Maumere – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di SMK Negeri Habibola, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial. Sekolah tersebut memilih menghadirkan pelatihan keterampilan hidup (life skill) melalui program "Bamboo Goes to School", sebuah kegiatan yang bertujuan membekali peserta didik dengan kemampuan praktis, jiwa kewirausahaan, serta kepedulian terhadap pemanfaatan sumber daya alam lokal.
Kegiatan yang berlangsung selama satu hari itu diikuti oleh 32 siswa dan 17 guru. Seluruh peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan, mulai dari pengenalan bahan baku bambu hingga praktik langsung merancang dan membuat berbagai produk furnitur berbahan bambu.
Pelatihan menghadirkan Sebastianus Leo sebagai instruktur utama, didampingi Koordinator Yayasan Bambu Kabupaten Sikka, Ibu Yuyun, serta dua fasilitator desa, Margaretha dan Mario.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan berbagai teknik dasar pengolahan bambu, mulai dari mengukur, memotong, merancang desain, merakit, memasang, mengikat, memaku, hingga proses finishing menggunakan vernis. Dari proses itu, peserta berhasil mempraktikkan pembuatan berbagai produk furnitur seperti meja, kursi, dan lemari tamu.
Kepala SMKN Habibola menjelaskan, sekolahnya dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program "Bamboo Goes to School" karena merupakan sekolah kejuruan yang baru berdiri dengan dua konsentrasi keahlian, yakni Pertanian dan Pariwisata. Melalui pelatihan tersebut, siswa diharapkan memiliki keterampilan yang dapat menunjang kompetensi sesuai jurusan yang mereka tempuh.
"SMKN Habibola dipersiapkan menjadi sekolah yang mampu melahirkan lulusan yang terampil, mandiri, berwirausaha, dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Karena itu, keterampilan seperti ini sangat relevan untuk membangun karakter dan kemampuan peserta didik," jelasnya.
Ia mengatakan, program tersebut bukan sekadar pelatihan sehari, tetapi menjadi langkah awal menjadikan SMKN Habibola sebagai pilot project pengembangan usaha berbasis pendidikan vokasi di Kabupaten Sikka.
Sekolah ini memiliki lahan praktik seluas kurang lebih 20.300 meter persegi atau sekitar dua hektare, yang akan dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran berbasis praktik di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan pariwisata.
Potensi alam di sekitar sekolah juga dinilai sangat mendukung pengembangan program tersebut. Kawasan sekitar SMKN Habibola memiliki berbagai sumber daya alam dan destinasi wisata, seperti Kali Waihawa, Pasir Putih Nenbura, Ogor Paret, Dalam Elat, Gua Ketemu, Gua Kelelawar, Tanjung Watukrus, hingga Tebing Magemot.
Ke depan, pelatihan akan dilaksanakan secara berkelanjutan setiap hari Sabtu. Materi yang diberikan juga akan diperluas, tidak hanya pembuatan furnitur bambu, tetapi juga pembangunan lopo, homestay, kandang ayam, kandang babi, kolam ikan, hingga berbagai sarana pendukung sektor pertanian dan pariwisata dengan memanfaatkan bahan-bahan alami seperti bambu, rotan, dan kayu.
Pengurus Komite Sekolah bersama para orang tua siswa menyambut positif program tersebut. Mereka berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai pelatihan sesaat, melainkan terus dikembangkan melalui kerja sama resmi antara sekolah dengan Yayasan Bambu Lestari Lingkungan Indonesia.
Rencananya, kerja sama tersebut akan dituangkan dalam bentuk Nota Kesepahaman (MoU) sehingga program dapat masuk sebagai kegiatan kokurikuler maupun muatan lokal berupa kerajinan tangan.
Selain itu, pengembangan program juga akan diarahkan pada usaha hortikultura, peternakan, perikanan, dan pariwisata dengan melibatkan siswa, guru, serta para pemuda di sekitar sekolah.
"Kami berharap pelatihan ini menjadi program berkelanjutan. Anak-anak perlu dibekali keterampilan hidup agar setelah lulus mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha sendiri," ungkap perwakilan Komite Sekolah.
Pelaksanaan kegiatan turut dipantau langsung oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Wilayah IV, Rofinus Laga Lamawato, S.H. Hadir pula jajaran pengurus Komite SMKN Habibola, di antaranya Fransiskus Moa, Dominikus Domi, Angelinus Engel, Vitalis Yulianus, serta para orang tua siswa.
Melalui peringatan Hari Anak Nasional 2026, SMKN Habibola menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Sekolah berupaya menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan potensi daerah, sehingga peserta didik memiliki keterampilan nyata, karakter mandiri, dan kesiapan membangun masa depan sekaligus mengembangkan potensi lokal Kabupaten Sikka. **ah
