemerintah Kabupaten Sikka terhadap dunia olahraga patut dipertanyakan. Ketika turnamen sepak bola mendapat sorotan dan dukungan, 10 atlet Taekwondo Derina Winners Club (DWC) yang membawa nama Sikka ke tingkat nasional justru harus berangkat dengan dana pribadi dan swadaya orang tua.
Ironinya, pemerintah daerah tampak begitu mudah hadir ketika sebuah kegiatan olahraga sudah ramai, tetapi belum tentu hadir ketika atlet membutuhkan dukungan untuk berangkat dan bertanding.
Pelatih sekaligus Ketua DWC, Derina Da Cunha, mengaku kecewa. Ia berharap pemerintah tidak menjadikan popularitas cabang olahraga sebagai ukuran dalam memberikan perhatian.
“Harapan kami kepada Pemda Sikka lebih respek dan peka terhadap atlet yang berprestasi di setiap cabang olahraga, bukan hanya cabang tertentu,” ujar Derina.
Kekecewaan itu muncul setelah ia membandingkan perlakuan terhadap tim sepak bola yang mengikuti turnamen di Gelora Samador Maumere. Menurut Derina, Bupati Sikka bahkan datang ke tempat penginapan salah satu tim dari luar daerah dan memberikan bantuan beras serta kebutuhan lainnya.
Sementara 10 atlet Sikka yang akan bertanding di tingkat nasional harus mengandalkan biaya sendiri.
“Kalau tim sepak bola yang sedang menjalankan turnamen di Gelora Samador bisa mendapat perhatian, kenapa kami juga tidak diperlakukan sama? Jujur, kami cukup kecewa,” katanya.
Padahal, para atlet tersebut tidak pergi berwisata. Mereka membawa nama Sikka ke Kejuaraan Nasional Piala Danrem O52/WKR di Tangerang, Banten.
Bahkan selama perjalanan, para atlet tetap menjalani latihan tiga kali sehari. Pagi, siang dan sore. Semua dilakukan dengan satu tujuan: bertanding maksimal dan membawa pulang prestasi.
Di titik inilah pemerintah daerah layak ditanya: apakah perhatian pemerintah terhadap olahraga hanya diberikan kepada cabang yang ramai ditonton, sementara atlet dari cabang lain dibiarkan berjuang dengan biaya orang tua?
Jika pemerintah daerah tidak mampu memberikan bantuan besar, setidaknya jangan sampai muncul kesan bahwa perhatian pemerintah hanya tertuju pada cabang olahraga tertentu.
Sebab, ketika seorang atlet naik podium dan nama Sikka disebut, pemerintah tentu akan ikut bangga. Tetapi sebelum medali itu diraih, ada orang tua yang mengeluarkan biaya, ada pelatih yang berkorban waktu, dan ada atlet yang berlatih keras tanpa kepastian dukungan pemerintah.
Jangan sampai ketika menang, mereka disebut atlet Sikka; tetapi ketika berjuang, mereka dianggap urusan klub dan orang tua. Kritik ini bukan untuk mempertentangkan sepak bola dengan Taekwondo. Sepak bola tetap layak mendapat dukungan. Namun cabang olahraga lain juga memiliki hak yang sama untuk diperhatikan secara proporsional.
Pemerintah seharusnya hadir bukan hanya saat pertandingan berlangsung dan kamera menyala. Pemerintah mestinya hadir sejak atlet mulai berjuang. Karena prestasi olahraga tidak lahir dari tepuk tangan pejabat. Ia lahir dari latihan, pengorbanan dan dukungan yang diberikan jauh sebelum seorang atlet berdiri di podium. **arishalilintar
